- Seorang anak 10 tahun di NTT bunuh diri karena tidak punya uang Rp10 ribu untuk buku, sorotan Mi'ing Bagito.
- Mi'ing menyoroti ketimpangan sosial kontras antara kemiskinan ekstrem dan korupsi bernilai triliunan rupiah di Indonesia.
- Perlu peningkatan kepekaan sosial lingkungan terdekat seperti RT/RW serta pembenahan integritas aparat penegak hukum.
Suara.com - Kasus bunuh diri seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipicu masalah ekonomi menjadi sorotan tajam dalam diskusi antara pelawak sekaligus politisi Tubagus Dedi Suwendi Gumelar alias Mi’ing Bagito dengan Abraham Samad.
Dalam podcast Speak Up, Mi’ing mengungkapkan keprihatinannya atas tragedi yang menimpa siswa SD tersebut. Ia menilai peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi kepekaan sosial di Indonesia.
“Ini kan kita dengar satu kisah yang cukup perih ya, anak umur 10 tahun di NTT minta uang untuk sepuluh ribu saja untuk buku dan ini, lalu dia tidak terpenuhi dan dia bunuh diri,” ujar Mi’ing mengawali perbincangan, dikutip pada Kamis (5/2/2026).
Bukan Sekadar Malu, Tapi Tak Ingin Jadi Beban
Mi’ing menyoroti sisi emosional yang sangat dalam dari kasus tersebut. Menurutnya, tindakan nekat anak tersebut menyimpan pesan yang menyayat hati mengenai kondisi kemiskinan di tingkat keluarga.
“Kalau bahasa sentimentalnya bukan anak itu nekat bunuh diri bukan karena malu pada temannya semata, tapi juga ingin meringankan orang tuanya jadi tidak jadi beban. Ini kan sedih sekali,” tuturnya.
Ia juga menyinggung ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia. Mi’ing merasa ironis ketika di satu sisi ada rakyat yang mengakhiri hidup karena uang Rp10 ribu, namun di sisi lain korupsi triliunan rupiah terjadi di kota-kota besar.
“Sementara di kota-kota besar mungkin koruptor kelas kakap mengangkut duit triliunan rupiah. Hanya ketawa-ketawa aja kalau ditangkap. Tapi ini, ini menjadi indikator bahwa kalau saya lihat gitu, sampai hanya sepuluh ribu saja dia tidak punya untuk anggaran sekolah,” tegasnya.
Sentil Peran RT, RW, dan Tetangga
Mi'ing menegaskan bahwa sistem deteksi kerentanan sosial di tingkat bawah harus dipertanyakan. Ia menekankan pentingnya peran lingkungan terdekat sebagai garda terdepan.
“Dan menurut saya di situ fungsinya RT RW ya, selain kelurahan. Paling tidak RT RW dulu lah. RT RW dulu yang seperti ini harusnya menjadi kepekaan. Atau paling tidak sebelum RT RW, tetangganya,” kata Mi’ing.
Baca Juga: Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Kekerasan Fisik pada YBR di Ngada, Dugaan Kekerasan Psikis Didalami
Ia menambahkan bahwa membantu sesama adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih.
"Agama yang disukai oleh Allah itu, oleh Tuhan itu adalah katanya ketika Musa bertanya kepada... yang disukai bukan salat malamnya kok, bukan puasanya, tapi bantu orang lapar, kasih makan orang lapar," imbuhnya.
Kritik Penegakan Hukum: Menegakkan Benang Basah
Diskusi berkembang pada lemahnya sistem hukum yang dianggap Mi’ing sebagai salah satu penyebab kemiskinan yang berlarut di Indonesia. Ia melontarkan sebuah adagium tentang sulitnya mencari keadilan.
“Menegakkan hukum di Indonesia sama dengan menegakkan benang basah,” ucap Mi’ing.
Bahkan, ia memberikan analogi yang lebih spesifik mengenai tantangan integritas aparat penegak hukum di Indonesia saat ini.
Berita Terkait
-
Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Kekerasan Fisik pada YBR di Ngada, Dugaan Kekerasan Psikis Didalami
-
Menteri PPPA Akui Kelalaian Negara, Kasus Siswa SD NTT Bukti Perlindungan Anak Belum Sempurna!
-
Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT Diduga Sempat Dimintai Uang Sekolah, Komisi X DPR: Pelanggaran Hukum
-
Lebih Gelap dari Sekadar Tidak Punya Uang: Tragedi Anak SD di NTT
-
Pendidikan Gratis Hanya di Atas Kertas? Menyoal Pasal 31 UUD 1945 Pasca-Kasus YBR
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
Terkini
-
Antrean 1.000 Pencari Kerja di Malaysia Jadi Alarm, Indonesia Terancam Hadapi Situasi Serupa!
-
Revisi Aturan Outsourcing, Wamenaker Jamin Tak Ganggu Iklim Investasi
-
Mahasiswa Kembali Geruduk DPR, Tuntut Evaluasi Total Kabinet Merah Putih
-
Bantah Ada Operasi Politik Tekan PDIP, PKB: Kami Bukan Koordinator Koalisi!
-
Dari Ulat di Sayuran hingga Korupsi, Warga Ini Tetap Kukuh MBG Harus Jalan
-
Respons PDIP, Waketum PKB Tegaskan Istilah Partai Penyeimbang Tak Dikenal Dalam Konstitusi
-
Sekelompok Warga Jakarta Gelar Aksi Dukung MBG: Program Harus Lanjut, Koruptor Wajib Ditangkap
-
Dunia Pelototi Kasus Pembunuhan Jurnalis Rico Pasaribu: Investigasi Bongkar Kejanggalan Serius
-
DPRD DKI Gelar Rapat Paripurna HUT ke-499 Kota Jakarta
-
Polemik Ijazah Jokowi Dinilai Memperkeruh Situasi Nasional, Komunikasi Presiden Ikut Tersorot