News / Internasional
Minggu, 01 Maret 2026 | 22:24 WIB
Foto sepatu Ali Khamenei viral dalam kenangan warganya
Baca 10 detik
  • Kematian Ali Khamenei pada Maret 2026 memicu ingatan publik terhadap foto kunjungannya ke wilayah gempa Kermanshah 2017.
  • Foto kunjungan pasca-gempa menyoroti kesederhanaan Khamenei melalui sepasang sepatu usang yang dikenakannya.
  • Detail kesahajaan tersebut menjadi narasi personal yang melekat, kontras dengan dinamika politik kepemimpinan selama tiga dekade.

Suara.com - Kabar wafatnya Ali Khamenei pada Sabtu, 1 Maret 2026, mengguncang Iran dan menyita perhatian dunia. Namun di tengah sorotan geopolitik dan dinamika kekuasaan yang menyertainya, rakyat Iran justru kembali mengingat satu detail sederhana yang pernah terekam kamera bertahun-tahun lalu yakni sepasang sepatu usang yang dikenakannya saat melangkah di antara puing-puing gempa Kermanshah 2017.

Di saat negeri itu diliputi duka, foto tersebut kembali beredar luas, bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai cerminan kesederhanaan yang kini dikenang sebagai bagian dari warisan hidupnya.

Foto itu diambil ketika ia mengunjungi wilayah yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 7,3 magnitudo di Provinsi Kermanshah pada November 2017.

Di tengah debu dan reruntuhan, Ali Khamenei berjalan perlahan, menyapa para warga yang kehilangan rumah dan keluarga. Tidak ada atribut kemewahan yang menonjol. Jubah cokelat sederhana, sorban hitam yang menjadi ciri khasnya, dan sepatu yang tampak telah lama dipakai menjadi bagian dari momen yang kemudian melekat dalam ingatan publik.

Bertahun-tahun kemudian, setelah kabar wafatnya tersebar, foto itu kembali viral di media sosial.

Banyak warganet menyoroti lingkaran merah yang menandai alas kaki sang pemimpin. Bagi sebagian masyarakat, detail kecil tersebut menjelma menjadi sebuah nilai warisan, bahwa di balik posisi tertinggi dalam struktur Republik Islam Iran, terdapat narasi kesahajaan yang ingin ditampilkan atau setidaknya ingin dikenang.

Gelombang duka juga terasa di ruang digital. Sejumlah unggahan dari dalam dan luar Iran menggambarkan kesedihan yang mendalam.

Salah satu yang banyak dibagikan berasal dari akun Ali Abdul Sahib Al-Jubouri (@zn_qm8) di platform X. Akun tersebut, yang kerap memuat pandangan religius dan politik dalam bahasa Arab, menuliskan ungkapan emosional tentang sosok yang ia sebut sebagai pemimpin yang hidup dalam kesederhanaan dan wafat dalam keadaan berpuasa.

Dalam unggahannya, ia menulis:

Baca Juga: BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel

“Wahai junjunganku,
Aku meneteskan air mata darah untukmu.
Engkau wafat dalam keadaan berpuasa dan hidup dalam keadaan berpuasa.
Terima kasih karena tidak mengecewakan kami, orang-orang sederhana ini…
Allah Maha Besar.”

Ungkapan itu merupakan ekspresi personal, bukan pernyataan resmi, namun mencerminkan bagaimana sebagian pendukung memandang Khamenei bukan sekadar figur politik, melainkan simbol spiritual dan moral.

Selama lebih dari tiga dekade memimpin sejak 1989, Khamenei berada di pusat berbagai peristiwa penting yakni dari tekanan sanksi internasional, ketegangan dengan Barat, hingga pergolakan regional yang silih berganti. Namanya kerap menghiasi berita-berita besar dunia. Namun di tengah perdebatan global mengenai kebijakan dan sikap politiknya, memori yang kini mencuat justru bersifat personal dan visual.

Bagi sebagian rakyat Iran, kesederhanaan yang ditampilkan dalam kunjungan-kunjungan semacam itu membentuk citra kepemimpinan yang dekat dengan rakyat kecil.

Dalam budaya politik Iran, terutama dalam tradisi Revolusi Islam, simbol kesahajaan memiliki makna kuat.

Tentu, warisan Khamenei akan tetap menjadi bahan diskusi panjang di dalam dan luar negeri. Ada yang mengenangnya sebagai penjaga ideologi revolusi, ada pula yang mengkritik keras arah kebijakan di bawah kepemimpinannya.

Namun dalam momen duka ini, ruang publik Iran dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang lebih personal yakni potret lama, kutipan pidato, hingga gambar sepatu sederhana yang kembali diperbincangkan.

Sejarah kerap mencatat para pemimpin melalui keputusan besar dan peristiwa dramatis. Tetapi dalam ingatan kolektif, sering kali justru detail kecil yang bertahan paling lama.

Di antara berbagai simbol yang ditinggalkannya, jejak telapak kaki di atas tanah Kermanshah mungkin akan tetap hidup sebagai salah satu narasi tentang bagaimana seorang pemimpin ingin dikenang, bukan hanya dari kursi kekuasaan, tetapi dari langkah-langkahnya di tengah rakyatnya.

Load More