Yang menarik, Roy Suryo juga meluruskan kesalahpahaman publik mengenai siapa yang mengemudikan mobil SMK dari Solo ke Jakarta.
"Roy Suryo mengklarifikasi bahwa dirinyalah yang menyopiri mobil SMK dari Solo ke Jakarta bersama FX Rudi, bukan Jokowi," tegasnya.
Ia menggambarkan mobil SMK sebagai rakitan sederhana, setingkat Toyota Kijang versi lama, namun dengan potensi besar jika dikembangkan.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak mulus, mobil sempat mengalami masalah kopling dan tidak lolos uji emisi awal, memerlukan perbaikan serius.
Kekecewaan dan Kritik Tajam: "SMK Hanya Tunggangan Politik"
Puncak kekecewaan Roy Suryo terlihat jelas ketika ia menilai bahwa proyek SMK hanya dijadikan alat untuk menaikkan popularitas Jokowi.
"Roy Suryo menilai bahwa SMK hanya dijadikan tunggangan oleh Jokowi untuk menaikkan popularitasnya dari Solo ke tingkat nasional," ungkapnya dengan nada kecewa.
Setelah mobil SMK diluncurkan dan popularitas Jokowi melesat, tidak ada tindak lanjut yang jelas mengenai pengembangan SMK, meninggalkan banyak pihak, terutama siswa-siswa SMK, dalam kekecewaan. "Janji yang tidak terpenuhi," tambahnya.
Kritik Roy Suryo semakin tajam ketika ia menyoroti pendirian pabrik SMK di Boyolali. Menurutnya, pabrik tersebut hanya mendatangkan mobil dari China dan mengganti logonya, tanpa melibatkan anak bangsa secara signifikan.
Baca Juga: Drama Sidang Tom Lembong: Dakwaan Dianggap Janggal karena Jokowi dan Rini Soemarno Tak Dihadirkan
"Pendirian pabrik SMK di Boyolali yang menurutnya hanya mendatangkan mobil dari China dan mengganti logonya, tanpa melibatkan anak bangsa secara signifikan," kata Roy Suryo.
Dari sinilah, ia mulai merasakan ada sesuatu yang "berbahaya" dari karakter Jokowi. "Roy Suryo mulai merasa ada yang 'berbahaya' dari karakter Jokowi setelah melihat bagaimana SMK diperlakukan," pungkasnya.
Sindiran Melalui Wayang dan Pesan Moral
Sebagai bentuk sindiran terhadap Jokowi, Roy Suryo bahkan menggelar pertunjukan wayang dengan lakon "Petruk Jadi Ratu" yang didalangi oleh Ki Manteb Sudarsono.
Lakon ini, menurutnya, menggambarkan sosok yang awalnya dicintai rakyat namun berubah menjadi zalim setelah berkuasa, sebuah sindiran yang sangat jelas terhadap kepemimpinan Jokowi.
"Lakon ini menggambarkan sosok Petruk yang awalnya dicintai rakyat namun berubah menjadi zalim dan bengis setelah menjadi raja," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Negara Nyaris Tekor Rp60 Miliar, KPK Bongkar Skandal 'Main Mata' Petugas Pajak Jakut
-
Waspada! Tol Bandara Soetta Tergenang Pagi Ini, Lalu Lintas Macet Merayap
-
Tak Lagi Tampilkan Tersangka, KPK Diminta Seimbangkan Transparansi dan HAM
-
Tol Arah Bandara Soetta Masih Terendam, Lalin Tersendat, Cek Titik Genangan Ini
-
Usai Reses, 294 Anggota DPR Hadiri Rapat Paripurna Perdana Tahun 2026
-
11 Jam Geledah Kantor Pajak Jakut, KPK Sita Duit Valas Terkait Suap Diskon Pajak Rp60 M
-
Daftar Lengkap 19 Kajari Baru: Jaksa Agung Geser Jaksa Eks KPK ke Blitar
-
3 Museum di Jakarta Tutup Hari Ini, Pemprov Ungkap Alasannya
-
Detik-Detik Truk Mogok Tertemper KA BasoettaManggarai di Perlintasan Rawabuaya
-
Sempat Tenggelam 1 Meter, Banjir Jakarta Selatan Akhirnya Surut Total Dini Hari