Di panggung global Perang Dingin, “keberhasilan” ini tidak luput dari perhatian.
Seperti yang ditulis oleh jurnalis Vincent Bevins dalam bukunya yang mengguncang, The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World, apa yang terjadi di Indonesia menjadi sebuah model, sebuah cetak biru.
"Jakarta" berhenti menjadi sekadar nama kota; ia menjadi sebuah metode.
'Surga Sosialisme' Mekar di Chile
Sementara Indonesia terkunci dalam cengkeraman kediktatoran militer, sebuah eksperimen demokrasi yang berani justru sedang bersemi di Chile.
Pada tahun 1970, Salvador Allende, seorang dokter berhaluan Marxis, memenangkan pemilu.
Kemenangannya adalah sebuah anomali bersejarah: seorang sosialis yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kotak suara, bukan laras senjata.
Pemerintahannya, yang didukung koalisi partai-partai kiri, segera memulai reformasi radikal: menasionalisasi industri tembaga yang vital, membagikan tanah kepada petani, dan menyediakan susu gratis untuk anak-anak.
Namun, langkah-langkah ini mengancam kepentingan elite lokal dan korporasi multinasional Amerika yang telah lama mengeruk kekayaan Chile.
Baca Juga: Krisis Nepal Membara! Parlemen Hangus, Pemerintah Jatuh, Militer Ambil Alih
Di Washington, pemerintahan Nixon melihat Allende sebagai "virus" yang bisa menyebar.
Operasi rahasia untuk "membuat ekonomi Chile menjerit" pun dijalankan oleh CIA.
Di tengah tekanan ekonomi dan sabotase politik itulah, grafiti "Jakarta is coming" mulai menghantui jalanan.
Bevins mencatat dalam bukunya, ini adalah perang psikologis yang disengaja.
Pesan itu adalah penanda bahwa model pemusnahan tanpa ampun yang terjadi di Indonesia akan segera diekspor ke Chile.
Ancaman itu, yang awalnya hanya coretan di dinding, perlahan menjadi kenyataan yang membayangi.
Saat Jakarta Benar-benar Tiba
Pagi hari tanggal 11 September 1973, Jenderal Augusto Pinochet, panglima angkatan bersenjata yang diangkat Allende, melancarkan kudetanya.
Jet-jet tempur Hawker Hunter meraung di atas langit Santiago, mengebom Istana Kepresidenan La Moneda.
Allende, dengan senapan AK-47 pemberian Fidel Castro di tangannya, menolak untuk menyerah.
Dalam siaran radio terakhirnya yang legendaris, dengan suara ledakan terdengar di latar, ia berkata,
"Saya tidak akan mengundurkan diri... Saya akan membayar kesetiaan rakyat dengan nyawa saya."
Ia menepati janjinya.
Kudeta itu membuka gerbang neraka. Stadion Nasional Santiago diubah menjadi kamp konsentrasi dan ruang penyiksaan.
Selama 17 tahun berikutnya, rezim Pinochet membunuh ribuan orang, menyiksa puluhan ribu, dan memaksa ratusan ribu lainnya mengasingkan diri.
Metode Jakarta telah tiba, dengan segala kebrutalannya. Seperti yang diungkapkan Bevins, pendekatan bumi hangus ini diekspor ke seluruh dunia.
Kisah ini adalah pengingat yang pedih bahwa sejarah tidak terjadi dalam ruang hampa.
Tragedi di satu negara dapat menjadi senjata di negara lain.
Bevins menyimpulkan dengan getir siapa pecundang sesungguhnya dalam pertarungan ideologi abad ke-20: "para pecundang utama abad kedua puluh adalah mereka yang terlalu tulus percaya pada keberadaan tatanan internasional yang liberal, mereka yang terlalu percaya pada demokrasi, atau terlalu percaya pada apa yang Amerika Serikat katakan didukungnya, daripada apa yang sebenarnya didukungnya... Kelompok itu dimusnahkan."
Bagi kita hari ini, gema "Jakarta" di dinding Santiago lebih dari sekadar catatan kaki sejarah.
Ini adalah pelajaran tentang bagaimana narasi dibentuk oleh pemenang, dan bagaimana kebenaran yang mengerikan sering kali terkubur dalam-dalam.
Seorang aktivis Indonesia yang selamat dari tragedi 1965 memberikan jawaban paling ringkas dan menyakitkan kepada Bevins saat ditanya bagaimana Barat memenangkan Perang Dingin: "Kalian membunuh kami."
Tag
Berita Terkait
-
Krisis Nepal Membara! Parlemen Hangus, Pemerintah Jatuh, Militer Ambil Alih
-
Heboh! Anak Menteri Keuangan Minta Maaf Tuduhan Agen CIA ke Sri Mulyani: Hanya Bercanda?
-
Anak Menkeu Purbaya Cengengesan saat Klarifikasi Sri Mulyani Agen CIA, Netizen Makin Ngamuk!
-
Tak Cuma Sri Mulyani, Yudo Sadewa Sentil 'Ternak Mulyono' di Tengah Kontroversi
-
Sejarah Nepal: Dari Kerajaan Kuno Hingga Republik Modern
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Jalur Tanker Alternatif Terbuka, Harga Minyak Dunia Mulai Melandai
-
Diskon Tiket Kereta hingga Kapal Laris Manis, Serapan Stimulus Tembus 98%
-
Duit Asing Keluar dari Indonesia Tembus Rp74 Triliun,OJK Nilai Masih Bagian Dinamika Pasar
-
BAIC T1 Resmi Meluncur di GIIAS 2026 dengan Harga Spesial Mulai Rp 373 Juta
-
5 Sepatu Lari Wanita Paling Nyaman dan Empuk, Cocok untuk Jogging hingga Maraton
-
Kembali ke Bentuk Asli 1914, Prabowo akan Resmikan Renovasi Cagar Budaya Stasiun Tawang
-
4 Zodiak Paling Beruntung 30 Juli 2026, Peluang dan Rezeki Menanti di Akhir Bulan
-
BRI Percepat Transformasi Demi Perkuat Fundamental dan Value Creation
-
Fakta Baru Kasus Kebakaran Maut Tewaskan Santri di NTB, Polisi Tambah Pasal untuk Tersangka
-
BRI dan Danantara Perkuat Transformasi untuk Pertumbuhan Perekonomian Rakyat yang Berkelanjutan