- Ali Khamenei wafat, silsilah keturunannya sebagai sayyid jadi sorotan publik dunia.
- Gelar sayyid Ali Khamenei diyakini tersambung ke Nabi Muhammad generasi ke-38.
- Status sayyid perkuat legitimasi simbolik Ali Khamenei di tengah krisis Timur Tengah.
Suara.com - Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel di Teheran memicu gelombang reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Sejumlah faksi yang berseberangan dengan Washington dan Tel Aviv menilai kematian Khamenei sebagai eskalasi besar yang mengancam stabilitas kawasan.
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, perhatian publik juga tertuju pada sosok pribadi Khamenei, khususnya mengenai latar belakang garis keturunannya. Ia diyakini memiliki silsilah yang tersambung dengan keluarga Nabi Muhammad SAW.
Melansir Encyclopaedia Britannica, Ali Khamenei menyandang gelar sayyid. Dalam tradisi Islam, istilah sayyid merujuk pada individu yang diyakini sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad melalui putrinya, Fatimah, dan menantunya, Ali bin Abi Thalib. Sebagai simbol garis keturunan tersebut, para sayyid dalam komunitas Syiah umumnya mengenakan sorban berwarna hitam.
Britannica menjelaskan bahwa status ini didasarkan pada tradisi genealogis yang kuat dalam masyarakat Muslim. Meski demikian, belum ada verifikasi ilmiah modern, seperti pengujian genetik independen, untuk membuktikan klaim silsilah tersebut secara absolut.
Sementara itu, ulasan media internasional mengenai latar belakang keluarganya menyebutkan bahwa Khamenei berasal dari garis Sayyid Hosseini. Garis keturunan ini secara tradisional ditelusuri hingga ke Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, melalui Imam Zain al-Abidin. Dalam literatur Syiah, silsilah Khamenei diyakini tersambung hingga generasi ke-38 dari Rasulullah.
Para peneliti sejarah Islam menekankan bahwa klaim genealogis semacam ini bersandar pada tradisi dokumentasi keluarga dan pengakuan otoritas keagamaan, bukan pada metode sains modern. Dalam konteks sosial-keagamaan di Iran, status sebagai sayyid berfungsi memperkuat legitimasi simbolik seorang ulama, meskipun bukan menjadi satu-satunya basis otoritas politik dan kenegaraan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Bela Donald Trump, Ketua DPR AS Sebut Paus Leo XIV Harusnya Siap Dikomentari
-
PM Armenia Pamer Kedeketan dengan Rusia, Komunikasi Sangat Intensif
-
Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran
-
Rusia Bela Hak Nuklir Iran, Lavrov Sebut Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai
-
Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru
-
H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?
-
Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Polri Longgarkan Syarat Pajak Kendaraan Bekas di Seluruh Daerah!
-
Eropa Bersiap AS Keluar dari NATO, Trump yang 'Mencla-mencle' Jadi Sorotan Jerman