Suara.com - Tatkala sirene meraung-raung dan ancaman rudal Iran memaksa semua orang mencari perlindungan, krisis lain yang lebih busuk justru muncul ke permukaan di Israel.
Laporan-laporan dari berbagai kota mengungkap pemandangan memilukan: warga Israel sendiri ditolak masuk ke dalam bunker hanya karena etnisitas dan warna kulit mereka.
Pengamat-pengamat mengungkap inilah wajah asli dari Israel, yang kerap memproklamirkan diri sebagai "satu-satunya demokrasi di Timur Tengah".
Ketika ketakutan akan serangan balasan mencengkeram, ruang-ruang perlindungan bawah tanah alias bunker yang seharusnya menjadi tempat aman bagi semua warga negara, justru berubah menjadi arena segregasi dan rasisme yang terang-terangan.
Puluhan kesaksian yang menyebar di media sosial dan dilaporkan oleh aktivis hak asasi manusia melukiskan gambaran yang suram.
Di kota-kota seperti Tel Aviv, Ashdod, dan Beersheba, keluarga-keluarga Arab-Israel—yang notabene adalah warga negara sah—diusir dan dilarang masuk ke bunker-bunker publik maupun yang berada di gedung apartemen pribadi.
Alasan yang diberikan seringkali brutal dan tanpa tedeng aling-aling: "Bunker ini hanya untuk orang Yahudi."
Jeritan dari Warga yang Dianggap "Liyan"
Ironi yang paling pahit adalah, rudal tidak memilih target berdasarkan agama atau etnis.
Baca Juga: Israel Tuduh Iran Serang RS Soroka, Pengamat Ungkap Fakta Mengejutkan!
Namun, di darat, manusia justru menciptakan diskriminasi mereka sendiri.
Seorang warga Palestina berkewarganegaraan Israel dari Jaffa berbagi pengalamannya dengan getir.
"Kami berlari bersama anak-anak kami saat mendengar sirine. Kami mencoba masuk ke bunker di gedung sebelah, tapi seorang pria menghalangi pintu dan berteriak, 'Tidak ada tempat untuk orang Arab di sini!'" kata dia.
"Di momen itu, saya lebih takut pada tetangga Yahudi saya daripada pada rudal di atas kepala saya. Mereka melihat kami sebagai musuh internal, bukan sebagai sesama warga negara yang juga ketakutan," ungkapnya kepada sebuah LSM lokal.
Fenomena ini bukanlah hal baru dan tidak hanya menimpa warga Arab.
Komunitas Yahudi Ethiopia (Beta Israel) juga telah lama melaporkan perlakuan diskriminatif serupa.
Berita Terkait
-
Israel Tuduh Iran Serang RS Soroka, Pengamat Ungkap Fakta Mengejutkan!
-
Tangisan Warga Israel Ratapi Rumah Hancur, Minta Iran Hentikan Serangan Rudal
-
Rudal Iran Hantam Kelab Khusus Gay di Tel Aviv, Sisakan Bendera Pelangi
-
Perisai Tak Terduga: Saat Raja Yordania Keturunan Nabi Tembak Jatuh Drone Iran untuk Israel
-
Kabur ke Prancis, Warga Israel Diteriaki 'Free Palestine'
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai