- Sosiolog sebut kebahagiaan rakyat Indonesia tidak hanya diukur dari sisi ekonomi.
- Faktor solidaritas, gotong royong, dan perbandingan sosial jadi penentu kebahagiaan.
- Spiritualitas menjadi penopang dan mekanisme bertahan di tengah ketidakpastian hidup.
Suara.com - Rasa haru Presiden Prabowo Subianto atas hasil survei yang menobatkan rakyat Indonesia sebagai salah satu yang paling bahagia di dunia membuka sebuah pertanyaan mendasar; benarkah masyarakat Indonesia bahagia, meskipun secara ekonomi banyak yang masih hidup sederhana?
Menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), BG Widyanta, kebahagiaan masyarakat Indonesia tidak bisa dibaca secara sederhana, apalagi jika hanya diukur dari indikator ekonomi.
“Dalam perspektif sosiologi, kebahagiaan itu tidak bisa direduksi hanya pada indikator ekonomi semata,” kata Widyanta, Selasa (6/1/2026).
Widyanta menjelaskan, salah satu faktor kuncinya adalah cara masyarakat Indonesia memaknai kesejahteraan, yang bersifat relatif, bukan absolut. Perbandingan yang dilakukan cenderung bersifat horizontal (dengan tetangga atau komunitas sekitar), bukan vertikal (dengan kelas sosial yang jauh di atas).
"Selama mereka merasa berada dalam kondisi yang relatif sama dengan lingkungan sekitarnya, rasa kesejahteraan sosial tetap terjaga. Di titik inilah kebahagiaan muncul meski pendapatan terbatas," jelasnya.
Kekuatan Solidaritas dan 'Moral Economy'
Faktor lain yang sangat kuat adalah apa yang disebut ilmuwan James Scott sebagai ‘moral economy’, yang hidup dalam masyarakat kolektif seperti Indonesia. Kehidupan tidak dijalani semata-mata berdasarkan rasionalitas pasar, melainkan melalui ekonomi solidaritas seperti gotong royong dan toleransi.
"Dimensi gotong royong, solidaritas, dan kohesi sosial memberikan rasa aman di dalam jaring sosial. Ada rasa di mana mereka merasa dibutuhkan dan dianggap," jelas Widyanta.
Berbeda dengan masyarakat individualistik, kebahagiaan di Indonesia bersifat kolektif dan hidup dalam relasi keluarga, tetangga, serta perayaan bersama.
Baca Juga: Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor
Spiritualitas sebagai Penopang Makna Hidup
Dimensi terakhir yang tak kalah penting adalah spiritualitas. Menurut Widyanta, kehidupan masyarakat Indonesia yang lekat dengan sistem kepercayaan berfungsi sebagai mekanisme bertahan (coping mechanism) saat menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk ekonomi dan politik.
"Bahkan saat menderita sekalipun, mereka masih bisa memiliki makna hidup. Dan tentu saja itu menjadi semacam coping mechanism bagi masyarakat di dalam ketidakpastian," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
Terkini
-
Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis
-
Ribuan Buruh Geruduk Istana, Tuntut Revisi UMP DKI dan UMSK Jawa Barat
-
Prabowo Tolak Lihat Daftar Perusahaan Pelanggar: 'Takut Ada Teman Saya di Situ'
-
Kalender Akademik Januari-Juni 2026 untuk SD, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA
-
Solusi Login MyASN Digital Bermasalah Usai Ganti Hp
-
Jakarta Diguyur Hujan Ringan Hari Ini, Waspada Kelembapan Udara Meningkat
-
Pemerintah Siapkan Penghapusan Utang untuk UMKM Korban Bencana, Cek Syaratnya!
-
Tambang Emas Ilegal di Cigudeg Sulit Diberantas? Diduga Ada Cepu Bocorkan Razia Polisi
-
Darah Tumpah di Caracas, 75 Tewas Saat Pasukan AS Serbu dan Tangkap Presiden Maduro
-
Wagub Babel Dicecar 10 Jam di Bareskrim, Misteri Ijazah Sarjana Terkuak?