Suara.com - Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, menemukan fakta menarik bahwa kondisi perairan di Obi relatif baik.
Penelitian ini mencakup analisis sampel air dan biota laut yang dikumpulkan dari tiga area berbeda; di Pulau Obi (baik di area pertambangan nikel maupun di luar area pertambangan), pesisir perkotaan di Ternate, dan pesisir Pulau Bacan (Labuha).
Sampel yang dikumpulkan diuji untuk mengukur kandungan logam berat seperti, nikel (Ni) dan besi (Fe). Selain itu, tim juga melakukan analisis histomorfologi untuk melihat dampak kontaminasi terhadap organ-organ penting ikan, seperti hati, otot, ginjal, jantung, insang, usus, lambung, pankreas, serta limpa dengan menggunakan ikan-ikan hasil tangkapan pancing dari perairan tersebut.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kondisi perairan Pulau Obi, baik itu di area pertambangan maupun di luar area pertambangan memiliki kondisi perairan yang relatif baik. Selain Pulau Obi, kami juga turut menguji di perairan Pulau Bacan dan Kota Ternate,” jelas Prof. Etty, memaparkan hasil penelitian yang dilakukan dua tahun lalu bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Selain itu, Prof. Etty juga melakukan penelitian mandiri dengan dukungan dari Kemenristek Dikti pada tahun 2023, yang menunjukkan hasil yang senada.
“Dari penelitian yang kami lakukan juga terlihat bahwa ikan-ikan dari Ternate sampai Obi mengandung logam berat tersebut. Dan hasilnya, kandungan logam berat dalam tubuh ikan di Ternate dan Pulau Bacan relatif lebih tinggi dibandingkan di Obi,” imbuhnya.
Prof. Etty menjelaskan, logam berat besi (Fe) sebenarnya merupakan unsur penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang cukup besar. Pada hewan tingkat tinggi, Fe berperan dalam pembentukan hemoglobin, sedangkan pada hewan tingkat rendah berperan dalam pembentukan hemoeritrin. Karena kebutuhan akan zat besi pada umumnya cukup tinggi bahkan cenderung lebih sering kekurangan daripada kelebihan, hingga saat ini peraturan maupun rujukan ilmiah belum menetapkan baku mutu spesifik untuk kandungan Fe dalam biota air. Hal yang sama juga berlaku untuk logam berat Ni, yang sampai saat ini juga belum memiliki nilai baku mutu yang secara khusus ditetapkan.
Meski demikian, adanya logam berat dalam tubuh ikan tidak serta-merta menjadikannya tidak layak konsumsi. Menurut Prof. Etty, dampak logam berat terhadap kesehatan manusia sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti konsentrasi logam dalam tubuh ikan, jumlah ikan yang dimakan, frekuensi konsumsi dalam satu periode waktu tertentu, serta kemampuan tubuh manusia dalam mempertahankan kondisi homeostasis.
Dengan mempertimbangkan bahwa berbagai peraturan, kebijakan, maupun jurnal ilmiah belum menetapkan nilai baku mutu khusus untuk Fe, kandungan Fe yang ditemukan pada biota air dari semua stasiun kajian dalam penelitian ini dinilai relatif aman untuk dikonsumsi. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Fe memang dibutuhkan tubuh dalam jumlah cukup besar untuk memproduksi hemoglobin dan hemoeritrin, serta untuk berbagai fungsi penting lainnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa konsentrasi logam berat dalam tubuh ikan umumnya paling tinggi ditemukan pada hati dan limpa. Sama seperti pada manusia, hati, limpa, dan kemudian ginjal memiliki fungsi vital untuk menjaga kesehatan ikan. Organ-organ ini memiliki kemampuan untuk menurunkan bahkan menghilangkan kandungan bahan berbahaya dan beracun, termasuk logam berat, sebelum menyebar ke organ lain seperti daging (otot) yang biasa dikonsumsi.
Baca Juga: Sumbang PDB Nasional, Sektor Pertambangan Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah
“Di lokasi kajian Maluku Utara konsumsi daging ikan masih relatif aman. Berdasarkan hasil perhitungan berapa jumlah masing-masing ikan yang tertangkap yang boleh di konsumsi, hasilnya ikan-ikan tersebut masih boleh dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Kalau sudah tercemar dalam kadar yang berat dan kontaminasi yang tinggi, memang akan berbahaya, karena bisa memicu penyakit degeneratif akibat paparan bahan berbahaya dan beracun. Baik penyakit degeneratif cancer maupun non cancer, serta bisa memunculkan kecacatan pada embrio, sehingga jumlah yang boleh dikonsumsi harus dibatasi,” tegasnya.
Terkait kandungan logam berat tersebut yang ditemukan di perairan Ternate dan Pulau Bacan, Prof. Etty menjelaskan bahwa sumbernya tidak selalu berkaitan dengan aktivitas tambang, melainkan bisa dipengaruhi oleh berbagai sumber lain seperti limbah domestik, limbah perkotaan, sampah medis, dan penggunaan pestisida pertanian.
Hasil penelitian di tiga area berbeda di Maluku Utara tersebut memang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Menurut Prof. Etty salah satu alasannya karena tingkat pencemaran yang ditemukan relatif rendah dan tidak sesuai dengan hipotesis awal yang diajukan pada proposal penelitian, di mana lokasi tambang diduga akan menunjukkan pencemaran logam berat yang jauh lebih tinggi pada ikan. Meski demikian, ia menilai temuan ini penting untuk diketahui publik guna meluruskan persepsi tentang kualitas lingkungan perairan serta keamanan pangan, khususnya keamanan konsumsi ikan, di daerah tersebut.***
Berita Terkait
-
Optimalkan Nilai Tambah dan Manfaat, MIND ID Perkuat Tata Kelola Produksi serta Penjualan
-
Sumbang PDB Nasional, Sektor Pertambangan Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah
-
Industri Pertambangan Indonesia Mulai Beralih Gunakan AI
-
Laba Bersih NCKL Melambung 35 Persen di 9M25, Manajemen Ungkap Laporan Hari Ini
-
Harita Nickel Borong Penghargaan Subroto 2025 Lewat Program Tekan Stunting Demi Masa Depan
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Jangan Berani Hambat! Polisi Bidik Pidana Bagi Penghalang Penggeledahan di Cafe de'CLAN Signature
-
Jejak Kelam Tenda Biru Bekasi: 8 Anak Dijual Jadi PSK, Omzet Tembus Rp1,7 Miliar
-
Nasib RUU Pemilu Digantung? Komisi II Buka-bukaan Disuruh 'Tunggu' Oleh Pimpinan DPR
-
Brankas Jumbo Ditemukan di Balik Lemari Cafe Cipete, Diduga Simpan Bukti Korupsi PLTU
-
Kolaborasi dengan China, Menkes Ungkap Ada Peluang Indonesia Produksi Vaksin DBD Berbasis mRNA
-
Dugaan Perundungan PPDS Anestesi Unsrat Diaudit, Kemenkes Target Rampung 2 Pekan
-
Demokrat Warning 'Agenda Terselubung' di RUU Pemilu, Ada Upaya Batasi Pencalonan Presiden!
-
Massa Pendukung MBG Kecewa Berat, Pimpinan BGN Ogah Temui Pendemo
-
Target Rampung Sebelum 2029, Restorasi Candi Prambanan Diprediksi Pikat Turis India
-
Polri Geledah 8 Lokasi Terkait Dugaan Korupsi dan TPPU Kasus PLN, Asabri, hingga Krakatau Steel