- Tambakrejo dulu terancam abrasi parah, dengan rumah-rumah hilang dan warga hidup dalam kecemasan setiap kali air pasang.
- Inisiatif warga menanam mangrove sejak 2011, dipimpin Juraemi dari CAMAR, memulihkan pesisir menahan abrasi, memulihkan ekosistem, hingga menarik pengunjung.
- Kini pesisir mulai pulih, ditandai sabuk hijau mangrove yang melindungi pantai dan membuka peluang ekonomi, membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil yang dirawat konsisten.
Suara.com - Garis pantai Tambakrejo, Semarang, dulu identik dengan satu kata abrasi. Rumah-rumah hilang digerus gelombang, tambak tenggelam perlahan, dan setiap kali air laut pasang, warga hidup dalam kecemasan.
Pesisir terus mundur dari tahun ke tahun, sementara masyarakat tak punya banyak pilihan selain bertahan dan berharap keadaan membaik.
Perubahan baru terasa ketika sekelompok warga memutuskan melakukan sesuatu yang tampak sederhana tetapi mendasar: menanam mangrove. Dari langkah kecil itu, sebuah pemulihan panjang mulai bergerak.
Juraemi, Ketua Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun (CAMAR), masih ingat hari ia mulai memahami dunia mangrove, 2 Desember 2011.
“Sedikit-sedikit saya belajar mengenali jenis-jenis mangrove, progres kehidupannya, pemanfaatannya,” ujarnya.
Saat itu ia hanya mengenal istilah yang familier bagi warga Jawa Tengah bongkok atau bakau. Namun seiring waktu, lewat pelatihan dan banyak belajar secara otodidak, pengetahuannya berkembang. Ia mulai memahami bahwa mangrove memiliki keragaman yang jauh lebih luas.
“Dalam pelatihan disebut ada 105 jenis mangrove. Tapi yang kami pahami dan yang tumbuh baik di sini dua kasta: Rhizophora dan Avicennia,” jelasnya.
Rhizophora mucronata menjadi jenis utama yang mereka tanam untuk menahan abrasi, sementara Avicennia terbukti paling adaptif menghadapi kondisi campuran air asin dan tawar di Tambakrejo.
Dari Menahan Ombak, Ekosistem Ikut Bangkit
Baca Juga: PP 27/2025 Dorong Investasi Hijau, Mangrove Jadi Pilar Ekonomi Berkelanjutan
Pemulihan pesisir tidak terjadi dalam hitungan bulan. Tapi mangrove memberi dampak awal yang paling dirindukan warga abrasi berhenti memakan daratan.
“Yang paling terasa itu mangrove mengurangi abrasi,” kata Juraemi.
Akar-akar mangrove menahan gelombang, menangkap sedimen, dan perlahan menstabilkan tanah yang dulu terus terkikis.
Dengan perlahan, pesisir mulai “tumbuh” kembali.
Bersamaan dengan itu, kehidupan pun ikut pulih. Di bawah rimbun mangrove, kepiting kembali berkembang biak, ikan kecil muncul untuk memijah, dan burung datang berteduh serta membuat sarang. Ekosistem yang dulu sepi kini kembali hidup.
Secara ekonomi, perubahan memang tidak drastis, tetapi mulai terasa. Ketika kawasan ini dikenal sebagai ruang edukasi, tamu datang berkunjung, membuka peluang bagi warga untuk berjualan dan menyediakan wisata alam sederhana. Bahkan daun mangrove jenis tertentu kini bisa diolah menjadi keripik, memberi tambahan pendapatan kecil tapi berarti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Rupiah Keok Lawan Dolar AS Pagi Ini, Jadi Mata Uang Paling Loyo di Asia
-
Kronologi Penembakan Brutal di The Shady Pig Canggu: Satu Peluru Tembus Dua Korban
-
Geely Coolray Masuk Indonesia Berbekal Mesin Turbo, Siap Tantang SUV Jepang
-
Ulasan Series Running Point, Ketika Ratu Pesta Menjadi Presiden Klub Basket
-
Bikin EV Kalah Saing: Toyota dan BMW Kembangkan Bensin Terbarukan, Apa Bahannya?
-
Pertimbangkan Beli, Harga Emas Antam Dipatok Rp2.341.000/Gram
-
Argentina Tumbang, Spanyol Rebut Gelar Juara Piala Dunia 2026
-
Manga Tougen Anki Tembus 6 Juta Kopi yang Beredar, Popularitas Terus Naik
-
Sejajar Pele dan Beckenbauer, Pau Cubarsi Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026
-
Kebiasaan Duduk Berjam-jam Bisa Ganggu Fungsi Otak