- Tragedi robohnya Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo menarik perhatian media internasional
- Operasi penyelamatan menghadapi tantangan ekstrem, termasuk risiko getaran, potensi longsor, dan ruang terbatas
- Meskipun "masa emas" 72 jam hampir berakhir dan sempat terganggu gempa, penggunaan teknologi canggih berhasil mendeteksi tanda-tanda kehidupan
Suara.com - Insiden tragis robohnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, telah menjadi sorotan utama media internasional. Kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP), secara intensif melaporkan upaya penyelamatan dramatis yang diwarnai kepanikan keluarga korban dan kompleksitas teknis di lapangan.
Dalam laporannya, AFP menyoroti bagaimana tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban dari puing-puing bangunan. Pada Rabu (1/10/2025), harapan sempat menyala ketika lima korban berhasil ditarik dalam keadaan hidup, meski diiringi kabar duka dengan ditemukannya dua korban meninggal dunia.
"Hari ini kami berhasil mengevakuasi tujuh korban, lima di antaranya diselamatkan hidup-hidup, dan dua ditemukan tewas," kata Yudhi Bramantyo, direktur operasional layanan SAR, dalam sebuah konferensi pers yang dikutip oleh AFP.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi tekanan luar biasa dari para orang tua yang cemas, mendesak agar proses pencarian puluhan anak mereka yang diyakini masih terperangkap di bawah reruntuhan dapat dipercepat.
Lebih jauh, media asing tersebut mengulas tingkat kesulitan operasi penyelamatan yang dinilai sangat rumit dan berbahaya. Mengutip Kepala Badan SAR Nasional, Mohammad Syafii, AFP menjelaskan bahwa getaran sekecil apa pun dapat memicu keruntuhan lebih lanjut, sehingga tim harus bekerja dengan sangat hati-hati.
"Jika terjadi getaran di satu tempat, hal itu dapat memoengaruhi tempat lain. Jadi sekarang, untuk mencapai lokasi korban, kami harus menggali terowongan bawah tanah," ujar Syafii.
Proses penggalian terowongan ini pun bukan tanpa risiko. Ancaman tanah longsor dan ruang gerak yang sangat terbatas menjadi tantangan utama. Terowongan yang dibuat hanya menyediakan akses selebar 60 sentimeter karena terhalang kolom beton dari struktur bangunan yang runtuh.
Untuk memaksimalkan peluang, tim SAR mengerahkan teknologi canggih, termasuk drone pendeteksi panas, untuk melacak tanda-tanda kehidupan. Upaya ini menjadi krusial mengingat "masa emas" 72 jam untuk harapan hidup korban mendekati batas akhir. Hingga kini, tanda-tanda kehidupan telah terdeteksi di tujuh area berbeda. Tim penyelamat berupaya mengirimkan makanan dan air melalui satu titik akses yang berhasil dibuat.
Upaya penyelamatan sempat terganggu oleh gempa bumi yang terjadi di lepas pantai, menambah daftar panjang kesulitan yang dihadapi tim di lapangan. Di tengah ketegangan, AFP menggambarkan suasana haru di sekitar lokasi, di mana organisasi amal lokal mendirikan posko untuk menyediakan makanan dan minuman bagi keluarga korban yang setia menunggu kabar dengan penuh kecemasan.
Baca Juga: Drama Penyelamatan Santri Ponpes Al Khoziny, Tim Rescue Surabaya Bertaruh Maut di Bawah Reruntuhan
Penyebab runtuhnya bangunan juga tak luput dari sorotan. AFP melaporkan kesaksian warga yang menyebut keruntuhan itu begitu dahsyat hingga getarannya terasa di seluruh lingkungan sekitar.
Juru bicara badan penanggulangan bencana nasional menyatakan bahwa bangunan tersebut ambruk setelah pilar fondasinya gagal menopang beban konstruksi baru yang sedang dikerjakan di lantai empat.
Berita Terkait
-
Berkeliling Ponpes Al Khoziny: Tiang Ajaib dan Desain Bangunan Disorot Sebelum Ambruk
-
Berapa Biaya Masuk Ponpes Al Khoziny Sidoarjo? Gedung Ambruk, Diduga Tak Punya IMB
-
Drama Penyelamatan Santri Ponpes Al Khoziny, Tim Rescue Surabaya Bertaruh Maut di Bawah Reruntuhan
-
Penampakan Ponpes Al Khoziny Sebelum dan Sesudah Ambruk: Tiang Penyangga Disorot
-
Publik Soroti Ponpes Ambruk Renggut Nyawa: Kelalaian Pembangunan atau Takdir?
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
PNM Peduli Bergerak Cepat Bantu Korban Gempa di Nusa Tenggara Timur
-
Dedi Mulyadi Soroti Sampah Mengendap 32 Tahun di Saluran Air Kota Bandung
-
Pelabuhan Maumere Tetap Layani Kapal Ro-Ro dan Penumpang
-
Semarak Kemerdekaan Tak Lagi Ramai di Lapak Pedagang, Penjualan Anjlok hingga 75 Persen
-
Seskab Teddy Indra Wijaya Salahi Aturan di HUT RI ke-81 Gegara Pakai Pin Ini?
-
Siswa Jakarta Diperbolehkan PJJ Besok 18 Agustus, Pemprov DKI: Bukan Wajib atau Larangan
-
Bukan di BKB, Festival Bidar 2026 Justru Ubah Kampung Kapitan Jadi Pusat Keramaian
-
Bukan Cuma Beras, PSI Ungkap 8 Bahan Pangan yang Berhasil Swasembada di Era Prabowo
-
BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutan untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran
-
Masih Layakkah Thom Haye Dijuluki The Profesor? Bung Towel Kasih Pernyataan Kontroversial