-
Perang AS-Israel lawan Iran memicu lonjakan harga BBM dan tarif listrik di Inggris.
-
Menteri Keuangan memperingatkan inflasi 5 persen dan potensi resesi akibat gangguan Selat Hormuz.
-
Tagihan energi rumah tangga diprediksi membengkak hingga melampaui angka £2.000 per tahun.
Suara.com - Serangan militer AS-Israel ke Iran membuat sejumlah negara di dunia di ambang krisis ekonomi. Inggris menjadi salah satu negara yang terancam atas perang di Timur Tengah tersebut.
Melansir dari laporan Dailymail, harga bensin dan pemakaian listri di Inggris melonjak, sementara suku bunga KPR ikut terdorong, memicu kekhawatiran inflasi meningkat.
Harga minyak mentah sempat menyentuh $120 per barel, sebelum berfluktuasi di bawah $90 pada perdagangan malam hari.
“Konsumen membayar harga dari serangan berani AS dan Israel terhadap Iran,” ujar Susannah Streeter dari Wealth Club.
Kenaikan harga energi diperkirakan membuat tagihan listrik dan gas rumah tangga melewati £2.000 per tahun pada musim panas.
Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, memperingatkan, “Perang ini kemungkinan besar memberi tekanan naik pada inflasi,” yang diperkirakan mencapai 5 persen.
Perdana Menteri Keir Starmer menambahkan, “Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar dampaknya bagi ekonomi dan kehidupan rumah tangga serta bisnis di seluruh negeri.”
Ahli ekonomi memperingatkan risiko resesi karena gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan seperlima minyak dunia.
Harga gas Eropa kini mencapai $170 per therm, lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum perang.
Baca Juga: Vladimir Putin Dukung Mojtaba Khamenei, Pastikan Rusia Tetap Jadi Mitra Iran
RAC melaporkan, harga bensin naik 5p per liter dan diesel 9p, sementara biaya pinjaman pemerintah meningkat, membatasi ruang fiskal pemerintah untuk mengurangi beban keluarga.
Ekonom Deutsche Bank, Sanjay Raja, menilai, “Ini merupakan gelombang baru dalam krisis biaya hidup yang sedang berlangsung,” sementara Martin Beck dari WPI Strategy memperingatkan, “Ekonomi bisa stagnan atau bahkan memasuki resesi.”
AS menegaskan kendali Selat Hormuz tetap aman, namun ketegangan regional terus memicu volatilitas harga energi global, yang langsung terasa di kantong masyarakat Inggris dan dunia.
Kontributor: Adam Ali
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
Kronologis Lengkap Penumpang Muslim Ditangkap SWAT Gegara Timer Buka Puasa di Kabin Pesawat
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Vladimir Putin Dukung Mojtaba Khamenei, Pastikan Rusia Tetap Jadi Mitra Iran
-
Mendagri Larang Kepala Daerah 'Pelesiran' ke Luar Negeri Saat Lebaran, Pramono: Saya di Jakarta Saja
-
Harga Minyak Tembus 100 Dolar, DPR Dukung Mendagri Minta Kepala Daerah Siaga Lebaran
-
BRIN Temukan Spesies Baru Keong Dayangmerindu, Hanya Ada di Sumatera Selatan
-
Ini Alasan KPK Periksa Ketum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno
-
Sikat Terminal Bayangan di Pasar Rebo, Petugas Gabungan Beri Sanksi ke 6 Bus AKAP Bandel
-
Mojtaba Khamenei Resmi Pimpin Iran, Hezbollah: Musuh-musuh Iran Akan Gemetar
-
Kantor Media Dibakar Buntut Berita Bias Kasus Pembunuhan Sadis Aktivis Anti Pemerintah