- Studi Gen Z menunjukkan preferensi tinggi terhadap konten visual menarik dari homeless media di media sosial daripada berita formal.
- Homeless media tumbuh pesat sebagai sumber informasi lokal, seringkali mengutamakan kecepatan informasi yang berisiko menimbulkan misinformasi.
- Fenomena clickbait dan news abuse di homeless media mencerminkan pendekatan mirip jurnalisme tabloid yang minim verifikasi konten.
Suara.com - Perbincangan soal homeless media atau sering disebut media tanpa rumah yang mengandalkan platform media sosial dalam distribusi kontennya, jadi tren tersendiri di Indonesia. Studi empiris yang saya lakukan pada mahasiswa saya yang rata-rata adalah Generasi Z, ketika ditanya soal media apa yang dikonsumsi, jawabannya adalah akun-akun di Instagram yang populer dan centang biru.
Ya, mereka tidak peduli bagaimana isi kontennya, apakah benar ataukah tidak. Yang terpenting adalah visual menarik, tidak membosankan, judul menarik dan membuat penasaran, dan caption-nya singkat. Pertanyaan berlanjut soal apakah masih mengonsumsi konten di media-media profesional seperti media-media besar di Indonesia. Jawabannya jarang dan bahkan tidak. Alasannya sangat sederhana. Bahasa media profesional kaku dan kontennya berat.
Studi empiris ini sedikit banyak menjawab alasan bahwa pengguna mayoritas internet terbesar di Indonesia yang didominasi Gen Z dan milineal yang jumlahnya mencapai 87-88 persen (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2024), lebih menyukai konsumsi berita melalui media sosial dibandingkan berita-berita tradisional (American Press Institute dalam Riyanto, 2024).
Keberadaan homeless media tumbuh dengan cepat. Bahkan di masing-masing kota besar di Indonesia, akun homeless menjadi sumber informasi lokal. Penelitian Remotivi, Internews, dan USAID tentang homeless media (2024) mencoba memetakan sebaran akun homeless media di lima kota besar di Indonesia yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.
Temuan menarik dari penelitian tersebut di antaranya:
- Homeless media dijalankan tidak informal oleh beberapa orang;
- pusat informasi lokal, di mana konten kejahatan, fakta kota, perilaku unik warga kota, romantisasi kota, dan keribatan warga menjadi topik pilihan pembaca yang meningkatkan engagement homeless media di media sosial;
- Kecepatan informasi yang rawan misinformasi;
- Tingginya minat akses homeless media, membuat media ini menjadi endorsement dari berbagai pihak termasuk pemerintah;
- jurnalis media arus utama menggunakan akun ini sebagai sumber informasi dan tidak bisa beradu kecepatan dengan media ini.
Gen Z dan Jurnalisme Tabloid
Kata “berita” mungkin menjadi kata yang asing bagi Gen Z. Mungkin hanya mahasiswa yang mengambil konsentrasi media, jurnalistik, atau Ilmu Komunikasi, yang lebih sering mendengar karena terpapar lebih sering, itu pun karena masuk dalam mata kuliah.
Berita dapat dipahami sebagai produk jurnalistik dengan proses pembuatannya yang ketat di mana prinsip-prinsip seperti verifikasi dan akurasi menjadi prinsip utamanya. Mekanisme gatekeeping sebagai bagian dari proses seleksi berita menjadikan berita lebih minim terhindar hoaks. Produsennya pun adalah profesional yang paham pada teknik, etik, serta aturan yang berlaku.
Kata “berita” sendiri sangat jauh dari dunia gen Z. Kata “konten” lebih akrab di dunia mereka. Bagi mereka kata “konten” ini lebih ringan, dekat, menghibur, serta relate dengan kehidupan mereka.
Kendati konten banyak diproduksi oleh non profesional dan tidak produksinya tidak seketat berita, namun gen Z lebih memilih konten sebagai sumber informasi mereka. Konten-konten lebih banyak bersebaran di media sosial atau akrab disebut dengan homeless media.
Konten ringan, bombastis, hiperbola, serta ambigu, jadi konten pilihan Gen Z. Pemilihan pada konten inilah menjadi bukti fenomena clickbait di Indonesia. Fenomena clickbait menjadi bagian dari cara pengelola media meningkatkan traffic mereka. Fenomena clickbait sendiri merupakan bentuk baru dari jurnalisme tabloid/jurnalisme kuning.
Pramesti (2023) menjelaskan bahwa jurnalisme tabloid lebih menekankan sensansi dan skandal sebagai komoditas. Wasserman (dalam Rahmitasari, 2013) menjelaskan jurnalisme tabloid hadir di Amerika tahun 1800an dan melemahkan jurnalisme cetak sebagai jurnalisme profesional. Kala itu, jurnalisme tabloid hadir dalam bentuk surat kabar, dengan gaya sensasional yang khas.
Fenomena clickbait sendiri sangat dekat dengan homeless media. Penelitian Riyanto (2024) menyatakan bahwa homeless media lebih mengutaman konten viral. Konten yang diunggah adalah konten yang berpotensi menarik perhatian.
Pengelola media homeless media pun sadar bahwa konten viral lebih disukai pembaca ketimbang konten serius. Bahkan, pengelola media sering kali abai pada konten yang diunggah, seperti curhatan warga yang terkadang masuk kehidupan privasi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa homeless media dekat dengan jurnalisme tabloid/kuning.
Tanpa disadari ekosistem media homeless pun terbentuk. Homeless media, Gen Z, dan asupan konten ringan menjadi sebuah simbiosis mutualisme. Konten ringan, menarik, dan viral menjadi kebutuhan Gen Z, dan homeless media memberikan kepuasan konten pada mereka. Kebutuhan relaksasi dan hiburan menjadi kebutuhan utama yang digadang-gadang Gen Z sebagai dampak kepenatan mereka pada aktivitas yang dilakukan.
Sayangnya, pengguna ini tidak menyadari bahwa konten yang dikonsumsi mengeksploitasi kognitif mereka atau disebut curiosity gap. Cakraborty (dalam Pramesti, 2023) mengungkapkan bahwa curiosity gap ini adalah kesenjangan pengetahuan yang hanya memuaskan sisi emosional semata. Curiosity gap ini tentu saja bisa menurunkan daya kritis Gen Z pada sebuah informasi.
Berita Terkait
-
Dari Cemas Jadi Percaya Diri, Perjalanan Ibu di Era Gen Z Berubah
-
Generasi Z dan Ilusi Kesuksesan Modern: Jabatan Masih Relevan Nggak Sih?
-
Gen Z Ternyata Penyelamat Literasi? Membongkar Paradoks di Balik Tren Membaca Saat Ini
-
Lawan Algoritma e-Commerce Lewat Kurasi Keras: Rahasia Pak Sammy Jaga Nyawa Woodstock di Pasar Santa
-
BRI Life Incar Pasar Gen Z Lewat Asuransi MODI
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak
-
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
-
Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan
-
Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara