Suara.com - Pernyataan mengejutkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid bahwa 60 keluarga menguasai hampir setengah dari lahan bersertifikat di Indonesia memicu reaksi keras di DPR. Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PDIP, Deddy Sitorus, mendesak pemerintah menaikkan pajak secara signifikan bagi para konglomerat tersebut sebagai langkah menuju keadilan agraria.
Dalam rapat kerja dengan Menteri Nusron di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (8/9/2025), Deddy Sitorus awalnya mengapresiasi keterbukaan pemerintah.
"Pak Menteri, saya sangat senang mendengar ketika Pak Menteri bicara bahwa tanah di Indonesia ini dikuasai oleh 60 keluarga. Artinya kan negara sudah mulai jujur nih sama rakyat," kata Deddy.
Namun, ia menegaskan bahwa fakta ini tidak boleh berhenti sebagai pernyataan semata, melainkan harus menjadi momentum untuk mewujudkan keadilan dan mencegah kecemburuan sosial. Deddy menuntut tindakan nyata berupa percepatan reforma agraria.
"Saya kira pajaknya harus dinaikkan betul, Pak. Mereka sudah cukup kaya, mereka sudah sangat kaya. Saatnya negara mengambil untuk mendistribusikannya kepada rakyat," tegas Deddy.
"Mereka sudah kaya untuk 70 keturunan, Pak, bukan 7 turunan lagi."
Deddy bahkan mencontohkan konflik agraria di Kabupaten Pati sebagai akibat dari ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil.
"Jangan sampai terjadi seperti di Pati kemarin, anggaran mereka turun lalu berinisiatif menaikkan PBB, akhirnya kekacauan," katanya.
Sebelumnya, pernyataan ini merujuk pada data yang diungkapkan Menteri Nusron Wahid pada Minggu (13/7/2025). Ia membeberkan bahwa 48 persen dari 55,9 juta hektare lahan bersertifikat di Indonesia dikuasai oleh hanya 60 keluarga.
Baca Juga: Nasib 3,1 Juta Ha Lahan Sawit Sitaan Dipertanyakan, DPR Cecar Kementerian ATR/BPN
Meskipun Nusron tidak membeberkan identitas keluarga-keluarga tersebut, ia menyebut penguasaan lahan yang tidak merata ini sebagai akar permasalahan kemiskinan struktural.
"Ini saya anggap kebijakan yang salah secara struktural yang mengakibatkan kesenjangan ekonomi secara struktural. Jadi bukan karena tidak mampu, tapi karena kebijakan yang waktu itu belum berpihak," jelas Nusron.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Rusia Kasih Data Aset Militer AS ke Iran untuk Dihancurkan, Termasuk Lokasi Kapal dan Jet Tempur
Terkini
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Selesai Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
Viral! Penumpang Muslim Ditangkap Tim Taktis AS Bersenjata Lengkap Gara-Gara Timer Salat
-
Situasi Terkini Iran Jelang Baiat untuk Pemimpin Baru Ayatollah Mojtaba Khamenei
-
5 Fakta Mojtaba Khamenei: Jebolan Perang Iran-Irak, Nikahi Anak Politisi Senior Iran
-
Bawa Ayam Saat Jalan-jalan Bisa Bikin Stres Anda Berkurang, Profesor Ini Sudah Membuktikan
-
Duduk Perkara Kasus Bibi Kelinci: dari Nabilah O'Brien jadi Tersangka Hingga Berakhir Damai
-
Sempat Live Bareng Bigmo Saat Penetapan Tersangka, Ini Kata Wali Kota Solo
-
Aneh tapi Nyata! Tren di Jepang, Meditasi di Dalam Peti Mati Demi Kesehatan Mental
-
Kisah Punch, Bayi Monyet Viral Kini Mulai Punya Teman di Kebun Binatang Jepang
-
Cara Iran Acungkan 'Jari Tengah' ke Trump: Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Ayatollah