- Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menerima teror digital dan fisik sejak 9 Februari 2026 terkait surat kritik pada Presiden.
- Teror berupa pesan asing dan penguntitan muncul setelah BEM UGM mengkritik kegagalan perlindungan hak pendidikan anak.
- Kritik tersebut berfokus pada tragedi bunuh diri siswa NTT karena tidak mampu membeli buku seharga kurang dari satu dolar.
Suara.com - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mendapat berbagai bentuk teror oleh orang tak dikenal.
Berbagai intimidasi itu muncul setelah Tiyo melayangkan surat terbuka bernada keras kepada Direktur Eksekutif UNICEF untuk menegur Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gagal melindungi hak pendidikan warga negara.
Surat itu berkaitan dengan tragedi bunuh diri yang menimpa bocah berinisial YBS (10) di NTT dipicu oleh ketidakmampuan membeli buku dan pulpen seharga kurang dari satu dolar AS.
"Kita mendapatkan teror dalam bentuk pesan-pesan dari nomor yang tidak dikenal, tetapi kontaknya adalah kontak Inggris Raya," ungkap Tiyo saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
Tiyo mengungkapkan bahwa intimidasi tersebut dilakukan melalui pesan singkat dari sedikitnya enam nomor telepon berbeda. Uniknya, nomor-nomor yang digunakan terlacak menggunakan kode negara asing.
"Jadi kontaknya kontak asing. Maka saya heran kalau ada beberapa buzzer yang mengatakan kita antek asing. Lho, wong yang nyerang teror kita justru nomornya nomor asing, kok kita malah antek asing," ucapnya.
"Jangan-jangan antek asing adalah mereka yang nyuruh orang-orang ini supaya neror kita," imbuhnya.
Bentuk ancaman yang diterima Tiyo sangat beragam bahkan menjurus pada tindak kriminal. Ia mengungkap bahwa berbagai teror itu diterima sejak Selasa (9/2/2026) lalu dan berlangsung hingga sekarang.
"Ada ancaman penculikan, ada ancaman, untuk katanya membuka aib. Sampai sekarang masih [ada teror]," tuturnya.
Baca Juga: DPR Kecam Keras Teror Terhadap Ketua BEM UGM: Itu Praktik Pembungkaman
Tak hanya di ruang siber, intimidasi juga merambah ke dunia nyata melalui aksi penguntitan. Tiyo menceritakan pengalaman pribadinya saat dibuntuti oleh orang tidak dikenal ketika sedang berada di sebuah kedai.
"Ada juga pengalaman sempat diuntit. Dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita tidak baik-baik saja," ungkapnya.
Menurut Tiyo, rangkaian serangan ini sebagai bentuk ketidakmampuan pihak tertentu dalam merespons kritik secara sehat. Sehingga kemudian bermanifestasi menjadi ancaman fisik dan digital.
"Teror ini adalah bahasa kekuasaan yang gagal menjelaskan pikirannya. Bagi kami, orang yang cinta pada bangsanya, apa pun ekspresinya harus dilindungi, tidak boleh dianggap sebagai ancaman," tegasnya.
Ia berharap teror dan penguntitan yang dialaminya menjadi peristiwa terakhir dan tidak menimpa aktivis atau lembaga lain yang sedang memperjuangkan keadilan.
"Di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam dirinya sebagai warga negara," tandasnya.
Berita Terkait
-
DPR Kecam Keras Teror Terhadap Ketua BEM UGM: Itu Praktik Pembungkaman
-
Israel Resmi Gabung BoP, Pakar UGM Sebut Indonesia Terjebak Diplomasi 'Coba-Coba' Berisiko Tinggi
-
Tanah Bergerak di Tegal Disebut Bakal Berulang, Pakar Geologi UGM: Tak Layak Huni, Cari Lokasi Baru!
-
Program Makan Bergizi Gratis Tuai Pujian UNICEF: Jangkau 60 Juta Orang, Sasar Masa Depan Papua
-
Kewenangan Polri Terlalu Luas? Guru Besar UGM Desak Restrukturisasi Besar-Besaran
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Iran Tolak Buka Selat Hormuz Meski Diancam AS, Harga Minyak Naik Tipis
-
CORE Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen dalam Asumsi APBN Terlalu Optimistis
-
Traveling Makin Praktis, Sewa Mobil Kini Bisa Dipesan Lewat Aplikasi
-
Gempa Bumi Flores, BRI Prioritaskan Keselamatan Nasabah dan Pekerja: BRI Peduli Salurkan Bantuan
-
Apakah Anak-Anak Perlu Sunscreen? Ini Jawaban dan Panduan Memilihnya
-
Di Tengah Gempa Bumi Flores, BRI Jaga Layanan Perbankan dan Pastikan Bantuan BRI Peduli Hadir
-
Bareskrim Ungkap Modus Pengolahan Emas Ilegal di Apartemen Sunter
-
BRI Pastikan Bantuan BRI Peduli Hadir Cepat Untuk Korban Gempa Bumi Flores
-
Loki Season 1: Petualangan Multiverse yang Mengubah Karakter Sang Dewa Penipu
-
5 Perbedaan Serum Retinol vs Bakuchiol, Mana yang Aman untuk Kulit Sensitif?