Suara.com - Bencana alam dan cuaca ekstrem kini telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Dampaknya tak hanya terasa di angka kerugian ekonomi, tapi juga dalam luka yang ditinggalkan pada manusia dan komunitas.
Dalam laporan terbarunya, Climate Risks: Strategies for Building Resilience in a More Volatile World, Zurich Insurance Group (Zurich) memotret situasi ini dengan tajam. Selama satu dekade terakhir, kerugian ekonomi akibat badai, banjir, dan kebakaran hutan mencapai USD 2 triliun. Lebih dari 1,6 miliar orang terdampak langsung. Dan tren ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Data terbaru menyebut, dalam dua tahun terakhir saja (2022–2023), kerugian global akibat cuaca ekstrem melonjak hingga USD 451 miliar. Angka ini naik 19 persen dibandingkan rata-rata tahunan delapan tahun sebelumnya. Kerusakan bukan hanya terjadi pada bangunan atau infrastruktur, tetapi juga merembet ke sektor usaha, pertanian, bahkan kesehatan masyarakat.
Faktor-faktor penyebabnya kompleks. Dari urbanisasi cepat, pertumbuhan populasi di wilayah rawan bencana, hingga perubahan iklim jangka panjang yang mengubah suhu rata-rata global, permukaan laut, dan pola hujan. Semua itu berkontribusi pada ketidakpastian dan kerentanan yang makin tinggi.
“Ketahanan tidak dibangun setelah bencana datang. Ia harus dipersiapkan sejak awal,” ujar Kabilarang Sinabang, Chief Risk Officer Zurich Indonesia.
Menurutnya, industri asuransi bisa menjadi aktor penting, bukan hanya dalam memberi perlindungan, tetapi juga mendidik publik dan mendorong pencegahan.
Namun kenyataannya, perlindungan asuransi saat ini belum menjangkau semua pihak. Banyak rumah tangga, pelaku usaha, dan bahkan pemerintah daerah masih belum cukup terlindungi.
Inilah yang kemudian melahirkan “daerah tanpa asuransi”—wilayah rawan bencana yang minim perlindungan finansial.
Menurut, Kabilarang Sinabang, asuransi memiliki peran penting dalam melindungi rumah tangga, pelaku usaha, dan pemerintah dari kerugian finansial akibat bencana. Akan tetapi, cakupan perlindungan asuransi belum mampu mengimbangi besarnya potensi kerugian, mengakibatkan semakin banyak pihak yang kurang atau tidak terlindungi.
Baca Juga: Indonesia Krisis Iklim: Forum Internasional Soroti Pentingnya Pemimpin Daerah Berani Ambil Tindakan
"Kami mendorong pendekatan baru yang menitikberatkan pada pengurangan risiko dan perluasan jangkauan perlindungan asuransi.
Tiga Langkah Menuju Ketahanan Iklim
Zurich menyerukan kolaborasi lintas sektor. Tidak cukup hanya mengandalkan perusahaan asuransi. Diperlukan peran aktif pemerintah dan pelaku industri lainnya untuk mencegah risiko sebelum kerusakan terjadi.
Ada tiga rekomendasi utama dalam laporan ini:
Investasi dalam Pencegahan dan Pengurangan Risiko
Pemerintah diminta menyusun strategi ketahanan iklim yang kuat. Termasuk memperketat regulasi tata ruang, menerapkan standar bangunan tahan bencana, dan membentuk pusat kompetensi nasional. Pemanfaatan teknologi dan data sains sangat dibutuhkan dalam proses ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Digeruduk Yakuza Mangenes, Pengasuh Ponpes Pekalongan Ditangkap usai Diduga Cabuli 25 Santri
-
Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
-
Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan
-
Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump
-
Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi