- Bendera merah simbol balas dendam dikibarkan di kubah Masjid Jamkaran, Qom, menyusul serangan udara terhadap Pemimpin Tertinggi Iran.
- Bendera merah dalam tradisi Syiah melambangkan kemarahan dan janji pembalasan atas darah martir, berakar pada tragedi Karbala.
- Pengibaran bendera ini memicu reaksi global dan berpotensi memperkeruh situasi geopolitik tegang di kawasan Timur Tengah.
Suara.com - Sebuah momen sarat simbol mengguncang dunia Islam setelah bendera merah yang dikenal sebagai “bendera balas dendam” berkibar di atas kubah Masjid Jamkaran, salah satu situs ziarah paling sakral di kota Qom, Iran.
Pengibaran bendera tersebut segera memicu reaksi luas dan menjadi sorotan media global. Dalam tradisi Syiah, bendera merah diyakini sebagai ungkapan kemarahan sekaligus janji pembalasan atas darah yang tertumpah.
Sejumlah laporan media internasional menyebut, simbol itu dikibarkan setelah rentetan serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, figur tertinggi dalam hierarki politik dan religius Republik Islam Iran, dalam serangan udara di Teheran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Bendera merah itu bukan sekadar kain berwarna. Dalam tradisi Syiah, warna merah melambangkan darah para martir dan menjadi penanda bahwa keadilan atas darah tersebut diyakini belum ditegakkan. Simbol ini berakar pada tragedi Karbala abad ke-7, ketika Husayn ibn Ali gugur dalam pertempuran yang kemudian menjadi fondasi spiritual dan emosional komunitas Syiah.
Tulisan yang kerap tertera pada bendera itu berbunyi “Ya Latharat al-Husayn”, yang berarti seruan untuk membalas darah Husayn. Bagi penganut Syiah, kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral dan religius untuk menegakkan keadilan.
Dalam konteks Iran kontemporer, simbol ini juga memiliki dimensi politik. Pengibaran serupa pernah terjadi pada Januari 2020 setelah tewasnya Jenderal Qasem Soleimani dalam serangan drone Amerika Serikat di Irak. Saat itu, bendera merah juga dikibarkan di Masjid Jamkaran dan menjadi penanda kemarahan nasional Iran.
Akun resmi Masjid Jamkaran di media sosial menyebut pengibaran bendera “Ya Latharat al-Husayn” sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai kejahatan “Amerika dan Zionis”, menyiratkan pesan moral sekaligus politik.
Di dalam negeri, simbol tersebut muncul di tengah suasana duka dan kemarahan yang meluas. Warga dan tokoh keagamaan memadukan doa, peringatan, dan pernyataan sikap di berbagai kota.
Meski demikian, dalam tradisi Syiah, bendera merah tidak selalu dimaknai sebagai deklarasi perang. Ia lebih sering dipahami sebagai simbol bahwa janji keadilan belum tuntas, bahwa darah yang tertumpah belum dianggap terbayar secara adil.
Baca Juga: Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan
Namun secara geopolitik, pengibaran bendera ini berpotensi memperkeruh situasi Timur Tengah yang sudah tegang. Amerika Serikat dan sekutunya disebut meningkatkan kewaspadaan, sementara komunitas internasional memantau kemungkinan respons Iran dalam beberapa waktu ke depan.
Pada akhirnya, pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran bukan sekadar visual dramatis di media sosial. Ia mencerminkan lapisan sejarah, teologi, dan politik yang saling bertaut, di mana simbol spiritual dapat berubah menjadi pesan geopolitik yang menggema jauh melampaui kubah sebuah masjid di Qom.
Berita Terkait
-
Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan
-
Bukan Sekadar Menyesal: Langkah Mengejutkan Indonesia untuk Mendinginkan Konflik AS - Iran
-
Siapa Pengganti Ali Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Diserang Rudal
-
Dino Patti Djalal Duga Agresi Militer AS ke Iran Upaya Pengalihan Isu Epstein Files
-
Ali Khamenei Gugur, Anwar Abbas Sebut Donald Trump Bandit Terbesar Abad Ini
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
3 Lip Balm Rp30 Ribuan yang Bagus Atasi Bibir Kering Menurut Review Pengguna
-
Persib Bandung Resmi Melepas Dion Markx ke Persita Tangerang demi Menit Bermain
-
Penyekatan Demonstrasi dan Nyawa Warga: Pejompongan Jangan Jadi 'Zona Berbahaya'
-
Sekolah Terdampak Gempa NTT Mulai Belajar Besok, Metode Disesuaikan Kondisi
-
Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Pertajam Ekosistem Klaster Usaha di Merauke
-
Polri Gandeng Garda Satya NKRI Jaga Kamtibmas dan Ketahanan Masyarakat
-
Menunggu Desember: Apa yang Masih Mengganjal dari RUU Perampasan Aset?
-
Karhutla Makin Membara di Kalteng, Hotspot Bertambah 876 Jadi 5.391 Titik
-
5 Sifat dan Karakter Utama Zodiak Cancer Pria, Hangat di Balik Kesan yang Misterius
-
Makin Colorful Makin Centil, Bagaimana Outfit Berwarna Tetap Enak Dilihat?