Suara.com - Mantan personel Korps Marinir TNI AL, Satria Arta Kumbara atau Satria Kumbara, mengaku menyesal menjadi tentara bayaran Rusia dalam perang melawan Ukraina. Dia pun sampai menangis ingin pulang ke Tanah Air.
Dia pun membocorkan nominal gaji tentara bayaran Rusia yang diterimanya selama bergabung, yaitu sekitar Rp 39 juta per bulan. Angka tersebut belum termasuk bonus besar yang ditawarkan pemerintah Rusia kepada rekrutan asing.
Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Satria melalui video TikTok di akun @zstorm689 pada Minggu lalu.
Dalam video itu, ia menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Menteri Luar Negeri karena telah menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia tanpa memahami konsekuensinya.
"Mohon izin, Bapak. Saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya apabila ketidaktahuan saya menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia mengakibatkan dicabutnya warga negara saya," ucapnya.
Satria menegaskan bahwa keputusannya bergabung dengan militer Rusia semata karena alasan ekonomi. "Saya niatkan datang ke sini (Rusia) hanya untuk mencari nafkah," katanya.
Menurut laporan dari berbagai sumber, gaji tentara bayaran Rusia mencapai USD2.400 atau sekitar Rp39 juta per bulan. Selain itu, para rekrutan juga ditawari bonus penandatanganan yang nilainya bervariasi, mulai dari USD7.000 hingga USD21.000 atau setara dengan Rp100 juta hingga lebih dari Rp300 juta.
Bonus tersebut menjadi daya tarik utama bagi warga negara asing, termasuk dari Tiongkok dan negara-negara berkembang lainnya, untuk bergabung dengan pasukan Rusia.
Bahkan, dalam beberapa wilayah seperti Belgorod dan Moskow, total bonus gabungan bisa mencapai RUB2,6 juta (sekitar Rp488 juta), terutama bagi tentara yang gugur di medan tempur. Insentif tinggi ini mencerminkan tingginya kebutuhan personel militer di tengah perang yang sudah berlangsung hampir tiga tahun.
Kementerian Pertahanan Rusia terus menggencarkan kampanye rekrutmen, mulai dari iklan TV, papan reklame, hingga promosi online. Kampanye ini menyasar citra maskulinitas dan kebanggaan menjadi pria sejati, seperti tergambar dalam salah satu video viral yang mengajak para pria bergabung dengan militer Rusia.
Kisah Satria Kumbara menjadi pengingat tentang dampak besar dari keputusan ekonomi yang diambil dalam tekanan. Ia kini kehilangan status WNI dan tengah menyesali langkahnya. Meski gaji tentara bayaran Rusia tergolong tinggi, konsekuensinya bisa sangat berat.
Berita Terkait
-
Bripda Rio dan Satria Kumbara Jadi Tentara Bayaran Rusia, Menkum: Status WNI Otomatis Hilang
-
Nyaris Mati saat Perang Lawan Ukraina, TNI Ogah Peduli Nasib Satria Kumbara, Kenapa?
-
Eks Marinir Satria Kumbara Nyaris Mati Dihujani Mortir, Mabes TNI: Bukan Urusan Kami Lagi!
-
Link Video Eks Marinir Satria Kumbara Terluka Parah Beri Pesan ke Presiden Prabowo sebelum Hilang
-
Kepala Penuh Luka, Begini Kondisi Eks Marinir Satria Kumbara Usai Dihantam Drone Kamikaze
Terpopuler
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
Terkini
-
WNI Terlibat Jaringan Scam di Kamboja, Anggota Komisi XIII DPR: Penanganan Negara Harus Berbasis HAM
-
Ahmad Ali PSI Luruskan Tafsir Podcast: Gibran Adalah Wapres Potensial, Bukan Lawan Politik Prabowo
-
Dittipideksus Bareskrim Sita Dokumen hingga Data Transaksi dari Penggeledahan PT DSI
-
Pakar Hukum Desak RUU Perampasan Aset Disahkan pada 2026
-
PDIP Gelar Natal Nasional Bersama Warga Terdampak Bencana: Berbagi Pengharapan dan Sukacita
-
DVI Tuntaskan Identifikasi Korban Pesawat ATR 42-500, Seluruh Nama Sesuai Manifest
-
Angin Kencang Terjang Kupang, 25 Rumah Warga Rusak dan Timbulkan Korban Luka
-
Akademisi UI Ingatkan Risiko Politik Luar Negeri RI Usai Gabung Dewan Perdamaian Gaza
-
PSI Percayakan Bali kepada I Wayan Suyasa Eks Golkar, Kaesang Titipkan Harapan Besar
-
Cegah Stres di Pengungsian, KDM Siapkan Rp10 Juta per KK untuk Korban Longsor Cisarua