Noe mengaku perceraian kedua orang tuanya tidak menjadi pengalaman traumatis dalam hidupnya. Bagi dia itu adalah keputusan logis, bukan emosional semata.
"Yang terbaik emang seperti itu. kalaupun mereka pisah saya nggak merasa kehilangan apapun," terang anak pertama dari empat bersaudara ini.
Pendidikan
Bicara pendidikan, Noe Letto merupakan lulusan SDN 1 Yosomulyo, Metro, Lampung. Dia lalu mengeyam pendidikan SMP di SMP Xaverius Metro.
Setelah itu, Noe melanjukan jenjang pendidikan menengah atas di SMAN 7 Yogyakarta. Pada tahun 1998, Noe menantang otaknya di University of Alberta Kanada di Kanada, mengambil konsentrasi Matematika.
Tak puas, ia menambah lagi satu bidang yang tak kalah rumit: Kimia. Namun, di tengah dinginnya Kanada dan kerasnya ilmu eksak, sebuah benih lain mulai tumbuh.
Ia juga mempelajari teknologi musik, sebuah persimpangan tak terduga antara seni dan sains. Ketika ia kembali ke Indonesia pada 2004, ia pulang dengan kepala yang penuh ide.
"Ide-ide tentang ilmu yang dulu saya pelajari di Kanada tak kumpulin di HP. Entah kapan punya kesempatan untuk merealisasikan ide itu," kenangnya.
Menjadi Musisi
Baca Juga: Sindir soal Korupsi hingga Moral, Kritik Telak Putra Cak Nun usai Bahlil Bilang Jangan Kufur Nikmat
Cita-citanya saat itu bukanlah menjadi bintang rock, melainkan memiliki pusat riset ilmu pengetahuan.
Lantas, bagaimana seorang calon ilmuwan bisa banting setir menjadi vokalis band ternama? Jawabannya tersembunyi dalam sebuah kaset bekas.
Pemberian dari pamannya saat ia masih SMP, sebuah kaset berisi kumpulan lagu Queen, menjadi titik baliknya.
Musik legendaris itu menggerakkan sesuatu dalam dirinya, sebuah hasrat untuk menciptakan karya yang bisa "menggerakkan rasa dan menggerakkan perasaan orang lain." Keyboard menjadi medium pertamanya.
Ironisnya, pria bersuara khas ini mengaku tak bisa bernyanyi. Perannya sebagai vokalis lahir dari keterpaksaan.
"Sebenernya aku gak iso nyanyi. Karena kebetulan saat bikin lagu, tidah ada yang nyanyi. jadi sebenernya terpaksa. lantas kemudian ketika memasuki wilayah industri, harus nyanyi," candanya.
Studio Kyai Kanjeng milik ayahnya menjadi laboratorium musiknya. Di sanalah alkimia itu terjadi.
Berita Terkait
-
Sindir soal Korupsi hingga Moral, Kritik Telak Putra Cak Nun usai Bahlil Bilang Jangan Kufur Nikmat
-
Mendagri Minta Kementerian ESDM Berikan Relaksasi Ekspor Hasil Tambang
-
Pelaku Usaha Warteg: Jangan Cuma Harga LPG 3 Kg Satu Harga, Isi Gas Juga Harus Jelas
-
Harga LPG 3 Kg Seragam, Pelaku Usaha Warteg: Mending Pemerintah Pastikan Stok Tak Langka
-
Ngamuk di DPR Gara-gara Data Desa Tanpa Listrik Amburadul, Bahlil: Masih Mau Jadi Dirjen Kau?
Terpopuler
Pilihan
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
Terkini
-
Iran Bongkar Taktik Licik AS di Islamabad, Kesepakatan Damai Gagal di Detik Terakhir
-
RDP DPR-BPIP Diwarnai Candaan, Willy Aditya Singgung Merger NasDem-Gerindra
-
Perundingan Islamabad Buntu, Iran Siap Ladeni AS di Selat Hormuz
-
Akademisi Kritik Istilah Inflasi Pengamat dari Seskab Teddy, Sebut Pemerintah Mulai Antikritik
-
Gus Ipul: Pemerintah Kaji Tambahan Bansos untuk Jaga Daya Beli Masyaa
-
Jubir Jusuf Kalla Respons Laporan Polisi Terkait Dugaan Penistaan Agama saat Ceramah di UGM
-
Misteri Jasad Luka Leher di Sungai Jombang: Tertelungkup Tanpa Identitas, Diduga Bukan Warga Sekitar
-
Kelompok Misterius Pro Iran Muncul Diklaim Lakukan Serangan di Eropa, Siapa?
-
Fraksi PSI DPRD DKI Soroti Potensi Komersialisasi Air dan 'Pasar Tawanan' di Jakarta
-
Tegukan Maut di Balik 'Klaim' Kebugaran: Mengapa Minum Oli Adalah Bunuh Diri Medis?