- Analis politik menilai strategi gimik PSI, seperti isu "Bapak J", berakar dari minimnya tokoh politik yang kuat dan kekurangan gagasan substansial yang dimiliki partai
- PSI dinilai sangat bergantung pada nama besar Presiden Jokowi dan Kaesang Pangarep untuk meningkatkan popularitas
- Strategi gimik ini diprediksi akan terus digunakan PSI hingga Pemilu 2029 sebagai upaya untuk menghindari pembahasan isu-isu yang lebih substansial dan menutupi kekurangan gagasan
Suara.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan tajam publik dan pengamat politik. Setelah berhasil menempatkan diri sebagai salah satu partai yang paling banyak diperbincangkan di media sosial, strategi politik PSI kini dipertanyakan keabsahannya.
Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menyoroti strategi politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kerap menyajikan gimik politik, termasuk yang terakhir terkait isu "Bapak J" sebagai Ketua Dewan Pembina.
Fenomena "Bapak J" yang sempat menjadi trending topic dan memicu spekulasi liar di kalangan warganet, dinilai Dedi sebagai puncak dari serangkaian manuver politik yang lebih mengutamakan sensasi ketimbang substansi.
Isu ini, yang sengaja dilemparkan tanpa kejelasan, berhasil menyedot perhatian media dan publik, namun minim menyentuh pembahasan mengenai program kerja atau ideologi partai.
Menurut Dedi, fenomena ini berakar pada minimnya tokoh dan gagasan substansial yang dimiliki PSI. Kritik ini bukan tanpa dasar. Dalam peta politik nasional, PSI memang belum memiliki figur yang secara independen mampu menandingi karisma para elit politik dari partai-partai senior.
Dedi menjelaskan bahwa PSI tidak memiliki tokoh yang dapat disandingkan dengan elit politik partai lain, serta minim gagasan dan program yang mampu menarik perhatian publik. Keterbatasan inilah yang memaksa PSI mengambil jalan pintas, yaitu melalui strategi gimik.
Strategi ini dianggap paling efektif untuk mencapai dua tujuan utama yakni meningkatkan popularitas secara instan dan menciptakan sensasi populis di tengah hiruk pikuk politik.
"Dengan ketidakmampuan menonjolkan tokoh dan ide politik itulah menjadi sebab PSI memilih jalur gimik, selain untuk meningkatkan popularitas, juga menciptakan sensasi populis," ujar Dedi saat dihubungi Suara.com, Rabu (15/10/2025).
Di tengah era digital dan media sosial, strategi gimik memang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi pemilih muda (18-45 tahun) yang menjadi target utama PSI. Konten yang provokatif, misterius, atau sensasional cenderung lebih cepat viral dibandingkan pembahasan mendalam mengenai kebijakan fiskal atau reformasi birokrasi.
Baca Juga: Bro Ron PSI dan Ahmad Sahroni Bertemu, Sinyal Kejutan 10 November Menguat
Namun, Dedi mengingatkan bahwa popularitas semacam ini rentan dan tidak berkelanjutan jika tidak ditopang oleh fondasi ideologi dan program yang kuat.
Ia menambahkan, selama ini PSI cenderung mengandalkan nama besar Presiden ketujuh RI Jokowi, terutama karena adanya hubungan kekeluargaan dengan Kaesang Pangarep. Masuknya Kaesang, putra bungsu Presiden Jokowi, ke dalam struktur kepemimpinan PSI memang sempat mendongkrak visibilitas partai secara signifikan.
Namun, menurut Dedi, ketergantungan ini menunjukkan bahwa daya tarik PSI masih bersifat eksternal dan belum mampu menciptakan branding politiknya sendiri yang otentik.
"Di luar itu, PSI tidak memiliki apapun yang bisa ditawarkan ke publik," tegasnya.
Ketergantungan pada figur sentral ini menjadi bumerang ketika PSI dituntut untuk menyajikan solusi nyata atas isu-isu krusial. Menurut Dedi, gimik politik semacam ini hanya berfungsi untuk menghindari pembahasan hal-hal yang lebih substansial.
Dengan terus-menerus menciptakan isu sampingan, PSI berhasil mengalihkan fokus publik dari kekurangan internalnya, baik dari sisi gagasan maupun rekam jejak politik yang belum matang.
Berita Terkait
-
Bro Ron PSI dan Ahmad Sahroni Bertemu, Sinyal Kejutan 10 November Menguat
-
Bertemu Bro Ron, Ahmad Sahroni Cari 'Suaka Politik' ke PSI? Begini Kata Pengamat
-
Utang Whoosh Rp116 T Jadi Bom Waktu, Agus Pambagio: Jokowi Gak Mau Dengar Saya dan Pak Jonan
-
Bom Waktu Kereta Cepat Whoosh, Jokowi Ditagih Tanggung Jawab Utang Rp118 T dan Rugi Triliunan
-
Spekulasi Bapak J di PSI, Ketua DPP Berharap Itu Adalah Jokowi
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Old Money Vibes! 4 Gaya Outfit Preppy Style ala Winter aespa yang Timeless
-
Fleksibel Atur Strategi Toko Ekspor, Penjualan Seller Ini Naik 2,5 Kali Lipat Lewat Ekspor FLEXI
-
Penganiayaan Brutal Karyawati Hotel di Bintan: Pelaku Pakai Sepatu Boots
-
JPO Berulang Kali Ditabrak Truk, Dishub DKI Siapkan Rambu Batas Ketinggian
-
Tragis! Dua Bocah yang Hilang di Irigasi Singomerto Ditemukan Tewas, Terseret hingga 3,5 Km
-
Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja
-
Warnanya Merah Merona, Ini Penampakan Rumah Masa Kecil Etik Suryani yang Digeledah KPK
-
Ditanya soal Emas 74 Kg di Rumah Jampidsus, Bos BCA: Nggak Salah, Kurang Pintar Aja
-
Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol Akhiri Puasa Juara?
-
Budget Rp20 Ribuan? 4 Tone Up Cream Tranexamic Acid Bikin Glowing dan Sehat