- KPAI meminta program Makan Bergizi Gratis tidak disikapi hanya secara birokratis dan harus mengedepankan kepentingan terbaik anak.
- Alasan makanan tidak habis sering disebabkan oleh anak sudah kenyang, selera makan, atau masalah kesehatan spesifik.
- KPAI mendorong pendataan rekam medis AKG agar program MBG disesuaikan kebutuhan gizi individu anak.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa dinamika di lapangan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bisa disikapi dengan pendekatan birokratis semata.
Menurutnya, narasi “penolakan” makan bergizi gratis oleh sekolah maupun anak sering kali tidak akurat dan perlu disikapi dengan pendekatan psikologis serta medis.
KPAI menemukan bahwa penggunaan diksi “penolakan” tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan anak-anak penerima manfaat MBG, alasan makanan tidak dihabiskan bersifat sederhana dan manusiawi.
Beberapa faktor yang ditemukan antara lain kondisi fisik anak yang sudah kenyang karena sarapan di rumah atau sebelumnya makan di kantin sekolah. Selain itu, faktor preferensi dan sensorik seperti selera, aroma makanan, hingga kebosanan terhadap menu juga menjadi alasan.
Faktor kesehatan turut berperan, termasuk adanya alergi atau kondisi medis tertentu yang membuat anak tidak dapat mengonsumsi bahan makanan tertentu.
“Jangan sampai narasi ‘penolakan’ menciptakan stigma negatif bagi sekolah atau anak. BGN dan SPPG harus hadir dengan pendekatan ramah anak (best interest of the child), bukan sekadar instruksi yang melibatkan aparat keamanan,” ujar Jasra dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
KPAI juga mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memiliki baseline data berupa rekam medis Angka Kecukupan Gizi (AKG) setiap anak. Data tersebut dinilai penting agar pelaksanaan MBG tidak bersifat satu ukuran untuk semua, melainkan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing anak.
“Jika kita punya rekam medis AKG dari PAUD hingga kuliah, MBG akan menjadi instrumen penyelamat generasi (gold standard). Kita bisa mendeteksi dini anak yang malnutrisi, obesitas, hingga yang memiliki gangguan tiroid atau anemia,” kata Jasra.
KPAI juga menyoroti data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menunjukkan tren kesehatan anak usia sekolah yang mengkhawatirkan. Sekitar 15–20 persen anak usia sekolah mengalami gejala maag atau gangguan lambung akut.
Baca Juga: Menteri PPPA Tegas Soal MBG: Hak Anak yang Tak Boleh Dilanggar
Selain itu, terjadi peningkatan kasus hipertensi, diabetes, dan obesitas pada usia dini akibat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih dari makanan olahan.
Berdasarkan hasil monitoring KPAI sepanjang 2025, tercatat sebanyak 12.658 anak mengalami keracunan makanan dalam program MBG yang tersebar di 38 provinsi. Tiga wilayah dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Barat sebanyak 4.877 kasus, Jawa Tengah 1.961 kasus, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 1.517 kasus.
Selain itu, laporan pengaduan KPAI sepanjang 2025 mencatat 2.031 kasus pelanggaran hak anak. Kekerasan fisik dan psikis di lingkungan pendidikan masih menjadi kasus yang paling dominan.
KPAI mengingatkan agar pelaksanaan program MBG tidak dilakukan dengan cara pemaksaan yang berpotensi menambah beban psikologis anak atau bahkan menciptakan bentuk kekerasan baru di lingkungan pendidikan.
Berita Terkait
-
Menteri PPPA Tegas Soal MBG: Hak Anak yang Tak Boleh Dilanggar
-
ASN Baru dari Program MBG: Konsekuensi Panjang dan Nasib Keberlanjutan
-
Cegah Risiko Keamanan Pangan, BGN Minta SPPG dan Sekolah Sepakati Aturan Konsumsi MBG
-
BGN Tegaskan MBG Harus Habis di Sekolah, Bukan Dibawa Pulang
-
BGN Susun Aturan Konsumsi MBG demi Keamanan Siswa
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Ingatkan Soal PKI hingga RMS, Dudung Tegaskan Pemerintah Prabowo Tak Anti Kritik
-
Indonesia Insurance Summit 2026: Terungkap Tantangan Ganda Asuransi di Indonesia
-
Mahasiswa UI ke Aparat: Kami Bukan KKB, Tolong Jangan Represif!
-
Strategi Barikade TNI-Polri Pecah Massa Mahasiswa, Bundaran HI dan DPR Sepi Orasi
-
Massa Demo Mahasiswa dan Ojol Bersatu Lawan Barikade TNI-Polri Menuju Bundaran HI
-
Terancam Terusir, 71 Jiwa Penghuni Rusun Kemensos Belum Kantongi Kepastian Tempat Tinggal Baru
-
Nasib Tragis Warga Penolak Penambangan Emas Ilegal di Sumbar, Dipukuli Sampai Luka Berat
-
Demo Mahasiswa Bukan Ancaman: Tarik Militer, Jangan Ada Tameng dan Pentungan
-
Misteri 2 Mayat Wanita di Banyumas: Nenek Ditemukan Dalam Sumur, Gadis 18 Tahun Bersimbah Darah
-
KPK Sita Rp59 Juta dan Ribuan Valas di Rumah Silmy Karim: Ada USD, Euro, hingga Yen!