- Mahfud MD mengecam Dwi Tyas yang bangga anaknya menjadi WNA setelah menikmati fasilitas negara, menunjukkan kekecewaan mendalam.
- Mahfud MD mendukung sanksi seperti pencabutan beasiswa dan *blacklist* bagi Dwi Tyas atas pernyataan yang dianggap melecehkan Indonesia.
- Mahfud MD mengingatkan pemerintah bahwa sikap Dwi Tyas dapat merefleksikan kegagalan negara mengayomi rakyatnya dari masalah birokrasi dan hukum.
Suara.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD angkat bicara terkait viralnya seorang ibu muda, Dwi Sasetyaningtyas (Dwi Tyas), yang secara terang-terangan menyatakan kebanggaannya atas status kewarganegaraan anaknya yang menjadi Warga Negara Asing (WNA).
Pernyataan Dwi yang menyebut, “Cukup saya saja yang jadi WNI, anak saya tidak usah,” memicu reaksi keras dari publik, termasuk dari Mahfud MD. Tokoh hukum tata negara itu mengaku marah dan kecewa atas sikap tersebut, terlebih karena Dwi Tyas dinilai telah banyak menikmati fasilitas negara, termasuk pendidikan.
“Ketika saya mendengar itu, saya ikut marah. Sebagai warga negara Indonesia yang telah mencicipi nikmatnya Indonesia ini, bisa bersekolah, lalu dia melecehkan Indonesia di depan publik dengan begitu parah. Itu sangat menyakitkan bagi kita,” ujar Mahfud MD dalam sebuah tayangan bincang-bincang baru-baru ini.
Ia kembali menegaskan kemarahannya dalam pernyataan lain. “Pertama ketika saya mendengar itu saya ikut marah tentu saja ya sebagai warga negara Indonesia yang telah mencicipi nikmatnya Indonesia ini sesudah merdeka sehingga bisa menyekolahkan orang juga. Saya mendengar itu marah dan itu bertentangan dengan prinsip yang sering kita nyatakan di forum ini selalu jangan pernah lelah mencintai Indonesia,” ujar Mahfud MD dalam kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (25/2/2026).
Mahfud MD, yang kerap menggaungkan pesan “Jangan pernah lelah mencintai Indonesia,” menilai sikap emosional Dwi Tyas sangat keliru dan bertentangan dengan prinsip nasionalisme. Ia bahkan secara tegas mendukung wacana pemberian sanksi kepada yang bersangkutan.
“Kita salahkanlah Dwi Tyas itu mengatakan gitu. Cabut beasiswanya suruh ganti, saya setuju blacklist,” tegasnya.
Meski mengecam tindakan Dwi Tyas, Mahfud MD mengingatkan publik dan penyelenggara negara agar tidak sekadar meluapkan kemarahan. Ia menilai fenomena memudarnya rasa cinta Tanah Air juga bisa menjadi cerminan kegagalan negara dalam mengayomi rakyatnya.
Mahfud menyebut, sikap Dwi Tyas tak lepas dari rasa putus asa terhadap kondisi birokrasi dan hukum di Indonesia. Pemerintah, menurutnya, dinilai semakin kebal terhadap kritik dan enggan melakukan perbaikan.
“Kita juga harus sadar dirilah. Pemerintah pengelola negara ini kan dia katakan kenapa dia melakukan itu? Karena perkembangan terakhir nampaknya membuat putus asa,” ungkapnya.
Baca Juga: Berapa Gaji Arya Iwantoro di Inggris? Setuju Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Ia kemudian menjabarkan berbagai realitas yang kerap dihadapi masyarakat, mulai dari sulitnya mencari lapangan pekerjaan, maraknya praktik pemerasan, hingga persoalan penegakan hukum, di mana putusan pengadilan yang sudah inkrah masih dapat dipermainkan.
“Kesetiaan kepada republik ini akan luntur, rasa cinta kepada bangsa ini akan menjadi hilang secara pelan-pelan kalau negara ini tidak mampu mengayomi rakyatnya, memfasilitasi rakyatnya untuk menikmati hak-hak hidupnya secara wajar sesuai dengan yang tersedia di Indonesia,” paparnya.
Di sisi lain, Mahfud juga mengakui bahwa secara rekam jejak, Dwi Tyas merupakan sosok yang cerdas dan kerap menyampaikan kritik serta solusi konstruktif untuk Indonesia melalui media sosialnya.
“Instagram atau medsos yang digawangi sendiri oleh Dwi Tyas ini bagus-bagus kok, kalau kita untuk Indonesia kan bagus-bagus kecintaannya kepada Indonesia tinggi,” jelasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
- 17 Kode Redeem FF 25 Agustus 2026: Kesempatan Dapat Voucher dan Skin Senjata Terbaru
- Waduk Jatigede Surut, Warga Sumedang Manfaatkan Lahan untuk Bertani
Pilihan
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
-
Sibuk Padamkan Api Saat Kebakaran, Akademisi Sebut Negara Pelit Cegah Karhutla
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
Terkini
-
Water Bombing Rp100 Juta per Jam, Kalau Api di Konsesi Perusahaan Siapa yang Bayar?
-
DPR Janjikan RUU Perampasan Aset Rampung Desember, AMPB Mau Bukti Tertulis
-
Tangani Dampak Gempa NTT, Mendagri Tito Pastikan Layanan Adminduk Hingga Bantuan Presiden Berjalan
-
Panas! Disindir Dicariin Masyarakat, Kiky Saputri Sebut Barisan Sakit Hati Pilpres
-
Demo di Depan DPR Besok, Polda Metro Jaya Sebut Belum Ada Surat Pemberitahuan yang Masuk
-
European Leagues Desak Gianni Infantino Mundur dari Presiden FIFA
-
Survei Tempo: Politik Dinasti Keluarga Pejabat Hal yang Wajar
-
Demi Putranya yang Autisme, Ibu ini Membuat Tato Keyboard di Tangannya
-
Teknologi Mengubah Cara Belajar, Guru Kini Jadi Inovator di Era Digital
-
Empat Kali Ditangkap! Ini Garis Waktu Kasus Narkoba Revaldo: Penjara Tak Membuat Kapok