- Iran meledakkan stasiun CIA di Kedutaan Besar AS Riyadh pada Senin (2/3/2026) sebagai balasan atas pelacakan lokasi Ayatollah Khamenei.
- Serangan drone tersebut merusak parah fasilitas CIA, menyebabkan atap runtuh dan kontaminasi asap pekat di kompleks tersebut.
- Insiden ini terjadi di tengah upaya AS mempersenjatai militan Kurdi untuk memicu pemberontakan pasca kematian pemimpin tertinggi Iran.
Suara.com - Iran dilaporkan telah meledakkan sebuah stasiun CIA yang berlokasi di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi.
Serangan ini terjadi di tengah laporan bahwa agen intelijen Amerika tersebut sedang aktif mempersenjatai kelompok militan untuk memicu pemberontakan besar terhadap rezim Islam di Teheran.
Sebuah drone yang diduga kuat milik Iran menghantam fasilitas rahasia CIA di ibu kota Arab Saudi tersebut pada Senin (2/3/2026).
Insiden mematikan ini terjadi hanya berselang dua hari setelah badan intelijen tersebut berhasil melacak lokasi Ayatollah Ali Khamenei, yang berujung pada serangan mematikan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Serangan terhadap jantung intelijen AS di Riyadh ini dianggap sebagai pesan balasan langsung dari Teheran.
Berdasarkan peringatan internal Departemen Luar Negeri AS yang bocor ke publik, serangan drone tersebut menyebabkan dampak yang cukup parah.
Laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa serangan Teheran telah membuat bagian atap stasiun tersebut 'collapsed' dan menyebabkan seluruh kompleks 'contaminated' oleh asap pekat.
Selain kerusakan pada bagian atap, fasilitas tersebut juga mengalami 'structural damage' yang signifikan.
Segera setelah ledakan terjadi, seluruh personel yang berada di dalam kompleks kedutaan diinstruksikan untuk 'shelter in place' atau berlindung di lokasi demi menghindari serangan susulan.
Baca Juga: Namanya Zahra Azadpour Ditembak Mati di Teheran dan Aksi Diam Timnas Putri Iran
Hingga laporan ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat dan Arab Saudi telah mengonfirmasi bahwa dua drone menghantam kompleks kedutaan, namun keduanya sempat merahasiakan bahwa stasiun CIA menjadi target utama yang terdampak.
Hingga saat ini belum ada indikasi adanya korban jiwa dari pihak personel CIA.
Bagi rezim di Teheran, CIA telah lama dianggap sebagai musuh bebuyutan. Kebencian ini berakar dalam sejarah panjang upaya terselubung agen mata-mata tersebut untuk merongrong kepemimpinan di Iran.
Salah satu catatan kelam yang paling diingat adalah peran CIA bersama MI6 Inggris dalam mengatur kudeta Iran tahun 1953, yang berujung pada penggulingan pemimpin Iran yang terpilih secara demokratis saat itu.
Serangan terbaru di Riyadh ini juga terjadi saat CIA dilaporkan tengah bekerja keras mempersenjatai militan Kurdi di dalam wilayah Iran.
Langkah ini diambil untuk memicu pemberontakan rakyat segera setelah kematian sang Ayatollah. Upaya intelijen Amerika untuk memanfaatkan faksi Kurdi ini dinilai sebagai salah satu ancaman eksistensial paling nyata bagi kelangsungan rezim di Teheran saat ini.
Berita Terkait
-
Peluang Timnas Indonesia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Tertutup Rapat Karena Ini
-
Menlu Sugiono Jawab Desakan Publik Agar Indonesia Keluar dari Board of Peace
-
Sujiwo Tejo Sebut Perang Sekarang Hanya Pesta Kembang Api: Pengecut!
-
Prabowo Jadi Mediator? RI Mulai Jalin Komunikasi Rahasia dengan Iran dan Amerika Serikat
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi AS, Indonesia Tetap Tawarkan Diri Jadi Mediator
Terpopuler
Pilihan
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
Terkini
-
BPJS Kesehatan Tegaskan Layanan JKN Sudah Sesuai Prinsip Syariah
-
Menlu Sugiono Jawab Desakan Publik Agar Indonesia Keluar dari Board of Peace
-
Prabowo Jadi Mediator? RI Mulai Jalin Komunikasi Rahasia dengan Iran dan Amerika Serikat
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi AS, Indonesia Tetap Tawarkan Diri Jadi Mediator
-
Junaedi Saibih Divonis Bebas dalam Kasus Suap Vonis Korupsi Ekspor CPO
-
Tinggalkan Istana Usai Pertemuan: AHY Antar SBY, Gibran Satu Mobil Bareng Jokowi
-
Benarkah Gaji Nakes Jakarta Mandek 10 Tahun? Ini Duduk Perkaranya
-
Analis: Iran di Atas Angin, Ini Sebabnya
-
Meski Kehilangan Istri, Haji Suryo Tanggung Penuh Biaya dan Sekolah Korban Kecelakaan
-
Jaringan Perburuan Gajah Sumatera Dibongkar, Kadiv Humas: 15 Tersangka Diamankan!