News / Nasional
Kamis, 10 Juli 2025 | 16:26 WIB
Pendidikan Noe Letto yang berani sindir Bahlil. [Instagram/@sinausabrangmdp]

Noe mengaku perceraian kedua orang tuanya tidak menjadi pengalaman traumatis dalam hidupnya. Bagi dia itu adalah keputusan logis, bukan emosional semata.

"Yang terbaik emang seperti itu. kalaupun mereka pisah saya nggak merasa kehilangan apapun," terang anak pertama dari empat bersaudara ini.

Pendidikan

Bicara pendidikan, Noe Letto merupakan lulusan SDN 1 Yosomulyo, Metro, Lampung. Dia lalu mengeyam pendidikan SMP di SMP Xaverius Metro. 

Setelah itu, Noe melanjukan jenjang pendidikan menengah atas di SMAN 7 Yogyakarta. Pada tahun 1998, Noe menantang otaknya di University of Alberta Kanada di Kanada, mengambil konsentrasi Matematika.

Tak puas, ia menambah lagi satu bidang yang tak kalah rumit: Kimia. Namun, di tengah dinginnya Kanada dan kerasnya ilmu eksak, sebuah benih lain mulai tumbuh.

Ia juga mempelajari teknologi musik, sebuah persimpangan tak terduga antara seni dan sains. Ketika ia kembali ke Indonesia pada 2004, ia pulang dengan kepala yang penuh ide.

"Ide-ide tentang ilmu yang dulu saya pelajari di Kanada tak kumpulin di HP. Entah kapan punya kesempatan untuk merealisasikan ide itu," kenangnya.

Menjadi Musisi

Baca Juga: Sindir soal Korupsi hingga Moral, Kritik Telak Putra Cak Nun usai Bahlil Bilang Jangan Kufur Nikmat

Cita-citanya saat itu bukanlah menjadi bintang rock, melainkan memiliki pusat riset ilmu pengetahuan.
Lantas, bagaimana seorang calon ilmuwan bisa banting setir menjadi vokalis band ternama? Jawabannya tersembunyi dalam sebuah kaset bekas.

Pemberian dari pamannya saat ia masih SMP, sebuah kaset berisi kumpulan lagu Queen, menjadi titik baliknya.

Musik legendaris itu menggerakkan sesuatu dalam dirinya, sebuah hasrat untuk menciptakan karya yang bisa "menggerakkan rasa dan menggerakkan perasaan orang lain." Keyboard menjadi medium pertamanya.

Ironisnya, pria bersuara khas ini mengaku tak bisa bernyanyi. Perannya sebagai vokalis lahir dari keterpaksaan.

"Sebenernya aku gak iso nyanyi. Karena kebetulan saat bikin lagu, tidah ada yang nyanyi. jadi sebenernya terpaksa. lantas kemudian ketika memasuki wilayah industri, harus nyanyi," candanya.

Studio Kyai Kanjeng milik ayahnya menjadi laboratorium musiknya. Di sanalah alkimia itu terjadi.

Pengetahuan tentang mixing, mastering, dan produksi ia lahap habis. Kreativitasnya yang terasah di antara tumpukan buku sains kini bermetamorfosis menjadi lagu-lagu hits yang kita kenal hari ini.

Meski karyanya dipuja, Noe tetap membumi, sadar akan kekurangannya. Ia tak malu berguru pada siapa saja.

"Saya belajar kepada ibu Bertha. Menimba ilmu dengan siapa saja. Malah kalo ketemu Rendra, saya banyak belajar dari dia bagaimana mengangkat performance di atas panggung," akunya jujur.

Sikapnya yang matang juga tercermin saat ditanya soal narkoba, sebuah godaan yang akrab dengan dunia hiburan.

Dengan kecerdasan seorang diplomat, ia menjawab, "Semua orang tau bahwa api itu panas. Apa perlu membuktikan sendiri kalo api itu panas. Begitu juga narkoba. saya sudah melihat sendiri bagaimana efek yang ditimbulkan narkoba."

Load More