News / Internasional
Rabu, 04 Maret 2026 | 08:55 WIB
Dubes AS di Arab Saudi sebelum ledakan [Ist]
Baca 10 detik
  • Iran meledakkan stasiun CIA di Kedutaan Besar AS Riyadh pada Senin (2/3/2026) sebagai balasan atas pelacakan lokasi Ayatollah Khamenei.
  • Serangan drone tersebut merusak parah fasilitas CIA, menyebabkan atap runtuh dan kontaminasi asap pekat di kompleks tersebut.
  • Insiden ini terjadi di tengah upaya AS mempersenjatai militan Kurdi untuk memicu pemberontakan pasca kematian pemimpin tertinggi Iran.

Di Washington, para pejabat tinggi Gedung Putih dikabarkan terus menjalin diskusi aktif dengan para pemimpin Kurdi di Irak.

Fokus utama pembicaraan tersebut adalah pemberian dukungan militer guna menggempur kekuatan rezim dari dalam. Militan Kurdi Iran diketahui memiliki ribuan tentara di sepanjang perbatasan Irak-Iran, dengan basis dukungan kuat di wilayah Kurdistan, Irak Utara.

Sejak jatuhnya Saddam Hussein pada tahun 2003, wilayah semi-otonom ini telah menjadi tempat perlindungan bagi kelompok Kurdi lokal yang menjadi ancaman militer bagi Iran.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah meluncurkan puluhan serangan drone ke kelompok-kelompok ini sejak konflik pecah pada hari Sabtu.

Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump dilaporkan telah berbicara langsung dengan presiden Partai Demokrat Kurdistan Iran, salah satu kelompok oposisi utama yang menjadi target militer Teheran.

Kelompok Muslim Sunni ini dikenal telah lama terlibat dalam perang gerilya melawan militer Iran dan IRGC. Langkah Trump ini menegaskan posisi AS yang kini terang-terangan mendukung upaya penggulingan kekuasaan di Teheran.

Serangan terhadap stasiun CIA ini merupakan bagian dari efek domino 'Operation Epic Fury' yang diluncurkan AS dan Israel akhir pekan lalu.

Kampanye militer gabungan tersebut berhasil melumpuhkan banyak pimpinan puncak Iran setelah pembicaraan diplomatik Donald Trump mengalami kegagalan total pada minggu sebelumnya.

Meskipun Ayatollah Ali Khamenei telah tiada, pemerintah Islam di Teheran tampaknya masih memegang kendali atas negara tersebut. Namun, eskalasi perang kini telah meluas ke seluruh penjuru Timur Tengah. Kota-kota di Israel serta beberapa sekutu Teluk mulai mengalami serangan drone dan rudal dari Iran.

Baca Juga: Namanya Zahra Azadpour Ditembak Mati di Teheran dan Aksi Diam Timnas Putri Iran

Amerika Serikat telah merespons dengan gelombang serangan udara yang ditujukan untuk melumpuhkan pangkalan militer dan sisa-sisa kepemimpinan Iran.

Akibat situasi yang kian tak terkendali, Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan keberangkatan personel non-darurat dari kedutaan mereka di Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Hingga saat ini, tercatat enam tentara Amerika tewas dalam 'Operation Epic Fury', sementara hampir dua lusin lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit akibat luka-luka.

Load More