- Kerusakan masif di Desa Padasari, Tegal, disebabkan oleh fenomena rayapan tanah yang bergerak lambat dan membuat pemukiman tidak layak huni.
- Analisis menunjukkan dasar tanah mengandung lempung biru ekspansif yang mengembang delapan kali lipat saat jenuh air, kehilangan daya dukung.
- Relokasi menjadi solusi rasional karena pergerakan tanah bersifat siklus; penentuan lokasi baru wajib didukung penelitian geologi mendalam.
Suara.com - Kerusakan masif akibat tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memicu pertanyaan besar mengenai masa depan pemukiman di wilayah tersebut.
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa wilayah terdampak sudah tidak layak lagi untuk dihuni.
Ia menggambarkan kondisi bawah tanah di lokasi tersebut kini menyerupai "pasta gigi" atau odol yang kehilangan daya dukung akibat kejenuhan air.
Fenomena rayapan tanah ini berbeda dengan longsor cepat tapi bergerak pelan menghancurkan bangunan di atasnya.
"Itu sebetulnya rayapan tanah. Bedanya dengan longsoran, rayapan tanah itu pelan-pelan, tidak membunuh tetapi merusak jalan, merusak jembatan, merusak infrastruktur, merusak rumah," kata Dwikorita saat dihubungi, Selasa (10/2/2026).
"Yang bahaya itu kalau merusak rumah, rumahnya bisa terpotong turun sebagian dan rumahnya bisa ambruk. Nah, ambruknya rumah itu yang bisa membunuh. Jadi bukan karena rayapan. Jadi yang di Tegal itu tipenya rayapan karena pergerakannya lambat," tambahnya.
Karakteristik "Lempung Biru"
Dipaparkan Dwikorita, analisis menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki lapisan lempung berwarna abu-abu kebiruan atau dikenal sebagai lempung biru.
Lapisan ini mengandung mineral montmorillonite yang memiliki sifat ekspansif luar biasa. Volumenya dapat membengkak drastis saat terpapar atau menyerap air.
Baca Juga: Soroti Mulusnya Jalan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Pakar UGM: Cacat Prosedur dan Tak Transparan
"Itu jenis lempung yang apabila kena air bisa mengembang, volumenya berkembang bisa sampai delapan kali lipat dari volume awal. Bahasa Jawanya itu jadi mlenyok ya. Jadi seperti pasta gigi," paparnya.
Eks Kepala BMKG ini menjelaskan bahwa saat lapisan lempung ini jenuh air akibat curah hujan yang tinggi, tanah tersebut kehilangan daya dukung dan berubah tekstur menjadi sangat lunak.
Hal inilah yang menyebabkan bangunan di atasnya seolah bergerak atau amblas mengikuti pergerakan lapisan di bawahnya.
"Karena lempung itu jenuh air, saat jenuh air dia menjadi seperti pasta gigi. Dampaknya apa? Kehilangan kekuatan seperti odol dan lempung itu sering terkubur di atas tanah yang bergerak tadi," tambahnya.
Faktor Pemicu dan Beban Bangunan
Selain faktor geologi murni, kata Dwikorita, meningkatnya intensitas hujan serta beban bangunan di atas lahan yang labil turut menjadi pemicu percepatan pergerakan tanah. Perubahan iklim yang membawa curah hujan lebih lebat melampaui kapasitas stabilitas tanah yang ada.
Berita Terkait
-
7 Fakta Bencana Tanah Bergerak di Tegal, 804 Warga Mengungsi
-
Respons Cepat Kemensos, Bantuan dan Dapur Umum Disiapkan untuk Korban Bencana di Tegal
-
Kewenangan Polri Terlalu Luas? Guru Besar UGM Desak Restrukturisasi Besar-Besaran
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
-
Soroti Mulusnya Jalan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Pakar UGM: Cacat Prosedur dan Tak Transparan
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki
-
Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu
-
Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari
-
Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta
-
Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta
-
5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!
-
Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan
-
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi
-
Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif
-
HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno