- Koalisi Responsibank mengungkap total pembiayaan US$ 42,9 miliar mengalir ke sektor berisiko tinggi di Sumatera (2014–2025).
- Bank Mandiri, BRI, dan BNI termasuk kreditur terbesar yang menyalurkan dana signifikan kepada perusahaan di Sumatera.
- PT North Sumatera Hydro Energy menerima pembiayaan terbesar, mendorong desakan peningkatan transparansi perbankan terkait risiko ekologis.
Suara.com - Koalisi Responsibank menyoroti keterlibatan lembaga keuangan dalam krisis lingkungan yang kian memburuk di Sumatera. Di tengah meningkatnya bencana ekologis dan konflik sosial, aliran pembiayaan ke sektor-sektor berisiko tinggi masih terus berlangsung.
Berdasarkan data Forests & Finance periode 2014–2025, total pembiayaan yang mengalir ke sejumlah perusahaan di sektor berisiko di Sumatera mencapai US$ 42,9 miliar. Nilai tersebut terdiri dari pinjaman sebesar US$ 16,9 miliar serta pembiayaan penjaminan (underwriting) senilai US$ 26,1 miliar.
Aliran dana tersebut dinilai tetap terjadi meski risiko ekologis dan sosial di wilayah operasi perusahaan terus meningkat. Dalam daftar kreditur terbesar, sejumlah bank nasional tercatat menyalurkan pembiayaan signifikan. Bank Mandiri menempati posisi teratas dengan nilai pembiayaan US$ 3,75 miliar, disusul Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar US$ 1,65 miliar dan Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar US$ 1,14 miliar. Selain perbankan nasional, lembaga keuangan internasional dari China, Jepang, Singapura, dan Inggris juga teridentifikasi aktif membiayai sektor-sektor tersebut.
Dari sisi kelompok usaha, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tercatat sebagai penerima pembiayaan terbesar dengan total US$ 23 miliar, sebagian besar melalui skema penjaminan. Berikutnya adalah PT Agincourt Resources sebesar US$ 9,87 miliar dan PTPN III senilai US$ 7,54 miliar.
Koalisi Responsibank menegaskan bahwa angka tersebut baru mencerminkan sebagian kecil dari total pembiayaan yang dapat ditelusuri, mengingat masih minimnya keterbukaan data terkait pembiayaan dan struktur korporasi di Indonesia.
Kondisi ini memicu kritik keras terhadap transparansi perbankan. Abdul Haris dari TuK INDONESIA menekankan bahwa keterbukaan informasi mengenai risiko lingkungan semestinya menjadi standar wajib bagi perusahaan dan lembaga keuangan yang mengelola sumber daya publik.
“Bencana ekologis ini menunjukkan bahwa risiko lingkungan yang diabaikan pada akhirnya berubah menjadi beban sosial dan ekonomi yang harus ditanggung publik,” ujarnya, Senin (22/12/2025).
Ia menambahkan, sulitnya mengakses data perusahaan dan pembiayaan mencerminkan lemahnya akuntabilitas. “Hal ini justru memperkuat urgensi pengetatan transparansi dan kewajiban pelaporan,” katanya.
Selain perbankan domestik, lembaga keuangan asing juga masih aktif membiayai perusahaan besar seperti PT NSHE, PT Agincourt Resources, dan PTPN III. Koalisi Responsibank pun mendesak industri keuangan untuk segera melakukan transisi pembiayaan demi menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Baca Juga: Kebun Sawit di Papua untuk Swasembada Energi, Bagaimana Risikonya?
Senada, Dwi Rahayu Ningrum dari PRAKARSA menekankan peran strategis pasar modal dan perbankan dalam merespons krisis ekologis. Menurutnya, penghentian pendanaan pada kegiatan destruktif dan peralihan ke pembiayaan berkelanjutan justru menjadi langkah mitigasi risiko bagi sektor keuangan itu sendiri.
“Dengan memprioritaskan pembiayaan berkelanjutan, perbankan sebenarnya sedang mengamankan masa depan portofolionya dari risiko ekologis yang semakin nyata. Ini bukan soal menambah beban, tetapi menjamin keberlanjutan bisnis jangka panjang,” ujarnya.
Reporter: Safelia Putri
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Sukses, Peserta dari Empat Provinsi Antusias Ikuti Workshop "AI Tools for Journalists" di Palembang
-
KPK Tahan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, Buntut Dugaan Minta Fee Rp850 Juta
-
Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK
-
Soal Usul Duet Prabowo-Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Wacana dan Hiburan Buat Rakyat
-
Dasco Ungkap Arahan Prabowo di HUT ke-18 Gerindra: Jaga Uang Rakyat, Jangan Berbuat Perilaku Tercela
-
Gerindra Akhirnya Minta Maaf, Atribut Partainya Ganggu Masyarakat di Jalan
-
Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian
-
Semangat Berdikari, Soekarno Run Runniversary 2026 Siapkan Beasiswa Pelajar dan Inovasi 'Zero Waste'
-
Anggota DPRD DKI beberkan kondisi memprihatinkan Flyover Pesing