News / Nasional
Rabu, 04 Februari 2026 | 08:45 WIB
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam forum internasional Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 di Abu Dhabi, UEA, Selasa (3/2/2026). [Foto: Tim media Megawati]
Baca 10 detik
  • Megawati tegaskan perempuan tidak perlu memilih antara karier publik dan urusan domestik.
  • Kepemimpinan perempuan harus membawa empati serta keadilan bagi persaudaraan manusia secara global.
  • Dukungan negara dan pasangan hidup sangat krusial bagi kesuksesan peran perempuan masyarakat.

Suara.com - Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pesan kuat bagi kaum perempuan dalam forum internasional Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 di Abu Dhabi, UEA, Selasa (3/2/2026).

Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa memiliki cita-cita publik dan komitmen terhadap keluarga bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Ia mendorong perempuan untuk berani mengambil peran di masyarakat tanpa harus kehilangan identitas di dalam rumah tangga.

"Saya ingin mengingatkan agar perempuan tidak terjebak dalam dilema palsu antara rumah dan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial," ujar Megawati sebagaimana dikutip dari siaran persnya, Rabu (4/2/2026).

Megawati turut merefleksikan perjalanan hidupnya yang dibentuk oleh didikan sang ayah, Presiden Soekarno, dan ibundanya, Fatmawati. Ia meyakini bahwa karakter kepemimpinan lahir dari perpaduan nilai-nilai luhur dan keteguhan hati.

"Saya dibentuk oleh orang tua saya; bapak saya seorang presiden dan ibu saya seorang First Lady. Karakter saya saat ini terbentuk karena keyakinan, keberanian, dan kesabaran yang dipadu dengan etika moral serta hati nurani," tuturnya.

Ia juga berbagi pengalaman menyeimbangkan peran politik yang panjang—sebagai pemimpin partai sejak 1993, anggota DPR, Wakil Presiden, hingga Presiden RI—sembari tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Ia menyebut kepemimpinan di ruang domestik maupun publik sama-sama membutuhkan pendekatan yang inklusif.

"Almarhum suami saya juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR RI. Kepemimpinan, baik di rumah maupun di masyarakat, tidak pernah tumbuh dalam kesendirian. Keduanya sama-sama memerlukan jiwa kepemimpinan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Megawati menegaskan bahwa esensi kepemimpinan perempuan adalah menghadirkan empati dan keadilan sebagai kontribusi nyata bagi peradaban dunia atau Human Fraternity (Persaudaraan Kemanusiaan).

"Ketika perempuan menghadirkan nilai kemanusiaan dan keadilan, kepemimpinan bukan lagi sekadar soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi masa depan peradaban global," urai Megawati.

Baca Juga: Hadiri Majelis Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi, Megawati Duduk Bersebelahan dengan Ramos Horta

Forum Majelis Persaudaraan Manusia ini merupakan agenda krusial dalam rangkaian Penghargaan Zayed yang mempertemukan tokoh perempuan dunia, termasuk Ibu Negara Lebanon Nehmat Aoun hingga Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, guna merumuskan peran perempuan dalam menciptakan perdamaian global.

Load More