- Ridho Rahmadi sebut kedaulatan digital RI terancam karena infrastruktur dikuasai perusahaan Cina.
- Dominasi ini membuat seluruh data aktivitas digital masyarakat Indonesia mudah diakses pihak asing.
- Solusinya adalah Indonesia harus membangun infrastruktur digital & aplikasi sentral milik sendiri.
Ia menilai hal ini bagian dari strategi geopolitik Tiongkok lewat Belt and Road Initiative (BRI) yang memiliki versi digital bernama Digital Silk Road atau Jalur Sutra Digital.
“Mereka bangun infrastruktur, tidak hanya bangun tapi bisa akses dan bisa operasi. Kalau kita gak mampu bayar, mereka yang full operasi,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki infrastruktur digital mandiri dan aplikasi buatan dalam negeri untuk melindungi data nasional.
“Kita harus punya infrastruktur digital utuh milik kita. Kontrol penuh kita. Aplikasi-aplikasi sentral harus buatan kita,” ujarnya.
Ia mencontohkan, jika pemerintah memiliki kemauan politik yang kuat (political will), Indonesia bisa membangun aplikasi perpesanan sendiri seperti WhatsApp versi lokal.
“Messaging itu mudah sekali, Bang. Kalau didukung political will, bisa kok. Cina aja bisa pakai WeChat sendiri,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di sektor digital karena menjadi pasar ICT (Information and Communication Technology) terbesar di ASEAN, dengan 80% penduduk aktif di internet selama tujuh jam per hari.
“Orang-orang dunia melihat kita ini pasar yang besar. Tapi ya itu, kita belum punya kedaulatan digital,” jelasnya.
Baca Juga: Kritik Prabowo Soal Ini, Refly Harun: Suka-suka Lah Mumpung Berkuasa, Apa Juga Halal
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen
-
Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi