- Kejagung geledah sejumlah perusahaan di Sumatra terkait korupsi ekspor CPO.
- Sebelas tersangka ditetapkan dalam kasus rekayasa klasifikasi ekspor minyak sawit.
- Modus ekspor CPO jadi limbah rugikan negara dan manipulasi pungutan sawit.
Suara.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) menggeledah sejumlah kantor perusahaan yang diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) periode 2022-2024. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, mengonfirmasi bahwa penggeledahan dilakukan di wilayah Sumatra.
“Saat ini penggeledahan masih berlangsung di wilayah Sumatra, menyasar beberapa kantor perusahaan yang telah teridentifikasi sebelumnya. Kita tunggu saja hasilnya,” ujar Anang di Gedung Kejaksaan Agung, Kamis (12/2/2026).
Anang menjelaskan bahwa penggeledahan dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang disinyalir kuat terlibat dalam perkara ini. Lokasi penggeledahan tersebar di beberapa titik, di antaranya Pekanbaru dan Medan.
Meski demikian, Anang belum bersedia merinci barang bukti yang telah disita, termasuk mengenai temuan uang tunai di lokasi.
“Prosesnya masih berjalan. Berdasarkan penggeledahan sebelumnya, dokumen-dokumen penting sudah diamankan,” katanya.
Ia menambahkan, penyidik juga tengah melakukan penelusuran aset (asset tracing) guna memulihkan kerugian negara.
“Aset sementara ini belum ada yang disita, tetapi sedang kami telusuri. Fokus kami tidak hanya mempidanakan pelaku, tetapi juga pemulihan kerugian negara,” tegas Anang.
Sebelumnya, Kejagung telah menetapkan 11 orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan ekspor CPO dan produk turunannya, palm oil mill effluent (POME), periode 2022-2024.
Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, menjelaskan bahwa perkara ini bermula ketika pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan dan pengendalian ekspor CPO guna menjaga stok minyak goreng dan stabilitas harga di dalam negeri.
Baca Juga: Soroti Kebocoran di Bea Cukai, Thony Saut Situmorang Singgung Indeks Persepsi Korupsi
Dalam pelaksanaannya, penyidik menemukan modus rekayasa klasifikasi komoditas. CPO berkadar asam tinggi sengaja diklaim sebagai POME dengan menggunakan kode HS (Harmonized System) yang berbeda. Kode HS tersebut seharusnya diperuntukkan bagi residu atau limbah padat hasil olahan CPO.
“Rekayasa klasifikasi ini bertujuan untuk menghindari pengendalian ekspor CPO. Akibatnya, komoditas yang hakikatnya adalah CPO tetap bisa diekspor seolah-olah merupakan limbah, sehingga terbebas atau diringankan dari kewajiban negara,” jelas Syarief, Selasa (10/2/2026) malam.
Modus ini diduga didukung oleh penggunaan peta hilirisasi industri kelapa sawit yang belum berkekuatan hukum tetap, sehingga memuat spesifikasi teknis yang tidak dikenal dalam sistem internasional namun tetap dijadikan acuan aparat.
Para tersangka juga dituding sengaja meloloskan ekspor CPO untuk menghindari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta memanipulasi Bea Keluar dan Pungutan Sawit.
“Hal ini membuat pungutan yang dibayarkan jauh lebih rendah. Selain itu, ditemukan indikasi kickback atau imbalan kepada oknum pejabat negara untuk melancarkan proses administrasi dan pengawasan,” tutur Syarief.
Berikut daftar 11 tersangka yang telah ditetapkan Kejagung:
1. LHB: ASN Kementerian Perindustrian RI.
2. FJR: ASN Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
3. MZ: ASN Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Pekanbaru.
4. ES: Direktur PT SMP, PT SMA, dan PT SMS.
5. ERW: Direktur PT BMM.
6. FLX: Direktur Utama sekaligus *Head Commerce* PT AP.
7. RND: Direktur PT TAJ.
8. TNY: Direktur PT TEO dan Pemegang Saham PT Green Product International.
9. VNR: Direktur PT Surya Inti Primakarya.
10. RBN: Direktur PT CKK.
11. YSR: Dirut PT MAS dan Komisaris PT SBP.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- Baru! Viva Moisturizer Gel Hadir dengan Tekstur Ringan dan Harga Rp30 Ribuan
- 6 Tablet Murah dengan Kamera Jernih, Ideal untuk Rapat dan Kelas Online
- 5 HP Infinix Terbaru dengan Performa Tinggi di 2026, Cek Bocoran Spefikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka: Mantan Pemain Timnas Indonesia Elly Idris Meninggal Dunia
-
Cibinong Mencekam! Angin Kencang Hantam Stadion Pakansari Hingga Atap Rusak Parah
-
Detik-Detik Mengerikan! Pengunjung Nekat Bakar Toko Emas di Makassar
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
Terkini
-
Megawati Ziarah ke Makam Rasulullah di Madinah, Didoakan Langsung Imam Besar Masjid Nabawi
-
Polda Metro Jaya Bakal Kembalikan Berkas Perkara Tudingan Ijazah Palsu Usai Periksa Jokowi di Solo
-
Soroti Kebocoran di Bea Cukai, Thony Saut Situmorang Singgung Indeks Persepsi Korupsi
-
Pejabat Pajak Jadi Direksi 12 Perusahaan, Eks Penyidik KPK Sebut Ada Konflik Kepentingan
-
Bocah Nduga Tewas dan Jasadnya Diduga Dihilangkan, Theo Hesegem Laporkan ke Jakarta
-
Guru Telanjangi 22 Siswa SD di Jember, Komisi X DPR: Harus Ada Efek Jera, Bila Perlu Diberhentikan
-
Sodorkan Zulhas Dampingi Prabowo, PAN Sedang Cek Ombak atau Serius?
-
Ahmad Doli Kurnia Laporkan Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Asahan ke KPAI
-
Wamenhaj: Asrama Haji Akan Jadi 'Pusat Ekonomi Umrah', Semua Jemaah Wajib Lewat Sini!
-
Mendagri Minta Jajarannya Dukung Transformasi dan Arah Kebijakan Presiden