News / Internasional
Rabu, 04 Maret 2026 | 08:55 WIB
Dubes AS di Arab Saudi sebelum ledakan [Ist]
Baca 10 detik
  • Iran meledakkan stasiun CIA di Kedutaan Besar AS Riyadh pada Senin (2/3/2026) sebagai balasan atas pelacakan lokasi Ayatollah Khamenei.
  • Serangan drone tersebut merusak parah fasilitas CIA, menyebabkan atap runtuh dan kontaminasi asap pekat di kompleks tersebut.
  • Insiden ini terjadi di tengah upaya AS mempersenjatai militan Kurdi untuk memicu pemberontakan pasca kematian pemimpin tertinggi Iran.

Suara.com - Iran dilaporkan telah meledakkan sebuah stasiun CIA yang berlokasi di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi.

Serangan ini terjadi di tengah laporan bahwa agen intelijen Amerika tersebut sedang aktif mempersenjatai kelompok militan untuk memicu pemberontakan besar terhadap rezim Islam di Teheran.

Sebuah drone yang diduga kuat milik Iran menghantam fasilitas rahasia CIA di ibu kota Arab Saudi tersebut pada Senin (2/3/2026).

Insiden mematikan ini terjadi hanya berselang dua hari setelah badan intelijen tersebut berhasil melacak lokasi Ayatollah Ali Khamenei, yang berujung pada serangan mematikan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Serangan terhadap jantung intelijen AS di Riyadh ini dianggap sebagai pesan balasan langsung dari Teheran.

Berdasarkan peringatan internal Departemen Luar Negeri AS yang bocor ke publik, serangan drone tersebut menyebabkan dampak yang cukup parah.

Laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa serangan Teheran telah membuat bagian atap stasiun tersebut 'collapsed' dan menyebabkan seluruh kompleks 'contaminated' oleh asap pekat.

Selain kerusakan pada bagian atap, fasilitas tersebut juga mengalami 'structural damage' yang signifikan.

Segera setelah ledakan terjadi, seluruh personel yang berada di dalam kompleks kedutaan diinstruksikan untuk 'shelter in place' atau berlindung di lokasi demi menghindari serangan susulan.

Baca Juga: Namanya Zahra Azadpour Ditembak Mati di Teheran dan Aksi Diam Timnas Putri Iran

Hingga laporan ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat dan Arab Saudi telah mengonfirmasi bahwa dua drone menghantam kompleks kedutaan, namun keduanya sempat merahasiakan bahwa stasiun CIA menjadi target utama yang terdampak.

Hingga saat ini belum ada indikasi adanya korban jiwa dari pihak personel CIA.

Bagi rezim di Teheran, CIA telah lama dianggap sebagai musuh bebuyutan. Kebencian ini berakar dalam sejarah panjang upaya terselubung agen mata-mata tersebut untuk merongrong kepemimpinan di Iran.

Salah satu catatan kelam yang paling diingat adalah peran CIA bersama MI6 Inggris dalam mengatur kudeta Iran tahun 1953, yang berujung pada penggulingan pemimpin Iran yang terpilih secara demokratis saat itu.

Serangan terbaru di Riyadh ini juga terjadi saat CIA dilaporkan tengah bekerja keras mempersenjatai militan Kurdi di dalam wilayah Iran.

Langkah ini diambil untuk memicu pemberontakan rakyat segera setelah kematian sang Ayatollah. Upaya intelijen Amerika untuk memanfaatkan faksi Kurdi ini dinilai sebagai salah satu ancaman eksistensial paling nyata bagi kelangsungan rezim di Teheran saat ini.

Load More