News / Nasional
Sabtu, 21 Februari 2026 | 14:30 WIB
Menteri Luar Negeri Sugiono. [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Baca 10 detik
  • Indonesia berkomitmen mengirimkan hingga 8.000 personel keamanan bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) dunia.
  • Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan komitmen tersebut di Washington D.C. pada hari Jumat, 20 Februari 2026.
  • Pasukan Indonesia dibatasi hanya untuk menjaga masyarakat sipil tanpa terlibat operasi ofensif atau pelucutan senjata.

Suara.com - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga perdamaian dunia dengan menyiapkan pengiriman personel keamanan dalam skala besar.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen mengirimkan hingga 8.000 personel untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF).

Pernyataan ini disampaikan Sugiono di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Jumat (20/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa rencana ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden terkait peran aktif Indonesia dalam stabilitas kawasan dan misi kemanusiaan.

“Kemarin juga kita sudah mendengarkan Bapak Presiden berbicara. Indonesia berkomitmen untuk mengirimkan pasukan. Beliau sampaikan kemarin 8 ribu atau bahkan lebih karena berdasarkan dari rencana komprehensif yang dipaparkan oleh board of peace kemarin, akan ada beberapa region atau beberapa sektor yang secara bertahap nanti akan dilakukan upaya-upaya menjaga perdamaian dan partisipasi ISF ini sendiri,” kata Sugiono.

Pengerahan pasukan ini merupakan bagian dari kekuatan gabungan internasional yang diproyeksikan mencapai 20.000 personel.

Sugiono menekankan bahwa keterlibatan TNI dalam misi ISF didasarkan pada mandat internasional untuk perlindungan sipil, bukan karena kepentingan diplomatik dengan pihak tertentu.

“Ini adalah pasukan yang ditugaskan untuk yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi," kata dia.

"Nah saya kira saya juga perlu menjelaskan karena ini juga perlu disampaikan bahwa petunjuk pelaksanaan daripada mandat ISF ini mengizinkan negara-negara yang berpartisipasi untuk memberikan atau menyumbangkan pasukannya di ISF,” tegasnya.

Baca Juga: Bantuan Dunia Siap Masuk, Pemerintah RI Masih Tangani Sendiri: Apa Alasan di Balik Penolakan?

Meski mengirimkan pasukan dalam jumlah besar, pemerintah Indonesia telah menetapkan batasan operasional yang jelas melalui national caveats. Pasukan Indonesia dipastikan tidak akan terlibat dalam operasi militer ofensif maupun pelucutan senjata.

“National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF, bahwa kita tidak melakukan operasi militer. Kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata. Kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi. Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil kedua belah pihak,” kata dia.

Selain kontribusi pasukan, Indonesia juga mendapatkan kepercayaan besar dengan ditunjuknya perwakilan Indonesia sebagai Deputy Commander Operasi dalam struktur ISF.

Jabatan strategis ini dinilai sebagai bentuk pengakuan dunia internasional terhadap profesionalisme prajurit Indonesia di berbagai misi perdamaian sebelumnya.

“Deputy commander operasi juga merupakan sesuatu yang penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia, kemudian reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan menjaga perdamaian dan saya kira kedudukan ini juga akan bisa memfasilitasi apa yang menjadi tujuan dan niatan kita mengirimkan pasukan ke ISF,” pungkasnya.

Load More