- Lucius Karus (Formappi) mengkritik uji kelayakan DPR sebagai formalitas yang ditentukan lobi politik di balik layar.
- Kritik menyoroti penetapan Adies Kadir (MK) dan Thomas Djiwandono (BI) di Jakarta, Januari 2026.
- Formappi mendesak reformasi DPR total karena proses seleksi dinilai mengabaikan substansi dan keterbukaan publik.
Suara.com - Peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, melontarkan kritik pedas terhadap proses seleksi pejabat negara di DPR RI. Ia menyebut mekanisme fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang dijalankan para wakil rakyat tak lebih dari sekadar formalitas dan 'drama'.
Kritik tersebut disampaikan dalam diskusi media bertajuk 'Kasus Adies & Thomas: Perlukah Reformasi DPR?' yang digelar di Kantor Formappi, Jakarta Timur, Kamis (29/1/2026).
Menurut Lucius, proses seleksi di Senayan kini hanya menjadi panggung untuk menggugurkan kewajiban undang-undang, sementara keputusan sebenarnya ditentukan di balik layar melalui lobi dan transaksi politik.
“Buat proses seleksi DPR itu cuma formalitas saja ya. Jadi karena undang-undang mengharuskan seorang calon sebelum diposisi tertentu harus kemudian diuji kelayakannya di DPR gitu, maka forum uji kelayakannya dibuatlah oleh DPR ya,” ujar Lucius.
Ia menilai DPR sepenuhnya memahami bahwa uji kelayakan yang ditampilkan ke publik tidak pernah benar-benar dijadikan tolok ukur dalam menentukan siapa yang akhirnya menduduki jabatan yang diuji.
Sentil Kasus Adies Kadir dan Thomas Djiwandono
Lucius juga menyoroti dua keputusan kontroversial DPR pada Januari 2026, yakni penetapan Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Dalam kasus Adies Kadir, ia menilai prosesnya terkesan terburu-buru dan tertutup. Agenda tersebut bahkan tidak terlacak di situs resmi DPR, namun tiba-tiba nama Adies Kadir muncul sebagai calon yang disepakati. Padahal, Adies memiliki rekam jejak kontroversial dan pernah dinonaktifkan dari DPR.
“Kita tahu agendanya di hari Senin itu sama sekali tidak bisa terlacak di website DPR. Kemudian tiba-tiba sore harinya kita sudah punya calon hakim konstitusi,” jelas Lucius.
Baca Juga: Curhat Pimpinan KPK ke DPR: Alat Kurang Canggih Jadi Hambatan Utama OTT
“Jadi fit and proper test yang disebut-sebut oleh ketua Komisi III itu hanya dia sendiri yang tahu. Dan dengan itu dia mau mengatakan ini hakim konstitusi itu bukan urusan publik, itu hanya urusan Komisi III doang,” lanjutnya.
Lucius juga menilai DPR telah melecehkan martabatnya sendiri dengan membatalkan keputusan paripurna sebelumnya yang menetapkan Inosentius Samsul, demi mengangkat Adies Kadir.
“Saya kira ini satu bentuk pelecehan serius ya dari DPR terhadap lembaga,” tambahnya.
Kritik serupa diarahkan pada pemilihan Thomas Djiwandono di Komisi XI. Meski para calon memaparkan makalah yang substansial, alasan terpilihnya Thomas dinilai murni karena faktor politik.
“Lucu sekali ketua Komisi XI mengatakan alasan memilih Thomas Djiwandono itu karena semua partai politik menerima secara politik. Lalu apa gunanya diadakan fit and proper test?” ucap Lucius.
DPR Dinilai Tak Berubah Sejak Agustus 2025
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama