Suara.com - Di ujung utara planet ini, tempat angin berbisik di antara hamparan es dan cahaya aurora menari lembut di langit malam, hidup salah satu makhluk paling megah di dunia: beruang kutub. Dikenal secara ilmiah sebagai Ursus maritimus, hewan ini bukan hanya predator puncak di Arktik, tetapi juga simbol penting dari perubahan iklim yang semakin nyata.
Beruang kutub bukan hewan biasa. Mereka dibekali bulu transparan yang tampak putih, serta lapisan lemak tebal untuk bertahan dalam suhu ekstrem. Tubuh mereka, yang bisa mencapai berat hingga 680 kg, dirancang untuk mengarungi medan beku, memburu anjing laut, dan hidup di atas es laut. Sayangnya, es itu kini cepat mencair.
Perubahan iklim membuat musim dingin menjadi lebih pendek. Es laut, yang dulu kokoh selama sebagian besar tahun, kini datang terlambat dan pergi lebih awal. Artinya, waktu beruang kutub untuk berburu semakin sempit. Makanan sulit didapat. Energi menipis.
Beruang-beruang ini menghabiskan lebih banyak waktu di daratan, di mana sumber makanan mereka sangat terbatas. Penelitian di Manitoba Barat menunjukkan bahwa selama berada di darat, beberapa beruang kehilangan hingga 11% dari berat tubuhnya. Mereka mencoba bertahan dengan mencari tumbuhan atau buah, bahkan berenang jauh. Tapi upaya itu tidak cukup.
Saat ini, populasi global beruang kutub diperkirakan antara 22.000 hingga 31.000 individu. Angka ini terdengar besar. Tapi ketika habitat mereka menyusut tiap tahun, keberadaan mereka benar-benar terancam. Mereka diklasifikasikan sebagai spesies “Rentan” oleh IUCN.
Namun, ini bukan hanya soal kehilangan satu spesies. Ini soal ekosistem yang rapuh dan saling bergantung.
Beruang kutub adalah indikator penting dari kesehatan Arktik. Jika mereka tidak bisa bertahan, itu pertanda ada yang sangat salah dengan sistem planet kita.
Gunung Es Mencair Lebih Cepat, Risiko Global Meningkat
Gunung es di seluruh dunia mencair dengan kecepatan yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Baca Juga: Viral Pendaki Booking Lahan Camping Gunung Merbabu, Bareng Yura Yunita cs?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000, bumi telah kehilangan lebih dari 6.500 miliar ton es—setara dengan sekitar 5% total cadangan es dunia. Penemuan ini berdasarkan lebih dari 230 laporan oleh 35 tim peneliti internasional.
Angka itu setara dengan hilangnya 270 miliar ton es setiap tahun. Untuk membayangkannya: jumlah ini sebanding dengan konsumsi air semua orang di dunia selama tiga dekade, jika tiap orang minum tiga liter per hari.
Mencairnya Gunung Es
Mencairnya es bukan hanya soal perubahan lanskap. Ini soal hidup dan bertahan.
Gunung es menyimpan air tawar yang menjadi tumpuan hidup ratusan juta orang, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Mereka ibarat “bank air”—melepas cadangan air secara perlahan saat musim panas, ketika kebutuhan melonjak. Jika cadangan ini menghilang, banyak kawasan menghadapi ancaman kekeringan parah.
Tak hanya itu. Es yang mencair juga berarti naiknya permukaan laut. Satu sentimeter kenaikan mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya besar. Dua juta orang tambahan berisiko terkena banjir tahunan hanya karena kenaikan setipis itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
BNI Pastikan Koperasi Swadharma Berdiri Sendiri di Luar Struktur Bank
-
BRIN dan Wanadri Siapkan Misi Selamatkan Terumbu Karang Pulau Buru yang Hancur Akibat Bom Ikan
-
Belajar dari Kasus Little Aresha, Ini 3 Cara Cek Legalitas Daycare dan PAUD Agar Anak Aman
-
Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Wanita 53 Tahun Pengidap Stroke Tewas Terjebak Dalam Rumah
-
Gus Ipul: Persiapan Muktamar NU Terus Berjalan, Tim Panel Tuntaskan SK Sebelum Agustus
-
Niat Lindungi Anak dari Amukan Ibu, Anggota TNI Berpangkat Peltu Malah Dikeroyok di Stasiun Depok
-
Pelaku Penembakan Acara Trump Terungkap, Foto Kenakan Kaos IDF Israel Viral
-
Gubernur Pramono Bahas Rencana Konser BTS 2026 Saat Temui Wakil Wali Kota Seoul
-
Candaan Jubir Gedung Putih Viral Usai Insiden Penembakan, Bak Prediksi Masa Depan
-
Tring Golden Run 2026, Pegadaian Gaungkan Investasi Emas Lewat Event Lari dan Pegadaian Peduli