- Indonesia terpaksa bergabung demi menghindari ancaman kenaikan tarif 200 persen dari Donald Trump.
- Iuran anggota mencapai Rp16,9 triliun, namun Trump tetap memegang hak suara tunggal keputusan.
- Prabowo diingatkan waspada jika kebijakan Dewan justru condong ke Israel dan memicu masalah domestik. (14 kata)
Suara.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menilai ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian terkait langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace(BoP) atau Dewan Perdamaian.
Hal pertama adalah Indonesia dinilai tidak memiliki pilihan selain bergabung dengan Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Hikmahanto melihat keputusan bergabung dalam Dewan Perdamaian tidak terlepas dari ancaman tarif Trump terhadap Indonesia.
"Indonesia tidak punya pilihan selain bergabung karena bila tidak, Indonesia terancam akan dinaikkan tarifnya. Ini karena ada preseden di mana Presiden Prancis menyatakan tidak akan bergabung dan Trump mengancam akan mengenakan tarif 200 persen," kata Hikmahanto dalam keterangannya kepada Suara.com, Senin (26/1/2026).
Hal kedua yang perlu disorot ialah kewajiban menyetor 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,9 triliun yang dibebankan untuk anggota Dewan Perdamaian sebagai iuran.
"Negara diundang oleh Trump tapi dipaksa untuk membayar 1 miliar dolar AS. Jumlah ini sangat besar. Terlebih lagi kalau Indonesia tidak punya suara signifikan dan berdampak untuk penghentian kekerasan oleh Israel dan untuk kemerdekaan Palestina," ujar Hikmahanto.
Ketiga, Hikmahanto menyoroti statuta atau piagam pendirian Dewan Perdamaian yang dinilainya tidak jelas.
"Tapi satu hal yang pasti, yaitu Trump adalah pemilik suara tunggal dalam pengambilan keputusan," tuturnya.
Keempat adalah penunjukan langsung dan atas persetujuan Trump terhadap pengurus harian, termasuk pengurus untuk persoalan di Gaza, Palestina.
Baca Juga: Untung Rugi RI Masuk Dewan Perdamaian Trump: Bisa 'Jegal' Keputusan Kontroversial?
"Kalau Indonesia harus membayar mahal dan Indonesia tidak bisa menempatkan orangnya, sungguh sangat disayangkan," kata Hikmahanto.
Terakhir, Hikmahanto mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto waspada jika pada akhirnya Dewan Perdamaian bentukan Trump tersebut justru condong ke Israel, ketimbang Palestina yang kemerdekaannya tengah diupayakan Indonesia melalui forum tersebut.
"Kalau ternyata Dewan ini malah condong ke Israel dalam pembuatan kebijakan, maka Presiden akan punya masalah dengan rakyatnya sendiri. Dan ini akan berakibat tidak baik untuk approval rating Presiden Prabowo," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Apa itu Whip Pink? Tabung Whipped Cream yang Disebut 'Laughing Gas' Jika Disalahgunakan
Pilihan
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
Terkini
-
Pemulihan Listrik Pascabencana di Tiga Provinsi Sumatera Capai 99 Persen
-
Bantah Pertemuan Rahasia dengan Google, Nadiem: Saya Lebih Sering Ketemu Microsoft
-
Untung Rugi RI Masuk Dewan Perdamaian Trump: Bisa 'Jegal' Keputusan Kontroversial?
-
Viral! Trotoar di Koja Dibongkar Paksa, Ternyata Ini yang Diburu Pencuri di Bawah Tanah
-
Kajari Magetan Dicopot, Diperiksa Intensif Kejagung Gegara Dugaan Pelanggaran Integritas!
-
Macet Parah di RE Martadinata, Sebagian Rute Transjakarta 10H Dialihkan via JIS
-
Komisi II DPR Tetapkan 9 Anggota Ombudsman RI 2026-2031, Hery Susanto Jadi Ketua
-
Ketua Banggar DPR Bela Pencalonan Thomas Djiwandono: Ini Soal Kemampuan, Bukan Nepotisme
-
Jaga Independensi BI, Thomas Djiwandono Tunjukkan Surat Mundur Dari Gerindra
-
Geger! Anggota Komcad TNI Jual Senpi Ilegal SIG Sauer di Bali, Terbongkar Modusnya