- KSP Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa lebih dari 99% atau 8.549 dari 8.583 dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS)
- Selain sertifikasi, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan juga sangat rendah
- Pemerintah mengakui bahwa masalah utama bukan pada regulasi yang sudah ada, melainkan pada lemahnya pengawasan dan kepatuhan di lapangan
Suara.com - Istana Kepresidenan membunyikan alarm terkait keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari secara blak-blakan mengungkap data mayoritas dapur penyedia makanan program ini ternyata belum memenuhi standar kelayakan dasar, membuka potensi besar terjadinya keracunan massal.
Data yang dipaparkan Qodari menunjukkan dari total 8.583 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang beroperasi per 22 September 2025, hanya segelintir yang terjamin keamanannya.
Tercatat, hanya 34 SPPG yang telah mengantongi Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), sementara 8.549 sisanya, atau lebih dari 99%, beroperasi tanpa jaminan mutu tersebut.
“Jadi singkatnya, SPPG itu harus punya SLHS dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) sebagai upaya mitigasi dan pencegahan keracunan pada program MBG,” kata Qodari dalam siaran persnya, Senin (22/9/2025).
SLHS adalah bukti fundamental bahwa sebuah dapur telah memenuhi standar mutu dan persyaratan keamanan pangan. Tanpa sertifikat ini, tidak ada jaminan bahwa makanan yang diolah dan didistribusikan kepada jutaan penerima manfaat aman untuk dikonsumsi.
Masalah tidak berhenti di situ. Qodari juga menyoroti lemahnya penerapan prosedur keamanan pangan di lapangan.
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, dari 1.379 SPPG yang disurvei, hanya 413 yang memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan. Lebih parahnya lagi, dari jumlah tersebut, hanya 312 dapur yang benar-benar menerapkan SOP itu dalam operasional sehari-hari.
“Dari sini kan sudah kelihatan kalau mau mengatasi masalah ini, maka kemudian SOP-nya harus ada, SOP Keamanan Pangan harus ada dan dijalankan,” ujar Qodari.
Menurutnya, regulasi sebetulnya sudah ada. Badan Gizi Nasional (BGN) dengan dukungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan aturan yang diperlukan. Namun, implementasi di lapangan menjadi pekerjaan rumah terbesar yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Said Didu 'Semprot' KSP Qodari Buntut Pernyataan Soal Anggaran MBG: Anda Bukan Perdana Menteri!
“Bahwa dari sisi regulasi dan aturan telah diterbitkan oleh BGN dan dibantu oleh BPOM, PR-nya adalah sisi aktivasi dan pengawasan kepatuhan,” kata Qodari.
Temuan ini, lanjutnya, sejalan dengan data dari berbagai lembaga seperti Kemenkes, BGN, dan BPOM, yang semuanya menunjukkan adanya masalah serius dalam program ini. Perbedaan angka statistik antarlembaga justru mengonfirmasi bahwa masalah ini nyata dan butuh penanganan segera.
“Bahwa masalah yang sama dicatat oleh 3 lembaga (Kemenkes, BGN, dan BPOM). Bahkan oleh BGN sendiri, angkanya secara statistik itu sebetulnya sinkron... Perbedaan angka antar lembaga jangan dibaca sebagai kontradiksi. Justru ini menunjukkan konsistensi bahwa masalah tersebut nyata dan butuh penanganan segera,” ujarnya.
Qodari menyebut, kasus keracunan yang marak terjadi umumnya dipicu oleh faktor-faktor mendasar seperti rendahnya higienitas, suhu pengolahan yang tidak sesuai standar, hingga kontaminasi silang dari petugas dapur. Menanggapi rentetan insiden ini, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
“Pemerintah tidak tone deaf, tidak buta dan tuli. Bahkan Pak Mensesneg pada Jumat lalu sudah menyampaikan permintaan maaf dan komitmen evaluasi,” kata Qodari.
Berita Terkait
-
Viral! Pencuci Tray MBG Unboxing Gaji Pertama Sampai Terharu, Netizen: Lebih Besar dari Guru Honorer
-
Said Didu 'Semprot' KSP Qodari Buntut Pernyataan Soal Anggaran MBG: Anda Bukan Perdana Menteri!
-
Ribuan Anak Keracunan dan Makanan Berbelatung, FSGI Desak Moratorium Program Makan Bergizi Gratis
-
Isu Minyak Babi di Ompreng MBG, Ini Kata Tegas Badan Gizi Nasional
-
Berapa Gaji Petugas MBG? Kinerja Disorot Imbas Kasus Keracunan
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
Nelayan Tak Boleh Dilupakan, Prabowo Janjikan Perbaikan Kesejahteraan Nasional
-
Prabowo di Gorontalo: Indonesia Kuat, Tak Panik Hadapi Gejolak Dunia karena Swasembada Pangan
-
Prabowo soal MBG: Sekolah yang Butuh Segera Diberi, yang Tidak Perlu Tidak Dipaksakan
-
Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Soroti Bahaya AI bagi Pelajar: Otak Bisa Malas Berpikir
-
Ketua DPD Golkar DKI Sebut Jakarta Darurat Sampah, Warga Diminta Mulai Bergerak dari Rumah
-
Prabowo Genjot Ekonomi Biru, Nelayan Disiapkan Jadi Kekuatan Baru Indonesia
-
Terungkap! Ratusan WNA Operator Judi Online di Hayam Wuruk Ternyata Direkrut 'Veteran Kamboja'
-
Menuju Target Nasional Pengurangan Sampah 2029, Ini Kebiasaan yang Harus Digencarkan di Rumah