Suara.com - Sebuah pengakuan mengerikan datang dari Ita (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan Indonesia berusia 20 tahun yang berhasil lolos dari neraka pusat judi online di Kamboja. Terjebak dari Desember 2023 hingga Agustus 2024, ia menjadi korban penyiksaan dan kekerasan seksual brutal hanya karena dianggap tidak memenuhi target kerja.
"Mereka benar-benar satu bulan penuh menyiksa saya, dari pelecehan sampai pukulan," ujar Ita kepada wartawan sebagaimana disitat dari laman BBC News Indonesia, Selasa (29/7/2025).
Puncak kengerian terjadi saat ia diseret ke gudang dan dikurung selama sebulan penuh. Di sanalah mimpi buruk yang sesungguhnya dimulai.
"Badan saya diikat lalu diperkosa. Mereka kadang berdua, bahkan bertiga," kenang Ita dengan suara bergetar.
Aksi bejat itu direkam oleh para pelaku, yang mengancam akan menyebarkan video tersebut jika ia berani buka suara.
"Setiap mau melecehkan, mereka selalu mengikat saya. Jadi benar-benar kaki saya, tangan saya diikat. Kadang diikat di bangku," tuturnya.
Kisah Ita bermula dari iming-iming "gaji gede" di Bali oleh mantan kakak kelasnya. Namun, janji itu palsu. Setelah paspornya dibuatkan, ia justru diterbangkan ke Phnom Penh, Kamboja. Di sana, paspornya langsung disita.
"Dia menjelaskan, 'Jadi gini, kamu tuh jadi admin judi'," ujar Ita menirukan perkataan perekrutnya.
Terjebak tanpa bisa pulang, Ita terpaksa bekerja. Namun, saat target tak tercapai, hukuman keji menantinya.
Baca Juga: Gencatan Senjata, Kamboja dan Thailand Sepakat Damai Usai Perang Berdarah di Perbatasan
"Badan saya ditarik secara paksa lalu dibawa ke gudang. Di situ, saya dikurung dan hanya dikasih makan dua hari sekali," ungkapnya.
Ita tak sendirian. Ia mengklaim banyak perempuan lain mengalami nasib serupa. Data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengonfirmasi Kamboja sebagai sarang utama sindikat ini, dengan 4.300 dari total 7.628 kasus TPPO judi online terjadi di negara tersebut sejak 2021.
Komisioner Komnas HAM, Anis Hidayah, menyebut para korban perempuan mengalami eksploitasi berlapis.
"Tujuan TPPO itu salah satunya adalah eksploitasi korban. Eksploitasi di sini antara lain di fisik dan ekonomi. Bagi perempuan, eksploitasinya juga berupa seksual," ujar Anis.
Hal ini diamini oleh Nisa (bukan nama sebenarnya), korban lain yang menyaksikan langsung bagaimana para perempuan tak berdaya. Menurutnya, melapor pun percuma karena para pelaku adalah sesama WNI yang sudah menjadi "atasan".
"Kalaupun mengadu juga percuma, karena sesama orang Indonesia yang senasib pun juga takut dan akhirnya masing-masing jadi memikirkan diri sendiri," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Gencatan Senjata, Kamboja dan Thailand Sepakat Damai Usai Perang Berdarah di Perbatasan
-
Dekan FISIP Unsoed Akui Ada Kekerasan Seksual oleh Dosen, Mahasiswa Desak Pemecatan
-
Thailand Serahkan 12 Jenazah Tentara Kamboja
-
Neraka 8 Tahun di Pesantren Sumenep: Pengasuh Jadi Predator Seks, Satu Santri Hamil Lalu Digugurkan
-
Dalami Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, Unsoed Pastikan Lindungi Pelapor
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Iran: Cabut Semua Saksi Terhadap Kami!
-
Karhutla Naik Hampir Delapan Kali Lipat, Perlukah Indonesia Mulai Pikirkan Pembakaran Terkendali?
-
Pasar Saham Asia Langsung Gacor Usai AS dan Iran Damai
-
Kejagung Serahkan Uang Hasil Lelang Ke Kementerian Keuangan Sebesar Rp 1,02 Triliun
-
Tak Cuma Izin WNA! KPK Berpeluang Bongkar Korupsi Sektor Lapas di Kasus Silmy Karim
-
#TataUlangIndonesia! Mahasiswa Demo di Istana dan DPR Bawa 20 Tuntutan
-
Pulang Haji Bos Maktour Fuad Hasan Langsung Diperiksa KPK, Apa yang Bakal Digali?
-
Cek Rute Alternatif! Ini 10 Ruas Jalan yang Ditutup Saat Rombongan Presiden Jerman Melintas
-
Awas Macet! Ribuan Aparat Gabungan Kawal Demo Mahasiswa Hari Ini: DPR hingga Monas Dijaga Ketat
-
Aksi Demo Bertajuk 'GATAL', GMNI Kepung DPR Siang Ini: Rezim Prabowo-Gibran Gagal Total!