- Indonesia menghadapi fase bonus demografi krusial yang harus dioptimalkan untuk transisi energi hijau, bukan jaminan kemajuan otomatis.
- Prof. Yusriani menekankan Generasi Z sebagai motor utama transformasi yang harus didorong menjadi inovator energi hijau.
- Optimalisasi bonus demografi memerlukan peningkatan kualitas SDM, lapangan kerja produktif, serta kebijakan publik berbasis riset terapan.
Suara.com - Indonesia tengah berada di fase krusial sejarah kependudukan dengan hadirnya bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Momentum ini dinilai menjadi peluang besar sekaligus tantangan, terutama dalam menjawab persoalan transisi energi hijau dan krisis lingkungan global.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Yusriani Sapta Dewi, M.Si., usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) dalam Sidang Terbuka Senat Universitas yang digelar di Auditorium Kampus USNI, Jakarta.
Dalam orasi ilmiah bertajuk “Dari Potensi Menuju Prestasi: Mengoptimalkan Bonus Demografi dan Semangat Generasi Z untuk Transisi Energi Hijau yang Berdampak”, Prof. Yusriani menegaskan bahwa bonus demografi bukanlah jaminan otomatis menuju kemajuan bangsa.
Data menunjukkan sekitar 69,5 persen penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif, dengan puncak bonus demografi diproyeksikan terjadi pada periode 2030–2035. Menurut Prof. Yusriani, peluang ini hanya akan berdampak positif jika diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja produktif, serta kebijakan pembangunan yang berpandangan jangka panjang.
“Bonus demografi bisa menjadi kekuatan pembangunan, tetapi juga berpotensi berubah menjadi beban demografi jika tidak dikelola dengan tepat,” ujarnya.
Ia mengingatkan risiko meningkatnya pengangguran terdidik, ketimpangan sosial, hingga fenomena aging before rich—kondisi ketika masyarakat menua sebelum mencapai kesejahteraan ekonomi—jika bonus demografi gagal dimanfaatkan secara strategis.
Dalam konteks tersebut, Prof. Yusriani menempatkan Generasi Z sebagai aktor kunci. Generasi yang tumbuh di era digital ini dinilai memiliki keunggulan dalam literasi teknologi, kemampuan adaptasi, serta kesadaran yang relatif tinggi terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.
“Generasi Z bukan sekadar penerus pembangunan, tetapi motor utama transformasi ekonomi dan sosial. Mereka memiliki potensi besar untuk mendorong agenda transisi energi hijau,” katanya.
Menurut Prof. Yusriani, momentum bonus demografi Indonesia berlangsung beriringan dengan tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, krisis energi, hingga degradasi lingkungan. Sektor energi, yang masih menjadi penyumbang emisi karbon terbesar, menempatkan transisi menuju energi hijau sebagai keharusan, bukan pilihan.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Fun Run: Ini Konsep "Running Date" Pertama yang Viral di Kalangan Gen Z
Ia menegaskan bahwa tantangan utama transisi energi hijau tidak terletak pada ketersediaan sumber daya alam, melainkan pada kesiapan sistem, kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan seperti surya, hidro, panas bumi, dan bioenergi yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
Untuk menjembatani bonus demografi dan agenda transisi energi hijau, Prof. Yusriani mengusulkan tiga strategi utama.
Pertama, reorientasi kurikulum pendidikan tinggi berbasis riset terapan dan pembelajaran berbasis masalah.
Kedua, penguatan kewirausahaan hijau yang melibatkan Generasi Z sebagai inovator ekonomi berkelanjutan.
Ketiga, keberanian intelektual dalam kebijakan publik yang berpijak pada kebenaran ilmiah.
“Generasi Z harus didorong bukan hanya sebagai pengguna teknologi energi bersih, tetapi sebagai pencipta inovasi dan pemimpin masa depan sektor energi hijau,” tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia
-
Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029
-
Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik
-
Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!
-
Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK
-
Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok