- Bootcamp FIRST bahas energi kereta ramah lingkungan.
- Mahasiswa kritik elektrifikasi karena sumber listrik masih dominan PLTU, bukan energi terbarukan.
- Ada potensi pengalihan beban emisi karbon ke kementerian lain
Suara.com - Membangun transportasi kereta api yang ramah lingkungan bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, tetapi juga menyangkut dari mana sumber energinya berasal.
Hal ini menjadi topik hangat dalam pembukaan Bootcamp Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) yang digelar oleh WRI Indonesia bersama UK PACT di Hotel Mercure Sabang, Jakarta, Senin (19/1).
Diskusi ini semakin menarik ketika Agni, mahasiswa Politeknik Negeri Bandung, menyampaikan tanggapan kritis terkait rencana elektrifikasi kereta api di Indonesia.
Usai pemaparan Managing Director Kynergy Consulting, Rekyan Eckersley, Agni mengajukan sejumlah pertanyaan sekaligus menyampaikan pandangannya.
Ia menilai bahwa membandingkan kemajuan kereta listrik Indonesia dengan Inggris tidak bisa dilakukan secara langsung.
"Ibu membandingkan antara Indonesia dengan UK dari sisi pengembangan elektrifikasi di transportasi di perkeretaapian yang kukira itu nggak apple-to-apple Bu,” ujar Agni.
“Karena kalau kita ingin mengkatalis elektrifikasi transportasi perkeretaapian di Pulau Jawa let’s say, itu 70% dari pembangkitan listrik Pulau Jawa itu dari PLTU ya Bapak Ibu, sedangkan UK itu hampir 80%-nya sudah beralih ke renewable energy," lanjutnya.
Agni menyoroti potensi adanya pengalihan beban emisi karbon ke kementerian lain. Ia menyayangkan sikap para pemangku kebijakan yang gencar menyuarakan elektrifikasi transportasi tanpa memikirkan hulu sumber energinya.
Ia juga mempertanyakan arah kebijakan pemerintah dalam merespons isu tersebut dan secara khusus meminta pandangan dari Unggung Widhiantoro selaku pakar energi yang hadir.
Baca Juga: Kemenhub Dorong Kesetaraan Akses Transportasi Jakarta - Bodetabek untuk Kurangi Kendaraan Pribadi
“Apakah Bapak Ibu di sini hanya 'tanda kutip' memindahkan beban carbon footprint ini ke kementerian sebelah gitu, ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral?" tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Unggung Widhiantoro, Programme Manager IREEM, memaparkan kerumitan sistem kelistrikan Indonesia yang memiliki 460 grid. Saat ini, bauran energi terbarukan baru mencapai 15%, sementara sisanya masih bergantung pada energi fosil. Pemerintah sendiri menargetkan puncak emisi (peaking) pada 2035 menuju emisi nol bersih pada 2060.
Sebagai solusi bagi pihak yang ingin menggunakan energi bersih lebih cepat, Unggung menyarankan mekanisme Renewable Energy Certificate (REC), meski ada konsekuensi biaya tambahan sekitar 10–20%.
"Memang tidak mudah untuk adanya perubahan di sektor ketenagalistrikan tapi bagi institusi yang pengen emisinya nol itu bisa membeli dengan harga yang lebih tinggi misalkan Masnya bisa membeli listrik dengan renewable energy certificate," jelas Unggung.
Sementara itu, Caesar Rollando selaku Indonesia UK PACT Fund Associate menegaskan bahwa program mereka tidak hanya berfokus pada elektrifikasi atau pembangunan di Pulau Jawa saja.
Caesar menjelaskan bahwa melalui program UK PACT, pihaknya berupaya mendorong penurunan emisi dengan cara mengalihkan penggunaan transportasi darat ke moda perkeretaapian secara signifikan.
Hal ini dilakukan karena peralihan kendaraan pribadi menjadi mobil listrik dinilai tidak akan memberikan dampak optimal jika sumber energi listrik yang digunakan belum berkelanjutan.
"Jadi ini yang kita dorong adalah shifting orang dari penggunaan kendaraan pribadi ke kereta api itu emisinya sudah jauh menurun daripada dia menggunakan kendaraan pribadi," pungkas Caesar.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Kemenhub Dorong Kesetaraan Akses Transportasi Jakarta - Bodetabek untuk Kurangi Kendaraan Pribadi
-
WRI Indonesia dan UK PACT Buka FIRST Bootcamp, Cetak Pemimpin Muda untuk Transportasi Sustainable
-
Ada Proyek LRT di Jalan Pramuka, Rute Transjakarta dan Mikrotrans Dialihkan
-
Aksesibilitas Bukan Aksesori: Mewujudkan Keamanan bagi Penumpang Rentan di Transportasi Umum
-
Tanah Amblas Gerus Perkebunan Warga di Aceh Tengah
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL