- Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah serta inflasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
- Halim Alamsyah menekankan pentingnya koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal untuk meningkatkan pasokan valuta asing serta menjaga fundamental ekonomi.
- Piter Abdullah menyatakan bahwa terkikisnya kepercayaan pasar dan spekulasi menjadi faktor utama yang memperburuk tekanan nilai tukar rupiah di Indonesia.
Suara.com - Stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi dinilai akan menjadi ujian penting bagi pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies, Halim Alamsyah, mengatakan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berpotensi semakin sempit apabila tekanan terhadap rupiah dan inflasi tidak dikelola secara tepat. Karena itu, dibutuhkan koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter, sektor keuangan, dan fiskal.
“Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Halim dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).
Menurut mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut, upaya meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri serta menjaga fundamental ekonomi menjadi faktor penting di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Ia menilai pelaku ekonomi saat ini sangat memperhatikan konsistensi dan kredibilitas kebijakan yang ditempuh pemerintah. Oleh karena itu, langkah-langkah yang diambil perlu memberikan kepastian, bukan justru menambah ketidakpastian baru di pasar.
“Langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai suatu hal yang amat kritikal di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi dewasa ini. Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri,” ujarnya.
Pandangan tersebut muncul di tengah kondisi inflasi yang kembali meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, naik dibandingkan 2,42 persen pada April 2026.
Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak bisa dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Namun, menurutnya, faktor kepercayaan pasar menjadi salah satu penyebab yang paling menonjol.
“Faktornya sudah campur aduk, tidak bisa kita tunjuk satu saja. Tapi yang menurut saya paling besar pengaruhnya sekarang adalah mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah,” kata Piter.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Rupiah Stabil Bisa Ringankan Beban Pedagang Tahu Tempe dan Rumah Tangga
Ia menjelaskan, ketika sentimen negatif terhadap rupiah terbentuk, permintaan terhadap dolar AS cenderung meningkat, termasuk dari pihak yang sebenarnya tidak memiliki kebutuhan langsung terhadap mata uang tersebut.
“Begitu sentimen terbentuk, permintaan terhadap dolar membesar. Bahkan orang yang sebenarnya tidak butuh dolar pun ikut membeli. Unsur spekulasi dan psikologis inilah yang justru memperdalam pelemahan rupiah melebihi yang bisa dijelaskan oleh fundamentalnya sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Prasasti menilai sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan perkembangan positif. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang antara lain oleh industri pengolahan dan produk hilirisasi.
Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa kenaikan inflasi, menyusutnya surplus perdagangan, dan tekanan terhadap rupiah tetap perlu diantisipasi agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Dengan kondisi tersebut, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar dan menopang pertumbuhan ekonomi ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Hapus Kutukan Blank Spot: Mandat 5G dan Internet Cepat di Tangan Pemenang Seleksi Frekuensi Komdigi
-
Mikroplastik Ancam Masa Depan Rumput Laut Indonesia
-
Mengungkap Pesan Moral Kidung Natal: Perjalanan dari Kikir Menjadi Dermawan
-
Kejar Status Eksportir Terbesar Dunia, Pemerintah Bakal Ubah 40.000 Desa Jadi Sentra Perikanan Darat
-
4 Shio yang Menarik Keberuntungan dan Kemakmuran Hari Ini 22 Juli 2026
-
Teman Berbulu di Transportasi Umum, Kebahagiaan Kecil di Setiap Perjalanan
-
Batu Bara Masih Perkasa, Devisa Ekspor Semester I Tembus Rp268 Triliun
-
Dilema Proyek Anti-Banjir di Joglo: Akses Terputus, Pemilik Warung Minta Kompensasi Rp50 Ribu
-
Prananda Surya Paloh: Saya Kecewa Jika Garda Pemuda NasDem Hanya Dianggap Tukang Parkir!
-
Terungkap Fakta Baru, Bayi T. Rex Langsung Langsung Jadi Predator Setelah Menetas