- Mualaf Kukuh (34 tahun) berpuasa pertama kali karena rasa penasaran dan mendapati tantangan bangun sahur.
- Agatha (28 tahun) mengenal Islam melalui lingkungan multikultural dan antusias menantikan momen silaturahmi keluarga.
- Bayu (30 tahun) memilih Islam karena ingin menikah dengan pasangan Muslim, menantikan kegiatan berburu takjil.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan ritme puasa di keyakinan sebelumnya, namun tetap menemukan keunikan tersendiri dalam syariat Islam.
"Sebenarnya puasa di agama yang sebelumnya ada, malah seharian puasanya. Jadi kalau puasa sih udah terbiasa. Tapi kalau sekarang, puasa yang mungkin buat berkesan karena ada sahur dan menjelang berbuka. Soalnya dari dulu emang suka banget ikut ngabuburit nyari takjil," jelas Agatha.
Bagi Agatha, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah individu, melainkan momen perekat tali silaturahmi dengan orang-orang terkasih.
Ia sudah membayangkan kemeriahan hari kemenangan dan kehangatan berkumpul bersama keluarga besar di penghujung bulan suci nanti.
"Momen buka bersama sama keluarga atau teman, war takjil, tarawih berjamaah di masjid, Lebaran dan silahturahmi, di mana semua anggota keluarga dan orang-orang kumpul saling bermaafan, dan yang terakhir menu Ramadan kaya ketupat, opor atau gulai ayam, rendang, sambal goreng ati, dan kue-kue kering," kisahnya.
Tak hanya Agatha dan Kukuh, antusiasme serupa juga dirasakan oleh Bayu. Berbeda dengan yang lain, perjalanan lelaki 30 tahun menuju mualaf bermula dari niat tulus untuk membangun rumah tangga.
"Gara-gara dapet ilham pengen nikah aja sih, karena pasangan saya Muslim," akunya.
Menghadapi Ramadan perdana, Bayu merasa tidak terlalu terkejut dengan ritme ibadah puasa karena suasana toleransi sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak lama.
Selain faktor lingkungan, latar belakang agamanya terdahulu juga memberinya bekal kedisiplinan dalam menahan diri.
Baca Juga: Gus Ipul Ajak ASN Kemensos Turun Ground Check DTSEN
"Di Katolik juga pas Paskah, ada pantang pas mau Paskah. Itu mirip-mirip kek puasa," tambahnya.
Hal yang paling dinanti Bayu di Ramadan tahun ini adalah tradisi berburu kudapan berbuka karena akan menjalaninya sebagai pelaku ibadah, bukan sekadar penggembira.
"Nyari takjil sih. Dari dulu udah sering ikut, dan kayaknya seru aja karena sekarang nyari takjilnya beneran buat buka puasa," pungkas Bayu dengan antusias.
Perjalanan spiritual Kukuh, Agatha, dan Bayu menjadi bukti bahwa Ramadan selalu membawa warna dan cerita baru bagi setiap hamba yang menjalaninya dengan hati yang tulus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi
-
LPDB Koperasi Terapkan Zero Tolerance Pungli dan Penipuan, Pelanggaran Diproses Tegas Secara Hukum
-
Transportasi Jerman Lumpuh Akibat Gelombang Panas, Jalan Tol Retak-retak
-
Aset Ketum Pemuda Pancasila Disita KPK, Diduga Berkaitan dengan Gratifikasi Korupsi Batu Bara
-
Italia Siaga Gelombang Panas, 4 Orang Sudah Jadi Korban Tewas
-
Di Tengah Gejolak Global, Jawa Tengah Tetap Jadi Magnet Investasi
-
Panas Lagi, Iran Ancam Kembali Tutup Selat Hormuz
-
Bupati dan Sekda Kuansing Serahkan Diri ke KPK
-
Korban Tewas Gempa Bumi Venezuela Hampir 2.000 Jiwa, Puluhan Ribu Orang Hilang
-
Israel Siap Bom Iran Lagi di Tengah Usaha AS Berdamai