Suara.com - Tragedi meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani menyisakan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar di benak publik. Salah satu yang paling ramai diperbincangkan di media sosial adalah: "Kenapa tim SAR tidak menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban secara langsung dari dasar jurang?"
Pertanyaan yang tampak sederhana ini ternyata memiliki jawaban teknis yang kompleks. Pengamat penerbangan terkemuka, Gerry Soejatman, memberikan penjelasan mendetail yang membantah asumsi bahwa evakuasi udara bisa dilakukan semudah itu. Menurutnya, ada faktor ketinggian dan batas kemampuan helikopter yang menjadi penghalang mutlak.
Penjelasan itu ia unggah di laman X (dulu Twitter) pribadinya pada Selasa (24/6/2025). Berikut penjelasannya:
Tantangan Ketinggian Ekstrem
Dalam penjelasannya, Gerry Soejatman pertama-tama menyoroti kondisi medan yang luar biasa sulit. Lokasi insiden berada di ketinggian yang sangat menantang bagi operasi penerbangan helikopter.
"Kejadian lokasi ada di ketinggian 10,000 kaki, di mana korban jatuh di lereng ke ketinggian sekitar 9400ft," tulis Gerry.
Ketinggian ini, yang setara dengan lebih dari 2.800 meter di atas permukaan laut, menjadi variabel kritis pertama yang menentukan jenis operasi penyelamatan yang bisa dilakukan. Di ketinggian seperti ini, udara menjadi lebih tipis, yang secara signifikan memengaruhi performa mesin dan daya angkat baling-baling helikopter.
Masalah Krusial: Hover di Udara Tipis
Kunci dari operasi penyelamatan menggunakan helikopter (hoisting) adalah kemampuannya untuk diam stabil di udara (hovering) saat menurunkan atau menaikkan personel dan korban. Gerry menjelaskan bahwa ada dua jenis hover yang sangat berbeda.
Baca Juga: Pendaki Brasil Dipastikan Meninggal di Gunung Rinjani, Tim SAR Ungkap Kesulitan Proses Evakuasi
"Untuk hover ada definisi kategori hover. Hover In Ground Effect (IGE) dan Hover Out of Ground Effect (OGE)," jelasnya.
Hover IGE terjadi ketika helikopter berada dekat dengan permukaan tanah datar, di mana ia mendapat bantuan "bantalan" dari tekanan udara yang dipantulkan baling-baling dari tanah. Namun, kondisi di lereng curam Rinjani sama sekali berbeda.
"Jelas lokasi korban bukan di tanah datar. Nah, kalau tidak hover IGE, ya harus hover OGE. Di sinilah kita ketemu masalahnya," kata Gerry.
Hover OGE berarti helikopter harus mempertahankan posisinya di udara tipis tanpa bantuan bantalan udara dari daratan, sebuah manuver yang membutuhkan tenaga mesin jauh lebih besar dan memiliki batas ketinggian yang lebih rendah.
Batas Kemampuan Helikopter Basarnas
Di sinilah letak inti dari persoalan. Menurut Gerry, helikopter yang dioperasikan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tidak dirancang untuk melakukan manuver Hover OGE di ketinggian lokasi korban. Ia memaparkan spesifikasi teknis dari armada yang ada.
"Helicopter yang dioperasikan BASARNAS ada: AW139 dan AS365," sebutnya.
Ia kemudian merinci batas kemampuan masing-masing heli.
"Untuk helicopter AW139, ketinggian maksimum untuk hover OGE adalah 8.130 kaki diatas permukaan laut. Untuk AS365, hover OGE maksimum bisa dilakukan di 3.740ft," katanya.
Dengan lokasi korban berada di 9.400 kaki, angka-angka ini menunjukkan sebuah fakta yang tak terbantahkan.
"Jadi di sini bisa kelihatan, heli BASARNAS tidak akan bisa melakukan hoisting rescue korban, mau cuacanya bagus sekalipun," simpul Gerry. Bahkan, ia menambahkan perbandingan dengan helikopter militer populer, "Untuk perbandingan, Blackhawk aja hover OGE max di 6.200ft," tutur dia.
Lalu mengapa pada akhirnya jenazah dievakuasi menggunakan helikopter dari Sembalun? Gerry menjelaskan bahwa kondisi di Sembalun sangat berbeda.
"Iya lah, Sembalun ketinggiannya cuman 3.000ft," ujarnya, sebuah ketinggian yang masih sangat aman bagi helikopter untuk beroperasi.
Namun, ia kembali menegaskan, "Cuman tetep, gak bisa rescue di lerengnya pakai heli ini juga." Penjelasan ini menggarisbawahi bahwa keputusan tim SAR untuk melakukan evakuasi darat yang memakan waktu berhari-hari adalah pilihan paling realistis dan aman berdasarkan keterbatasan teknis alat yang tersedia.
Berita Terkait
-
SUARA LIVE! Dugaan Korupsi Kuota Haji Gus Yaqut hingga Penemuan Juliana Pendaki Rinjani asal Brasil
-
Pendaki Brasil Dipastikan Meninggal di Gunung Rinjani, Tim SAR Ungkap Kesulitan Proses Evakuasi
-
Kronologi Lengkap Pendaki Brasil Meninggal di Gunung Rinjani, Diduga Akibat Hipotermia dan Kelelahan
-
Kronologi Jatuhnya Juliana Turis Brasil di Gunung Rinjani, Proses Evakuasi Jadi Sorotan Dunia
-
Pendaki Brasil Terjatuh di Rinjani: Evakuasi Dramatis Terhambat Cuaca!
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?
-
Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif
-
Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400
-
Chelsea Tikung Arsenal, Rekrut Morgan Rogers dengan Harga Fantastis!
-
Serangan Harimau Kembali Terjadi di Siak, Kali Ini Korbannya Pekerja Alat Berat
-
Kiamat Harga Gadget 2027? TSMC Naikkan Biaya Produksi Chip 10%, Raksasa Teknologi Mulai "Eksodus"
-
Live Malam Hari! Catat Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
-
Antam dan Galeri 24 Koreksi, Cek Harga Jual dan Buyback Emas Hari Ini di Pegadaian
-
Sepak Terjang Nanik S. Deyang Pimpin BGN, Kini Pilih Mundur Fokus Pengobatan
-
Bukan Sekadar Transportasi, KRL Mengubah Cara Saya Melihat Perjalanan Harian