- Kementerian Kehutanan mengusut kematian gajah di Pelalawan, Riau, menargetkan pembongkaran jaringan pemodal kejahatan satwa liar.
- Gajah jantan berumur 40 tahun ditemukan mati tanpa gading di Blok Ukui dengan dugaan kuat akibat luka tembak.
- Penyelidikan melibatkan aparat dan Gakkum Kemenhut fokus pada aktor intelektual serta memeriksa tanggung jawab konsesi PT RAPP.
Suara.com - Kementerian Kehutanan meningkatkan eskalasi penanganan kasus kematian seekor gajah Sumatra di Kabupaten Pelalawan, Riau, dengan menargetkan pembongkaran jaringan perburuan satwa liar hingga ke level pemodal dan aktor intelektual. Kasus ini dinilai bukan sekadar insiden tunggal, melainkan berpotensi terkait praktik kejahatan satwa liar yang terorganisir.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan aparat tidak akan berhenti pada pelaku lapangan. Penyelidikan saat ini diarahkan untuk mengungkap struktur jaringan yang diduga terlibat dalam pembunuhan satwa dilindungi tersebut.
"Kami tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan satwa liar. Tim kami di lapangan saat ini sedang bekerja intensif untuk mengidentifikasi jaringan pemburu ini. Fokus kami bukan hanya pelaku di lapangan, tapi hingga ke pemodal atau aktor intelektual di baliknya," kata Dirjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho dikonfirmasi dari Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Minggu.
Menurut Dwi Januanto, kejahatan terhadap satwa liar memiliki dampak luas yang melampaui kerugian ekologis semata. Ia menilai tindakan tersebut mencederai nilai-nilai kebangsaan dan keberlanjutan lingkungan hidup.
"Kejahatan terhadap satwa liar adalah kejahatan serius yang merusak ekosistem dan martabat bangsa," tambahnya.
Gajah Sumatra tersebut ditemukan mati tanpa gading di kawasan lindung Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga. Lokasi itu merupakan bagian dari kantong habitat Tesso Tenggara yang berada di dalam areal konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP). Kondisi bangkai yang tidak utuh memperkuat dugaan adanya praktik perburuan ilegal.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan gajah berjenis kelamin jantan, berusia lebih dari 40 tahun, dan diperkirakan telah mati sekitar dua pekan sebelum ditemukan. Temuan medis dari bedah bangkai mengarah pada indikasi cedera kepala berat, dengan dugaan sementara akibat luka tembak.
Sejalan dengan proses penyelidikan yang dilakukan Polres Pelalawan dan Polda Riau, Gakkum Kehutanan turut memeriksa aspek tanggung jawab pengelolaan konsesi. Tim penyidik meminta keterangan dari pihak PT RAPP untuk memastikan pemenuhan kewajiban perizinan serta perlindungan hutan dan satwa liar di wilayah konsesi perusahaan.
Kasus kematian gajah ini pertama kali dilaporkan oleh PT RAPP kepada Polres Pelalawan dan Balai Besar KSDA Riau pada Senin (2/2). Sejak itu, koordinasi lintas instansi terus diperkuat guna mempercepat pengumpulan alat bukti.
Baca Juga: Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
Sebagai tindak lanjut, tim gabungan dari Polda Riau, Balai Besar KSDA Riau, dan Gakkum Kehutanan kembali mendatangi lokasi kejadian. Langkah tersebut dilakukan untuk melengkapi kebutuhan pembuktian sekaligus memperkuat proses penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat.
Berita Terkait
-
Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
-
Jampidsus Geledah Rumah Eks Menteri dan Sejumlah Lokasi Terkait Korupsi Kemenhut
-
Pelarangan Elephant Riding: Bukti Suara Kita Punya Impact Besar pada Alam!
-
Polemik Anies dan Kemenhut: Benarkah Negara Memfasilitasi Perusakan Hutan?
-
Momen Prabowo Bertemu Raja Charles III, Konservasi Gajah Jadi Sorotan
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Dulu Naik Pohon Cari Sinyal, Kini Warga Flores Timur Bisa Internetan dari Desa
-
Ini Dia Sosok Petinggi Militer AS Diamuk Tentara di Kapal Perang USS Abraham Lincoln, 7 Tewas
-
Mengapa Donald Trump Tidak Bisa Jadi Presiden 3 Periode Amerika Serikat?
-
Jelang HUT RI, Ikon Pahlawan Solo Ini Dipoles hingga Bersih
-
Acer Aspire 7 Pro Terbaru Dibanderol Rp13,49 Juta, Bawa RTX 3050 dan 2 Slot RAM Siap Upgrade
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan