- RDPU Komisi III DPR RI memanas membahas kasus Hogi Minaya yang menjadi tersangka setelah mengejar pelaku jambret hingga tewas.
- Anggota DPR Safaruddin mengkritik keras Kapolresta Sleman atas minimnya pemahaman hukum terkait KUHP baru.
- Safaruddin menegaskan bahwa tindakan Hogi adalah pembelaan diri (Pasal 34 KUHP) bukan tindak pidana murni.
Suara.com - Suasana panas menyelimuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI saat membahas kasus Hogi Minaya, warga Sleman yang menjadi tersangka usai mengejar pelaku jambret hingga tewas.
Anggota Komisi III DPR RI, Safaruddin, mencecar Kapolresta Sleman Kombes Edy Setyanto terkait pemahaman dasar hukum dan penerapan pasal dalam kasus tersebut.
Ketegangan bermula saat Safaruddin mempertanyakan kompetensi dan pemahaman Kapolresta Sleman terhadap KUHP serta KUHAP baru yang baru saja berlaku.
Edy tampak sempat ragu saat menjawab pertanyaan mengenai nomor dan tahun undang-undang tersebut.
"Sudah baca belum KUHP dan KUHAP baru? KUHP undang-undang nomor berapa? KUHP yang baru itu nomor berapa? Kalau sudah Anda sudah baca nomor berapa?" tanya Safaruddin di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Setelah sempat terjadi koreksi jawaban dari Kapolres mengenai tahun berlakunya undang-undang, Safaruddin memberikan teguran keras.
Purnawirawan jenderal polisi itu bahkan menyatakan bahwa Edy seharusnya tidak layak menduduki jabatan tersebut jika tidak menguasai landasan hukum perkara yang dibawa ke DPR.
"Pasal 34. Saya bacakan. Kalau saya Kapolda kamu, masih kapolda, Anda tidak bakalan sampai ke Komisi III dan saya sudah berhentikan Anda. Anda kok Kapolres sudah Kombes seperti itu, bagaimana polisi ke depan?" tegas Safaruddin.
Safaruddin kemudian membacakan isi Pasal 34 KUHP (UU Nomor 1 Tahun 2023) untuk mengingatkan Kapolres bahwa tindakan pembelaan terpaksa bukanlah sebuah tindak pidana.
Baca Juga: Rusdi Masse Mundur, NasDem Siapkan Pengganti Pimpinan Komisi III dan Tunjuk Ketua DPW Baru
"Pasal 34: Setiap orang yang terpaksa melakukan perbuatan yang dilarang tidak dipidana jika perbuatan tersebut dilakukan karena pembelaan terhadap serangan atau ancaman serangan ketika yang melawan hukum terhadap diri sendiri atau orang lain, kehormatan dalam arti kesusilaan, atau harta benda sendiri atau orang lain," ujar Safaruddin membacakan pasal tersebut.
Safaruddin menilai kepolisian salah dalam menerapkan hukum karena menganggap peristiwa tersebut sebagai kecelakaan lalu lintas biasa atau tindak pidana yang memerlukan Restorative Justice (RJ).
Menurutnya, kasus Hogi murni merupakan pembelaan diri terhadap aksi Pencurian dengan Kekerasan (Curas).
"Ini bukan tindak pidana. Kalau di KUHP lama, Overmacht, alasan pembenar bahwa orang itu membela diri. Membela diri! Bukan undang-undang lalu lintas. Anda salah menerapkan hukum," katanya.
Ia juga menyayangkan pernyataan Kapolres di media yang menyebut tindakan Hogi "tidak seimbang" saat mengejar penjambret.
Safaruddin meluruskan bahwa pelaku jambret yang membawa senjata tajam justru merupakan ancaman nyata (Curas), dan Hogi sebagai warga sipil tak bersenjata justru berada dalam posisi yang lebih berisiko.
"Bapak tahu apa yang jambret itu? Tidak ada istilah di KUHP, itu adalah pencurian dengan kekerasan. bukan pencurian biasa, bukan pencurian pemeberatan, pencurian dengan kekerasan, Curas itu begal, Pak. Dia bawa celurit, senjata tajam, apa segala macam bisa bawa senjata api," jelasnya.
"Nah, ketika orang itu, ini bahaya Pak. Anda bilang tidak seimbang? Dikejar oleh suaminya korban. Orang sipil Pak, tidak punya apa-apa. Tidak dipersenjatai. Bukan tidak seimbang, memang justru yang tidak seimbangnya itu orang sipil yang mengejar pelaku Curas. bagaimana bapak bilang tidak seimbang," pungkasnya.
Safaruddin mendesak agar koordinasi antara Polres dan Kejaksaan diperbaiki, karena menurutnya sejak awal tidak ada unsur pidana dalam aksi bela diri yang dilakukan oleh Hogi Minaya.
Berita Terkait
-
Di Depan DPR Kapolres Sleman Ngaku Dilema di Kasus Hogi Minaya: Hati Saya Seakan Terkapar
-
Bela Istri yang Dijambret, Pengacara Sebut Hogi Minaya Kejar Pelaku untuk Selamatkan Tagihan Snack
-
Bahas Kasus Suami Jadi Tersangka Usai Kejar Jambret Istri, Komisi III DPR Sampai Istighfar Dua Kali
-
Rusdi Masse Mundur, NasDem Siapkan Pengganti Pimpinan Komisi III dan Tunjuk Ketua DPW Baru
-
Integritas Dipertanyakan, DPR Klaim Adies Kadir Mampu Jaga Kredibilitas Hakim Konstitusi
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sopir Truk Penabrak Tokoh Pramuka Herman Resmi Jadi Tersangka, Ini Pengakuannya
-
Disemprot Doktor Ekonomi, Kritik Rieke 'Oneng' Soal Anggaran KemenHAM Dinilai Asal Bunyi
-
Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi
-
3 Fakta Dugaan Korupsi MBG: Kejagung Geledah Enam Lokasi, DPR Minta Program Dihentikan
-
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
-
Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?
-
Divonis 13 Tahun Penjara, Sejumlah Pakar Duga Ada Kejanggalan di Putusan Hukum Arief Pramuhanto
-
Partai Gelora Desak Penghapusan Threshold, Klaim DPR Buka Ruang Diskusi
-
Anis Matta Akui Partai Gelora Terganjal Logistik, Urusan Pendanaan Jadi Persoalan Besar
-
ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang