- Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf, mendorong penetapan status Bencana Nasional atas bencana alam di Sumatera.
- Dede Yusuf menyoroti lebih dari 300 korban jiwa dan kelumpuhan daerah akibat bencana alam yang melanda Sumatera.
- Dede mengapresiasi rencana modifikasi cuaca dan menekankan mitigasi jangka panjang akibat alih fungsi lahan.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, mendorong pemerintah pusat untuk segera menetapkan status Bencana Nasional atas rentetan bencana alam yang melanda wilayah Sumatera.
Hal ini disampaikan Dede mengingat skala dampak bencana yang kian memprihatinkan, baik dari sisi jumlah korban jiwa maupun kelumpuhan infrastruktur pemerintahan daerah.
"Kondisi ini memang kami sangat mendukung agar menjadi bencana nasional. Karena kalau kita berbicara sebagai bencana nasional, maka seluruh perangkat, baik pemerintahan dalam negeri, pemerintah daerah provinsi, hingga pusat, itu harus turun tangan bahu-membahu," ujar Dede di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025).
Politisi Partai Demokrat ini menyoroti tingginya angka korban jiwa yang kini dilaporkan telah mencapai lebih dari 300 orang. Selain itu, kerusakan harta benda dan infrastruktur dinilai sudah tak terhitung lagi.
Alasan mendasar perlunya status Bencana Nasional, menurut Dede, adalah kondisi pemerintahan daerah yang saat ini tidak berdaya menangani dampak bencana sendirian.
"Yang paling perlu kita perhatikan adalah bahwa saat ini kondisi pemerintah daerah itu lumpuh, hampir sebagian lumpuh. Dan kita membutuhkan segala penanganan dengan baik," tegasnya.
Sebagai pimpinan Komisi II yang bermitra dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Dede mendorong adanya koordinasi intensif agar pelayanan publik di daerah terdampak tidak terhenti total.
Ia menerima laporan bahwa aliran listrik dan jaringan internet di lokasi bencana terputus, padahal fasilitas vital seperti rumah sakit dan sekolah harus tetap beroperasi.
"Komisi II tentunya mendorong agar mitra-mitra kami, dalam konteks ini adalah Kemendagri, berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar pelayanan publik tetap berjalan sebagaimana mestinya," katanya.
Baca Juga: Kondisi Sumatera Memburuk, Ferry Irwandi Desak Penetapan Bencana Nasional
Ia juga mengimbau daerah-daerah lain yang tidak terdampak untuk turut serta membantu penanganan pelayanan publik di wilayah bencana.
Terkait penanganan teknis, Dede Yusuf mengapresiasi langkah Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang berencana menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi curah hujan yang ekstrem.
"Alhamdulillah saya dengar informasi bahwa Menko Infrastruktur sudah melakukan rencana untuk membuat cuaca buatan (modifikasi cuaca), untuk mencegah agar curah hujan tidak terlalu tinggi," ungkapnya.
Kendati begitu, Dede mengingatkan bahwa mitigasi jangka panjang harus menjadi prioritas. Ia menyoroti faktor alih fungsi lahan yang masif di Sumatera sebagai salah satu pemicu utama bencana.
"Kondisi Sumatera ini banyak sekali hutan yang sudah beralih fungsi menjadi perkebunan. Dan ini bisa terjadi di beberapa wilayah lainnya," tuturnya.
Untuk itu, ia meminta mitigasi tidak hanya difokuskan pada daerah yang saat ini terdampak seperti Tapanuli Tengah dan Sibolga, melainkan juga wilayah sekitarnya yang memiliki potensi kerawanan serupa akibat perubahan fungsi lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Bukan Hanya Hutan, Blue Carbon Jadi Kunci Baru Redam Krisis Iklim: Seberapa Efektif?
-
Senat AS Menolak Lagi! Upaya Rem Kewenangan Perang Donald Trump ke Iran Kandas
-
Napi Korupsi Ngopi di Kendari Viral, Ini 7 Fakta Supriadi Eks Syahbandar Kolaka
-
Tegang! Upaya Eksekusi Rumah Dinas TNI di Slipi Diwarnai Adu Mulut, Warga Minta Prabowo Turun Tangan
-
Ayah Pelaku Penembakan di Turki Masih Aktif sebagai Polisi, Punya Jabatan Mentereng
-
Iran Mau Hukum Gantung Perempuan Pertama Buntut Aksi Demo Anti Rezim
-
DPR Ingatkan Pemerintah: Sengketa Lahan Tanah Abang Harus Tuntas Sebelum Bangun Rusun Subsidi
-
Beda Peran Laut Merah dan Selat Hormuz, Akan Ditutup Iran?
-
KPK Dalami Dugaan Pemerasan THR di Cilacap, 7 Pejabat Diperiksa sebagai Saksi
-
Update Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS: 3 Perwira dan 1 Bintara TNI Segera Disidang!