Suara.com - Kasus kematian diplomat muda, Arya Daru Pangayunan, masih diselimuti kabut misteri yang memicu spekulasi liar di tengah publik.
Di tengah simpang siur informasi, sorotan tajam kini mengarah pada profesionalisme Polri dalam mengurai benang kusut kasus yang penuh kejanggalan ini.
Pandangan kritis datang dari purnawirawan jenderal polisi, Komjen. Pol. (Purn.) Drs. Ito Sumardi Djunisanyoto, yang menguliti proses penyelidikan dalam podcast Deddy Corbuzier.
Ia menyoroti pentingnya investigasi berbasis ilmiah untuk membungkam spekulasi dan mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.
Sinyal Blunder di TKP Awal? Kasus Ditarik ke Polda
Salah satu sinyal adanya masalah dalam penanganan awal kasus ini adalah keputusan untuk menarik penyelidikan dari tingkat Polres ke Polda Metro Jaya.
Menurut Ito Sumardi, langkah ini merupakan sebuah bentuk evaluasi internal yang krusial.
"Penanganan TKP awal yang baik sangat menentukan kecepatan pengungkapan kasus," jelas Ito.
Penarikan kasus ke level yang lebih tinggi ini seolah menjadi pengakuan implisit bahwa penanganan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) pertama kali berpotensi memiliki kekurangan.
Baca Juga: Misteri Rooftop Kemlu: CCTV Ungkap 'Clue' Baru Kematian Diplomat Arya Daru
Hal ini menjadi pertaruhan besar bagi citra kepolisian, di mana kecermatan menjadi harga mati.
Ito Sumardi menegaskan, dalam kasus serumit ini, kecepatan bukanlah segalanya. Justru, kehati-hatian dan ketelitian menjadi panglima untuk menghindari kesimpulan prematur yang bisa berakibat fatal.
"Kesimpulan akhir harus didukung fakta dan ilmiah agar tidak ada spekulasi," tegasnya.
Kunci di Meja Autopsi: Bukti Ilmiah yang Tak Bisa Dibohongi
Di tengah berbagai kemungkinan, satu hal yang disebut Ito Sumardi sebagai kunci utama pengungkapan fakta adalah proses autopsi.
Baginya, hasil autopsi adalah bukti ilmiah paling sahih untuk menentukan penyebab pasti dan waktu kematian Arya Daru Pangayunan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
Terkini
-
Drama London: Paspampres Klarifikasi Soal Halangi Jurnalis Saat Kawal Presiden Prabowo
-
Ketua KPK Jawab Peluang Panggil Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Curhat Pimpinan KPK ke DPR: Alat Kurang Canggih Jadi Hambatan Utama OTT
-
Animo Tinggi, PDIP Minta Kemensos 'Gaspol' Bangun Sekolah Rakyat
-
KND Kawal Hak Atlet Disabilitas, Kontingen Indonesia Raih 135 Emas di ASEAN Para Games 2025
-
Ketua DPRD DKI Kawal Janji Pramono Lepas Saham Perusahaan Bir, Kaji Opsi Tukar Guling
-
Jadi Ipar Presiden RI, Soedradjad Djiwandono Ngaku Kudu Hati-hati Komentari Masalah Dalam Negeri
-
Kali Ciliwung Meluap, 11 RT di Jakarta Terendam Banjir
-
'Awal Tahun yang Sempurna', Daftar 4 Kritik Adian Napitupulu Terhadap Pemerintahan Prabowo
-
Setyo Budiyanto Jelaskan Alasan KPK Ubah Aturan Gratifikasi: Nilai Rupiah Harus Disesuaikan