News / Nasional
Kamis, 10 Juli 2025 | 13:48 WIB
Wapres, Gibran Rakabuming Raka bersama Presiden Prabowo dan Sufmi Dasco Ahmad. (Instagram)

Data sepanjang tahun 2024 hingga 2025 menunjukkan eskalasi kekerasan yang mengkhawatirkan.

Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus aktif melancarkan serangan. Tidak hanya menyasar aparat TNI-Polri, tetapi juga warga sipil, termasuk guru, tenaga kesehatan, hingga pekerja.

Beberapa wilayah seperti Kabupaten Puncak Jaya, Yahukimo, dan Intan Jaya kerap disebut sebagai zona merah operasi militer.

Kehadiran pejabat setingkat wakil presiden di wilayah ini akan menuntut operasi pengamanan super ketat yang melibatkan ribuan personel.

Risiko menjadi target, baik secara langsung maupun tidak langsung, sangatlah nyata. Beberapa pertanyaan krusial yang muncul di benak publik, khususnya anak muda yang kritis, adalah:

Protokol Keamanan: Bagaimana negara akan menjamin keselamatan seorang Wakil Presiden beserta stafnya di tengah ancaman serangan sporadis yang sulit diprediksi?

Potensi Eskalasi: Akankah kehadiran Gibran dilihat sebagai "pamer kekuatan" yang justru memprovokasi OPM untuk meningkatkan serangan, atau sebaliknya, bisa membuka celah untuk dialog?

Fokus Aparat: Apakah pengerahan sumber daya besar untuk melindungi Wapres justru akan mengurangi fokus aparat dalam melindungi pos-pos keamanan dan masyarakat di daerah terpencil?

Konflik yang berlarut-larut ini adalah akar dari lambatnya pembangunan di banyak wilayah.

Baca Juga: Komnas HAM Ungkap Banyak Konflik di Papua yang Masih Terjadi, Bisakah Diselesaikan Oleh Wapres?

Menurut data KontraS, dari akhir 2023 hingga 2024, terjadi puluhan peristiwa kekerasan yang menewaskan dan melukai warga sipil, dengan pelaku dari kedua belah pihak yang berkonflik.

Pembangunan Manusia: Apakah Kehadiran Fisik Cukup?

Pada akhirnya, tujuan utama dari semua ini adalah peningkatan kesejahteraan dan pembangunan manusia di Papua.

Secara data, ada kabar baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua pada tahun 2024 naik menjadi 73,83. Angka kemiskinan juga dilaporkan menurun.

Namun, angka rata-rata ini menutupi jurang ketimpangan yang dalam.

IPM Kota Jayapura yang mencapai 81,98 sangat kontras dengan Kabupaten Mamberamo Raya yang hanya 59,48.

Wilayah-wilayah dengan IPM terendah inilah yang sering kali menjadi basis konflik dan paling sulit dijangkau oleh layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.

Kehadiran Gibran di Papua harus lebih dari sekadar seremoni. Untuk benar-benar efektif, "berkantor di Papua" harus berarti:

Mengawal Langsung Proyek Vital: Memastikan dana Otsus benar-benar sampai ke masyarakat dalam bentuk sekolah yang layak, puskesmas yang berfungsi, dan infrastruktur yang membuka isolasi.

Membuka Ruang Dialog: Menggunakan kehadirannya untuk berdialog dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan pemuda, untuk memahami akar masalah dari perspektif mereka.

Memastikan Keamanan Warga: Menjadikan perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan keamanan yang diambil.

Gagasan Gibran adalah sebuah langkah berani yang patut diapresiasi, namun sarat dengan tantangan.

Ini adalah pertaruhan yang hasilnya akan sangat bergantung pada eksekusi di lapangan.

Apakah ini akan menjadi babak baru bagi percepatan pembangunan Papua atau hanya akan menjadi catatan kaki politik yang berisiko tinggi? Waktu yang akan menjawabnya.

Load More