- Bendera merah di Masjid Jamkaran, Qom, melambangkan darah martir Syiah dan seruan keadilan, sering muncul saat ketegangan politik meningkat.
- Ungkapan "Ya la-Thara al-Husayn" pada bendera merujuk pada semangat pembalasan darah Husayn yang gugur di Karbala abad ketujuh.
- Pengibaran bendera ini, seperti pasca-kematian Soleimani (Januari 2020), adalah seruan keadilan, bukan deklarasi perang resmi.
Suara.com - Dalam tradisi Islam Syiah, warna merah kerap membawa makna yang dalam, terutama ketika dihubungkan dengan darah martir dan keadilan yang belum ditegakkan.
Salah satu simbol paling kuat dari makna tersebut adalah bendera merah yang berkibar di atas Masjid Jamkaran, sebuah lambang yang kerap muncul ketika ketegangan politik dan emosional mencapai puncaknya.
Masjid Jamkaran bukan sekadar tempat ibadah. Terletak di kota suci Qom, masjid ini memiliki makna religius dan historis yang penting bagi umat Syiah, yang percaya pada konsep Imam Mahdi dan nilai-nilai perjuangan serta kesetiaan.
Dalam tradisi Syiah, warna merah melambangkan darah martir dan kerinduan akan keadilan ilahi. Ungkapan Arab yang sering tertulis pada bendera merah tersebut adalah “Ya la-Thara al-Husayn”, yang berarti “Wahai para pembalas darah Husayn”, sebuah seruan honorifik yang secara simbolik memanggil kembali semangat pembalasan darah yang tertumpah di Karbala pada abad ke-7.
Salah satu momen paling menonjol dalam penggunaan bendera merah di Masjid Jamkaran terjadi setelah pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh serangan drone Amerika Serikat di Irak pada Januari 2020.
Ketika bendera merah itu dikibarkan atas nama Soleimani, itu dimaknai oleh sejumlah pengamat dan banyak warga Syiah sebagai panggilan balas dendam dan janji keadilan untuk darahnya yang dianggap telah tertumpah tanpa pembalasan.
Dalam tradisi Syiah, darah martir Imam Husayn, cucu Nabi Muhammad SAW, menjadi pusat ritus paling penting, terutama saat peringatan Asyura. Karena itu, red flag sering muncul di acara-acara keagamaan atau pertemuan besar umat Syiah untuk mengingatkan pengikutnya akan pengorbanan dan panggilan untuk keadilan ilahi.
Penggunaan bendera merah kembali menjadi sorotan global pada tahun-tahun berikutnya, termasuk di tengah ketegangan antara Iran dan Israel yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Setiap kali ketegangan meningkat, bendera merah di atas kubah Masjid Jamkaran kembali muncul sebagai simbol yang kuat, menandai tidak hanya duka tetapi juga pesan kepada para pendukungnya tentang pemberian balas secara moral atau spiritual, bukan otomatis deklarasi perang.
Baca Juga: Ali Khamenei Wafat, Kesederhanaan Sepatu dan Telapak Kakinya Dikenang Rakyat Iran
Pada 13 Juni 2025 juga mencatat bahwa pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran bukan merupakan deklarasi perang, melainkan peringatan dan seruan keadilan atas darah yang diyakini telah tertumpah secara tidak adil dalam konflik yang sedang berlangsung.
Bendera merah di Jamkaran telah menjadi simbol yang hidup antara religiositas dan politik, bukan karena ia mengandung instruksi militer langsung, tetapi karena ia memadukan keyakinan keagamaan mendalam dengan sentimen nasional yang kuat pada saat-saat tertentu.
Ia berfungsi sebagai pengingat sejarah dan moral kepada para penganut Syiah bahwa darah yang tertumpah membutuhkan diawasi dan dibalas dalam konteks keadilan ilahi.
Berita Terkait
-
Ali Khamenei Wafat, Kesederhanaan Sepatu dan Telapak Kakinya Dikenang Rakyat Iran
-
Simbol Balas Dendam, Bendera Merah Berkibar di Masjid Jamkaran Usai Ali Khamenei Gugur
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
-
Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan
-
Siapa Pengganti Ali Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Diserang Rudal
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC
-
Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI
-
Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK
-
Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir
-
Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat
-
Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!
-
Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass
-
Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!
-
Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah
-
Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar