Suara.com - Penegakan hukum lingkungan di Indonesia kembali menunjukkan taringnya. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berhasil memenangkan gugatan perdata senilai hampir Rp48 miliar terhadap dua perusahaan tambang nikel yang terbukti merusak kawasan hutan lindung di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Kemenangan ini bukan sekadar capaian hukum, melainkan pesan kuat bahwa pelaku perusakan lingkungan tidak bisa lagi berlindung di balik dalih investasi dan pembangunan.
Putusan tersebut dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada 5 Juni 2025. Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai Ida Bagus Dwi Yantara, bersama Nelson Pasaribu dan Multining Dyah Ely Mariani, mengabulkan sebagian gugatan banding KLH/BPLH terhadap PT James & Armando Pundimas (PT JAP) dan PT Bhima Amarta Mining (PT BAM), serta menghukum keduanya membayar ganti rugi ekologis dan ekonomis sebesar Rp47.972.808.539.
"Gugatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menurunkan tingkat pelanggaran terhadap lingkungan hidup. Ini adalah wujud nyata perjuangan negara untuk menegakkan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang layak, bersih, dan sehat," ujar Dodi Kurniawan, Direktur Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup sekaligus Kuasa Hukum Menteri LH/Kepala BPLH, melansir ANTARA, Rabu (18/6/2025).
Mengapa Hukuman Berat Diperlukan?
Perusakan hutan lindung bukan hanya soal hilangnya pepohonan di atas kertas. Dampak ekologisnya menjalar jauh: rusaknya habitat satwa liar, terganggunya siklus air, meningkatnya risiko banjir dan longsor, hingga hilangnya sumber penghidupan masyarakat adat dan lokal yang bergantung pada kelestarian hutan.
Dalam kasus PT JAP dan PT BAM, aktivitas ilegal mereka terbukti mencemari dan merusak lingkungan di area seluas 2,8 hektare.
Jika tidak dihukum tegas, praktik seperti ini berpotensi menciptakan preseden berbahaya: bahwa pelanggaran bisa dinegosiasikan, bahwa keuntungan lebih penting daripada keberlanjutan. Itulah sebabnya penghukuman berat menjadi elemen penting dalam strategi penegakan hukum yang efektif.
Hukuman ini harus menimbulkan efek jera serta mendorong pelaku usaha untuk menempatkan perlindungan lingkungan sebagai pilar utama dalam operasional mereka.
Baca Juga: Dorong Solusi Krisis Mikroplastik: Greenpeace Ajak KLH Perkuat Regulasi Berbasis Sains dan Keadilan
Kronologi Kasus
Gugatan ini bermula sejak 2021, ketika KLH menemukan alat berat beroperasi di kawasan Hutan Produksi Desa Lamondowo, Kecamatan Andowia, Konawe Utara. Penambangan dilakukan tanpa izin dan melanggar batas wilayah kehutanan yang dilindungi hukum.
Direktur PT JAP sebelumnya telah dijatuhi vonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Kendari atas pelanggaran pidana pendudukan kawasan hutan secara ilegal pada 2022.
Berdasarkan fakta tersebut, KLH/BPLH mengajukan gugatan perdata pada 29 Desember 2023 ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun sayangnya, gugatan itu ditolak melalui putusan Nomor 8/PDT.G/LH/2024/PN Jkt.Pst pada 21 Februari 2025. KLH tidak menyerah. Langkah banding ke Pengadilan Tinggi pun ditempuh—dan membuahkan hasil.
Momentum Perubahan: Dari Penindakan ke Pencegahan
Menurut Dodi Kurniawan, kemenangan ini menjadi tonggak penting yang menandai keseriusan pemerintah dalam menangani kerusakan lingkungan akibat industri ekstraktif. Lebih dari sekadar denda, ini adalah pernyataan bahwa negara hadir untuk memperjuangkan keadilan ekologis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
IHSG 'Kebakaran' di Awal Februari, Menkeu Purbaya: Ada Faktor Ketidakpastian!
-
Pupuk Indonesia Pugar Pabrik Tua, Mentan Amran Bilang Begini
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
Terkini
-
Kasus Dugaan Penghinaan Suku Toraja Naik Penyidikan, Status Hukum Pandji Tunggu Gelar Perkara
-
Semeru Erupsi Dini Hari, Kolom Abu Capai 700 Meter di Atas Puncak
-
Keluarga Habib Bahar Balik Lapor, Istri Anggota Banser Korban Penganiayaan Dituding Sebar Hoaks
-
Prabowo Minta Kepala Daerah Tertibkan Spanduk Semrawut: Mengganggu Keindahan!
-
Prakiraan BMKG: Awan Tebal dan Guyuran Hujan di Langit Jakarta Hari Ini
-
Apresiasi KLH, Shanty PDIP Ingatkan Pentingnya Investigasi Objektif dan Pemulihan Trauma Warga
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
-
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Rp701 Juta dari Pemenang Tender Chromebook
-
Skandal Suap Jalur Kereta Api, KPK Cecar Direktur Kemenhub Jumardi Soal Aliran Dana dan Tender