- Kolonel Purnawirawan Sri Raja Sacandra mengkritik keras Kapolri karena menolak penempatan Polri di bawah kementerian.
- Sri Raja Sacandra menilai pernyataan Kapolri siap berjuang hingga "titik darah penghabisan" melanggar etika kenegaraan.
- Ia menganggap retorika Kapolri menunjukkan ego sektoral dan mengabaikan rakyat demi kepentingan kekuasaan.
Suara.com - Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menolak keras wacana penempatan Polri di bawah kementerian berbuntut panjang. Mantan anggota Badan Intelijen, Kolonel Infanteri (Purn) Sri Raja Sacandra, melontarkan kritik pedas dan menyebut sikap tersebut telah melanggar etika kenegaraan.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up yang diunggah Sabtu (31/1/2026), Sri Raja Sacandra menyoroti retorika Kapolri yang menyatakan siap mempertahankan posisi Polri di bawah Presiden hingga “titik darah penghabisan”.
Menurut Sri, penggunaan istilah “titik darah penghabisan” untuk urusan struktur kelembagaan merupakan hal yang keliru dan tidak pada tempatnya. Ia menilai semangat tersebut seharusnya hanya digunakan demi kedaulatan negara, bukan untuk mempertahankan posisi organisasi.
"Justru pernyataan Kapolri ini justru melanggar etika kenegaraan," tegas Sri Raja Sacandra, dikutip Senin (2/2/2026).
"Ketika dia mengatakan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan, ini adalah salah satu ajakan untuk murtad politik kepada jajaran Polri bahkan DPR RI," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa strata kepentingan tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kedaulatan negara, dan Polri tidak bisa mensejajarkan kepentingan lembaganya dengan persoalan kedaulatan tersebut.
Sentil Pernyataan “Jadi Petani”
Selain masalah etika, Sri juga menanggapi pernyataan Jenderal Listyo Sigit yang mengklaim lebih baik dicopot dan menjadi petani ketimbang Polri diletakkan di bawah kementerian. Sigit sempat menyebut dirinya sebagai “anak petani”.
Namun, Sri melihat pernyataan itu justru menunjukkan ego sektoral yang tebal di tubuh Korps Bhayangkara. Ia menilai Polri saat ini merasa sebagai kekuatan tunggal yang tak tersentuh.
Baca Juga: Viral Warga Ngamuk di Polsek Cilandak, Hasil BAP Penganiayaan Berubah Jadi Kasus Narkoba
"Jadi kalau kita lihat Bang, ini kan salah satu bentuk ego sektoral yang selalu ditunjukkan oleh Polri bahwa dia adalah apa namanya single power dalam penegakan hukum gitu Bang. Sehingga ada institusi-institusi hukum yang lain seolah-olah hanya sebagai pelengkap," tuturnya.
Selain itu, ia juga menyayangkan privilese atau kemewahan kewenangan yang dinikmati Polri saat ini. Ia menilai Polri telah melupakan jati dirinya sebagai polisi rakyat yang seharusnya mengayomi masyarakat.
Sri bahkan melontarkan kritik keras dengan menyebut kepolisian saat ini bekerja layaknya polisi di era kolonial yang lebih mengutamakan kepentingan penguasa.
"Polisi hari ini yang hanya bekerja untuk kepentingan kekuasaan Presiden, untuk kepentingan luksuri yang mereka dapatkan selama ini ya kan, kemudian musuhnya siapa? Rakyatlah Bang, pasti yang terabaikan rakyatlah gitu," jelasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Viral Warga Ngamuk di Polsek Cilandak, Hasil BAP Penganiayaan Berubah Jadi Kasus Narkoba
-
Relawan Prabowo Tegas Tolak Polri di Bawah Menteri, Singgung Ancaman Keamanan
-
Jelang Ramadan, Jalanan Jakarta Dipantau Ketat: Drone Ikut Awasi Pelanggar Lalu Lintas
-
Babak Baru Kasus Korupsi Minyak Pertamina, Polri Terbitkan Red Notice Riza Chalid
-
Habiburokhman: Narasi Polri di Bawah Kementerian Lemahkan Presiden Prabowo
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Marak Kecelakaan Laut, DPR Minta Menhub Tindak Operator 'Nakal', Singgung 'Bajak Laut'
-
Bukan Emas 74 Kg! Ternyata Ini Barang yang Diminta Kembali oleh Febrie Adriansyah
-
Maulid Nabi 2026 Libur atau Tidak? Ini Ketentuan Resmi Menurut SKB 3 Menteri
-
Bakom Pamer Lulusan Sekolah Unggul Garuda Masuk Kampus Top Dunia Naik 177%
-
Bantah Bahas RUU Pemilu! Gerindra Ungkap Isi Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi Pendukung Prabowo
-
HUAWEI Pura90s Series 5G Hadir Usung 200MP Zoom Maxing, AI, & True Color Maxing
-
Never-Ending Summer: Drama dengan Opening Bergaya Donghua yang Colorful
-
Mobil Listrik Makin Ramai, Changan Hadirkan Deepal S05 dan Nevo Q05 di Medan
-
Tarif Ojol untuk Antar Barang dan Makanan Bakal Diatur Kemkomdigi, Ini Aturannya
-
Lagu 'Bella Ciao' Bercerita Tentang Apa? Dinyanyikan Massa Demo BEM UI di Bundaran HI