- Ribuan pemuda menghadiri Turun Tangan Festival 2025 di Taman Ismail Marzuki untuk berkolaborasi isu sosial.
- Anies Baswedan menegaskan bahwa perubahan bangsa berasal dari kepedulian warga, bukan semata pemimpin.
- Festival tersebut mendorong pengakuan kerelawanan sebagai infrastruktur sosial yang strategis bagi pembangunan bangsa.
Suara.com - Ribuan anak muda dari berbagai daerah memadati kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu pagi (7/12/2025). Mereka hadir dalam Turun Tangan Festival (TT Fest) 2025, sebuah perhelatan yang mempertemukan relawan, komunitas, dan generasi muda yang memilih terlibat dalam isu sosial, pendidikan, lingkungan, hingga demokrasi.
Di tengah rangkaian diskusi dan ruang kolaborasi, satu pesan mengemuka: perubahan tidak lahir dari elite, melainkan dari warga yang mau turun tangan. Pesan itu disampaikan langsung oleh Anies Baswedan, Founder Gerakan TurunTangan, dalam sesi Kelas Kebangsaan yang menjadi puncak acara.
“Bangsa ini besar bukan karena kekuatan pemimpinnya, tetapi karena kepedulian warganya,” ujar Anies di hadapan peserta yang didominasi anak muda.
Ia menegaskan bahwa kualitas demokrasi Indonesia tidak ditentukan semata di ruang kekuasaan, tetapi tumbuh dari keterlibatan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Anies menyoroti peran relawan yang kerap dipandang sebagai aktivitas sampingan, bukan bagian dari strategi pembangunan bangsa.
Padahal, menurutnya, kerelawanan seharusnya diperlakukan sebagai infrastruktur kebangsaan yang menopang kehidupan sosial dan demokrasi.
“Jika kerelawanan diakui sebagai infrastruktur sosial, maka kita harus merancang cara kerjanya agar berkelanjutan, terhubung, dan memiliki daya ubah yang nyata terhadap kebijakan,” kata Anies.
Ia juga menekankan bahwa kerja relawan sejatinya adalah praktik politik dalam bentuk paling mulia: mengurus kehidupan bersama.
Dalam situasi ketika politik kerap diidentikkan dengan perebutan kuasa, Anies mengajak anak muda untuk melihat demokrasi dari perspektif yang lebih membumi.
Baca Juga: Apa Arti Istilah NPC? Dipakai Anies untuk Kritik Oxford soal Penemu Rafflesia Hasseltii
Indonesia, kata dia, bukan proyek elite, melainkan karya bersama warga yang memilih peduli, terlibat, dan bergerak.
Semangat itu terasa di TT Fest 2025 yang menghadirkan berbagai kelas kapasitas, diskusi demokrasi, hingga Indonesia Volunteer Outlook 2026.
Festival ini juga membuka ruang pertemuan antara komunitas akar rumput dengan akademisi, lembaga sosial, hingga mitra korporasi, untuk mendorong kolaborasi nyata.
Bagi peserta, festival ini bukan sekadar ajang belajar, melainkan ruang menemukan kembali harapan.
Ketua Gerakan TurunTangan, Herry Dharmawan, menyebut antusiasme peserta sebagai bukti bahwa anak muda tidak apatis. Mereka hanya membutuhkan ruang yang aman untuk terhubung dan bergerak bersama.
“Turun Tangan harus menjadi gerakan bersama. Anak-anak muda tidak cukup bergerak sendiri, tapi harus mengajak sebanyak mungkin pihak sebagai sebuah movement,” ujarnya.
Menutup pesannya, Anies berharap TurunTangan berkembang melampaui penyelenggara acara menjadi “sekolah kader warga” yang melahirkan generasi dengan keberanian moral dan kemampuan mengorganisir.
“Perubahan dimulai ketika warga biasa memutuskan untuk turun tangan menjaga republik ini,” pungkas Anies.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Profil Mitchell Baker Bomber Keturunan Semarang-Yogya Harapan Baru Timnas Indonesia
-
BGN Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Menu MBG
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
RUU Sisdiknas Dikritik, Wewenang Menteri Pilih Rektor Dinilai Ancam Demokrasi Kampus
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Review Viva Peeling Serum, Harga Rp20 Ribuan tapi Ampuh Bikin Wajah Glowing?
-
Dinamika atau Ancaman? Ini Kata Sekjen Golkar soal Kaesang Incar Kursi DPR di Jateng
-
Starting XI Timnas Indonesia vs Kamboja: Mitchell Baker Jadi Andalan!
-
Mendagri Ungkap Anggaran Pemulihan Banjir Sumatra Capai Rp 100,1 Triliun
-
Insentif Kendaraan Listrik Bakal Diprioritaskan untuk Produk Nasional