- Dokter anak berkumpul di Jakarta mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk solidaritas atas pemecatan dan mutasi empat anggota IDAI.
- Aksi ini merupakan respons atas penolakan IDAI terhadap intervensi Kemenkes dalam pembentukan kolegium profesi yang seharusnya independen.
- IDAI menuntut pembatalan keputusan mutasi dan pemberhentian keempat dokter anak tersebut serta pengembalian ke posisi semula.
Suara.com - Sejumlah dokter anak dari seluruh Indonesia berkumpul bersama di Jakarta sembari mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap empat anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dimutasi hingga dipecat sebagai ASN oleh pemerintah.
Tindakan itu sebagai respons penolakan mereka terhadap keterlibatan Kementerian Kesehatan dalam pembentukan kolegium profesi kedokteran yang seharusnya independen.
"Kita mengenakan pakaian hitam karena memang sedang berkabung, khususnya IDAI," ujar Ketua Umum Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia Aryono Hendarto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Ia menuturkan bahwa ada empat anggota IDAI yang dimutasi hingga dipecat dari tempat kerjanya yaitu, dokter Piprim Basarah Yanuarso, dokter Hikari Ambara Sjakti, dokter Fitri Hartanto, dan dokter Risky Ardiansyah.
Menurut Aryono, sikap kritis keempat dokter itu sekadar untuk menunjukkan integritas organisasi dan profesi mereka.
"Mereka mencoba untuk menjaga marwah kolegium yang memang mempunyai tugas untuk menjaga kualitas pendidikan, standard pendidikan yang ujung-ujungnya untuk menjaga keselamatan pasien," tuturnya.
Kegiatan berkumpul itu turut dihadiri beberapa organisasi profesi dokter spesialis lainnya, seperti Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Perhimpunan Dokter Spesialis penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), serta Ikatan Alumni FKUI.
Solidaritas itu, kata Aryono, menunjukan kalau persoalan mutasi dan pemecatan sepihak itu bukan hanya menjadi masalah internal IDAI.
"Ini menunjukkan bahwa sebenarnya ini bukan hanya masalah internal IDAI, ini bukan masalah memilah satu-satu personal, tapi ini adalah masalah semua profesi yang bisa menimpa siapapun di kemudian hari," ucapnya.
Dalam momentum yang sama, pengurus IDAI juga menyampaikan pernyataan sikap yang ditujukan kepada Kementerian Kesehatan dengan tuntutan utama berupa segera batalkan seluruh keputusan mutasi dan pemberhentian yang dinilai tidak berdasar hukum serta kembalikan para dokter anak ke tempat pengabdian semula.
Baca Juga: Bukan Soal Beda Pendapat, Menkes Ungkap Alasan dr. Piprim Dipecat
Berikut pernyataan sikap tuntutan utama yang disampaikan:
Kami menuntut pemulihan penuh status kepegawaian dan dikembalikan ke tempat kerja semula bagi:
1. Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), ahli jantung anak di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta
2. Dr. dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A(K), ahli hematologi-onkologi anak di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta
3. Dr. dr. Fitri Hartanto, Sp.A(K), ahli tumbuh kembang anak di RS Karyadi, Semarang
4. Dr. dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), ahli jantung anak di RS Adam Malik, Medan
Berita Terkait
-
Baik Bagi Jiwa, Kemenkes Paparkan Puasa Ramadan Bisa Redakan Stres dan Kesehatan Mental
-
Kemenkes Bangun 66 RS Tipe C di Daerah Terpencil, Apa Saja Fasilitas Canggihnya?
-
Waspada Virus Nipah Mengintai! Kemenkes Ingatkan Jangan Konsumsi Nira Aren Segar dari Pohon
-
IDAI Ingatkan Lonjakan Penyakit Anak di Musim Hujan: Waspada Super Flu hingga Bahaya Zat Kimia
-
Musim Hujan Makin Panjang, IDAI Ingatkan Orang Tua Jangan Paksa Anak Sakit ke Sekolah
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global
-
Kejati Jakarta Sita Sejumlah Dokumen Usai Geledah Ruangan Dirjen SDA dan Cipta Karya Kementerian PU
-
Diperiksa KPK, Haji Her Bantah Kenal Tersangka Korupsi Bea Cukai
-
Lift Mati Saat Blackout, 10 Penumpang MRT Lebak Bulus Dievakuasi Tanpa Luka
-
Ada Nama Riza Chalid, Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Dugaan Korupsi Petral
-
Al A'Raf: Panglima TNI dan Menhan Harus Diminta Pertanggungjawaban di Kasus Andrie Yunus
-
PLN Buka Suara Soal Listrik Padam di Jakarta, Begini Katanya
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Nostalgia Masa Kecil Rano Karno, Trem Bakal Hidup Lagi di Kawasan Kota Tua Jakarta
-
Pramono Bantah Isu IKJ Pindah ke Kota Tua, Siapkan Ruang Ekspresi Seni ala Amsterdam